@f_alsbai503: #تصميمي_المتواضع #اخوكم_فيصل #تصويري #كسبلور_explor

فيصل السبيعي
فيصل السبيعي
Open In TikTok:
Region: SA
Sunday 25 October 2026 08:43:46 GMT
2971
78
7
13

Music

Download

Comments

.i.brahim0
Ibrahim ابراهيم :
ماشاء الله صوت روعه 🌹
2026-10-25 18:09:30
2
ajcop.sbck
ام فيصل🩷 :
والله صحيح كلامك صح لسانك الله يحفظك ربي يسعدك ربي يوفقك يارب يطول بعمرك ماشاء الله تبارك الله كفوووو ونعم مليون فيك يا السبيعي لبى ذوق يا السبيعي روعه ذوق اكسبلورر العيونك 💔🩷 منور يا فيصل تستحق المتابعه ع حسابك أستمر الله يطول بعمرك
2026-10-25 10:19:04
1
ahmad..2020
احمد الجهني :
صح لسانك
2026-10-25 08:53:35
1
user741186886
بنت ابوهاالأميرالله يرحمه :
👍👍👍👍👍👍
2026-10-25 16:42:34
1
To see more videos from user @f_alsbai503, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

𝗜𝗡𝗧𝗘𝗚𝗥𝗜𝗧𝗔𝗦 & 𝗞𝗘𝗕𝗘𝗥𝗔𝗡𝗜𝗔𝗡 𝗠𝗢𝗥𝗔𝗟  Sebuah kalimat singkat dari Raline Shah yang viral di Threads justru setelah ia melepas jabatan Staf Khusus Komdigi. Kalimat ini bukan sekadar komentar politik semata, ia adalah kristalisasi dari sebuah konflik batin antara integritas moral dan realitas kekuasaan yang membungkam. 𝗔𝗻𝘁𝗮𝗿𝗮 𝗦𝘂𝗮𝗿𝗮 𝗡𝘂𝗿𝗮𝗻𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗧𝗲𝗸𝗮𝗻𝗮𝗻 𝗜𝗻𝘀𝘁𝗶𝘁𝘂𝘀𝗶 Pernyataan Raline hadir tepat setelah ia mundur efektif 13 Oktober 2026. Setelah keluar dari jabatannya sebagai Staf Khusus Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi), ia bersuara lantang soal karhutla dan menyoroti ketimpangan penanganan yang menuduh petani kecil sementara titik api berada di konsesi korporasi besar.  Publik pun membaca ini sebagai bentuk 𝙢𝙤𝙧𝙖𝙡 𝙘𝙤𝙪𝙧𝙖𝙜𝙚: memilih keluar dari zona nyaman kekuasaan daripada ikut diam dalam ketidakadilan. Konflik yang tampak adalah antara
𝗜𝗡𝗧𝗘𝗚𝗥𝗜𝗧𝗔𝗦 & 𝗞𝗘𝗕𝗘𝗥𝗔𝗡𝗜𝗔𝗡 𝗠𝗢𝗥𝗔𝗟 Sebuah kalimat singkat dari Raline Shah yang viral di Threads justru setelah ia melepas jabatan Staf Khusus Komdigi. Kalimat ini bukan sekadar komentar politik semata, ia adalah kristalisasi dari sebuah konflik batin antara integritas moral dan realitas kekuasaan yang membungkam. 𝗔𝗻𝘁𝗮𝗿𝗮 𝗦𝘂𝗮𝗿𝗮 𝗡𝘂𝗿𝗮𝗻𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗧𝗲𝗸𝗮𝗻𝗮𝗻 𝗜𝗻𝘀𝘁𝗶𝘁𝘂𝘀𝗶 Pernyataan Raline hadir tepat setelah ia mundur efektif 13 Oktober 2026. Setelah keluar dari jabatannya sebagai Staf Khusus Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi), ia bersuara lantang soal karhutla dan menyoroti ketimpangan penanganan yang menuduh petani kecil sementara titik api berada di konsesi korporasi besar. Publik pun membaca ini sebagai bentuk 𝙢𝙤𝙧𝙖𝙡 𝙘𝙤𝙪𝙧𝙖𝙜𝙚: memilih keluar dari zona nyaman kekuasaan daripada ikut diam dalam ketidakadilan. Konflik yang tampak adalah antara "orang dalam" yang dibungkam dan "orang luar" yang akhirnya bebas bersuara, sebuah dilema klasik antara loyalitas institusi dan kesetiaan pada kebenaran. 𝗣𝘀𝗶𝗸𝗼𝗹𝗼𝗴𝗶 𝗜𝗻𝘁𝗲𝗴𝗿𝗶𝘁𝗮𝘀 𝗠𝗼𝗿𝗮𝗹 𝗱𝗮𝗻 𝗞𝗲𝘀𝗮𝗱𝗮𝗿𝗮𝗻 𝗗𝗶𝗿𝗶 Secara psikologis, keputusan Raline mencerminkan apa yang oleh Sibarani & Wiharsianti (2024) ditemukan sebagai kunci kepatuhan etis: kesadaran diri (𝙨𝙚𝙡𝙛-𝙖𝙬𝙖𝙧𝙚𝙣𝙚𝙨𝙨) dan integritas diri (𝙨𝙚𝙡𝙛-𝙞𝙣𝙩𝙚𝙜𝙧𝙞𝙩𝙮) yang terinternalisasi mampu mengalahkan tekanan eksternal. Individu dengan konsep diri yang jelas cenderung menunjukkan kesadaran moral yang lebih kuat dan pengambilan keputusan etis yang konsisten, bahkan ketika lingkungan organisasi tidak mendukung. Lebih jauh, Priyastiwi dkk. (2026) menegaskan bahwa keberanian moral (𝘮𝘰𝘳𝘢𝘭 𝘤𝘰𝘶𝘳𝘢𝘨𝘦) adalah moderator krusial yang memungkinkan seseorang melaporkan atau melawan pelanggaran etis meskipun ada risiko psikologis dan sosial. Fenomena shadow ban yang dikhawatirkan publik justru memperkuat temuan Batson dkk. (1999) tentang 𝙢𝙤𝙧𝙖𝙡 𝙝𝙮𝙥𝙤𝙘𝙧𝙞𝙨𝙮: sistem sering kali tampak moral di permukaan, tetapi menggunakan kuasa untuk membungkam mereka yang konsisten dengan nilai moralnya sendiri. 𝗛𝗮𝗿𝗴𝗮 𝗦𝗲𝗯𝘂𝗮𝗵 𝗜𝗻𝘁𝗲𝗴𝗿𝗶𝘁𝗮𝘀 Kisah Raline bukan tentang seorang artis yang masuk politik lalu keluar. Ini adalah cermin bagi kita: integritas sejati diuji bukan saat semua aman, melainkan saat kebenaran menjadi mahal. Mundur dari jabatan demi bisa bersuara adalah bentuk 𝙨𝙚𝙡𝙛-𝙨𝙖𝙘𝙧𝙞𝙛𝙞𝙘𝙚 yang jarang dilakukan seseorang, terlebih jika mereka sedang dalam kondisi BU (Butuh Uang), sebuah pernyataan bahwa identitas moral lebih berharga daripada status. Dalam psikologi, ini disebut 𝙢𝙤𝙧𝙖𝙡 𝙤𝙬𝙣𝙚𝙧𝙨𝙝𝙞𝙥: rasa memiliki terhadap nilai-nilai etis sedemikian rupa sehingga melanggarnya berarti mengkhianati diri sendiri. Pertanyaannya untuk kita: ketika sistem menekan, apakah kita memilih diam demi kenyamanan, atau berani menanggung risiko demi kejujuran? Di posisi kita masing-masing, sekecil apa pun itu, apakah kita sudah menjadi pribadi yang 𝘴𝘦𝘭𝘧-𝘢𝘸𝘢𝘳𝘦 dan berani mempertahankan integritas, atau justru ikut menjadi bagian dari pembungkaman? Bagikan pandanganmu. #ralineshah#integritas#moral#keberanian#komdigi

About