@parisfljyo3: A minha princesa (288)

parisfljyo3
parisfljyo3
Open In TikTok:
Region: US
Sunday 25 October 2026 11:06:45 GMT
137
16
1
0

Music

Download

Comments

genaradelgado363
Genara Delgado :
si me caso con tigo
2026-10-25 14:02:11
0
To see more videos from user @parisfljyo3, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Pov: Hampir tiga tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk merindukan seseorang, apalagi ketika satu-satunya hal yang bisa kamu lakukan hanyalah menunggu hari-hari berlalu sampai akhirnya kalian bisa bertemu lagi. Selama itu pula, kamu dan Sunoo belajar mencintai dari kejauhan. Sampai hari ini, ketika akhirnya ia duduk di hadapanmu, setelah sekian lama hanya bisa kamu temui lewat panggilan video dan suara yang menemani malam-malam panjangmu, kamu justru mendapati dirimu menangis.  Sunoo sontak terperanjat mendengar pengakuanmu. Barangkali ia sudah menduga bahwa ada sesuatu yang mengganjal di hatimu, tetapi melihat air mata yang terus berjatuhan dari kedua matamu, sementara kamu berusaha sekuat tenaga untuk tetap menyampaikan isi kepalamu, tetap saja membuat dadanya terasa sesak.  Ia tidak pernah suka melihatmu menangis, terlebih ketika ia tahu bahwa sebagian dari kesedihan itu tumbuh dari sesuatu yang selama ini kalian jalani bersama. “Sayang, sini, kita bicarakan baik-baik, ya?”  Buru-buru ia mengulurkan tangan, hendak menyeka air mata yang membasahi pipimu.  “Jangan nangis, hm? Kamu tahu Kakak enggak bisa lihat kamu nangis begini.” Namun, sebelum jemarinya sempat menyentuh wajahmu, kamu lebih dahulu memalingkan muka. Tangan Sunoo yang semula terulur pun terhenti di udara, sebelum akhirnya ia turunkan perlahan.  Kamu mengusap pipimu sendiri dengan punggung tangan berkali-kali, seolah dengan begitu kamu bisa segera menghentikan air mata yang sejak tadi tidak memberimu kesempatan untuk bernapas dengan tenang. “Aku serius, Kak.” Suaramu bergetar, tetapi kali ini kamu berusaha menatapnya.  “Aku benar-benar enggak bisa kalau kita harus lanjutin hubungan jarak jauh lagi..” “Dan ternyata aku enggak sekuat itu.” Kamu menggeleng kecil, menunduk untuk menyembunyikan wajahmu yang kembali basah.  Sunoo mendengarkan tanpa menyela. Kedua tangan yang saling bertaut di atas meja, dan tatapannya tidak pernah benar-benar beranjak darimu. Ia ingin merengkuhmu, ingin menarikmu mendekat seperti yang selalu ia lakukan setiap kali kamu menangis, tetapi ia menahan diri.  Barangkali kali ini ia menyadari bahwa yang kamu butuhkan saat ini bukan sekadar pelukan untuk menenangkan diri, melainkan ruang untuk mengeluarkan semua yang selama ini terpaksa kamu simpan sendiri. “Nanti setelah Kakak kembali, kita masing-masing aja, Kak.” Kalimat itu akhirnya terucap membuat Sunoo mengangkat wajahnya dengan sorot mata yang berubah. Kamu sendiri tidak tahu dari mana keberanian itu datang.  Sunoo mengembuskan napas perlahan. Ia tidak tampak marah, apalagi tersinggung. “Kakak sudah boleh jelasin sekarang?” tanyanya lembut.  “Atau kamu masih mau keluarin semua yang selama ini mengganggu pikiran kamu?” Kamu terdiam. Ya Tuhan, batinmu berkecamuk. Bagaimana bisa laki-laki yang sedang kamu minta untuk melepaskanmu justru masih berbicara selembut itu? Ia tidak meninggikan suara, tidak menyalahkanmu karena merasa lelah, bahkan masih memberimu kesempatan untuk menyelesaikan semua yang ingin kamu sampaikan. Padahal, kamu tahu, mendengar seseorang yang dicintainya mengatakan bahwa ia tidak sanggup melanjutkan hubungan mereka lagi bukanlah perkara mudah. Kamu menunduk, menggigit bibir bawah untuk menahan tangis yang kembali mendesak keluar. Di mana lagi kamu bisa menemukan seseorang yang tetap berusaha memahami perasaanmu, bahkan ketika perasaan itu sendiri mungkin menyakitinya? “Udah, Kak.” Kamu menggeleng pelan, lalu mengusap pipimu yang basah.  “Aku cuma mau bilang itu.” Sunoo memperhatikanmu beberapa saat. Kemudian, ia menggeser kursinya sedikit mendekat untuk membuat jarak di antara kalian terasa lebih sempit sedikit saja. “Sekarang, dengerin Kakak sebentar, ya Sayang.” Kamu tidak menolak ketika ia kembali mengulurkan tangan. Jemarinya menyentuh punggung tanganmu, lalu menggenggamnya dengan hati-hati. +di sl/komen ya #enhypen #sunoo #pov #fyp
Pov: Hampir tiga tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk merindukan seseorang, apalagi ketika satu-satunya hal yang bisa kamu lakukan hanyalah menunggu hari-hari berlalu sampai akhirnya kalian bisa bertemu lagi. Selama itu pula, kamu dan Sunoo belajar mencintai dari kejauhan. Sampai hari ini, ketika akhirnya ia duduk di hadapanmu, setelah sekian lama hanya bisa kamu temui lewat panggilan video dan suara yang menemani malam-malam panjangmu, kamu justru mendapati dirimu menangis. Sunoo sontak terperanjat mendengar pengakuanmu. Barangkali ia sudah menduga bahwa ada sesuatu yang mengganjal di hatimu, tetapi melihat air mata yang terus berjatuhan dari kedua matamu, sementara kamu berusaha sekuat tenaga untuk tetap menyampaikan isi kepalamu, tetap saja membuat dadanya terasa sesak. Ia tidak pernah suka melihatmu menangis, terlebih ketika ia tahu bahwa sebagian dari kesedihan itu tumbuh dari sesuatu yang selama ini kalian jalani bersama. “Sayang, sini, kita bicarakan baik-baik, ya?” Buru-buru ia mengulurkan tangan, hendak menyeka air mata yang membasahi pipimu. “Jangan nangis, hm? Kamu tahu Kakak enggak bisa lihat kamu nangis begini.” Namun, sebelum jemarinya sempat menyentuh wajahmu, kamu lebih dahulu memalingkan muka. Tangan Sunoo yang semula terulur pun terhenti di udara, sebelum akhirnya ia turunkan perlahan. Kamu mengusap pipimu sendiri dengan punggung tangan berkali-kali, seolah dengan begitu kamu bisa segera menghentikan air mata yang sejak tadi tidak memberimu kesempatan untuk bernapas dengan tenang. “Aku serius, Kak.” Suaramu bergetar, tetapi kali ini kamu berusaha menatapnya. “Aku benar-benar enggak bisa kalau kita harus lanjutin hubungan jarak jauh lagi..” “Dan ternyata aku enggak sekuat itu.” Kamu menggeleng kecil, menunduk untuk menyembunyikan wajahmu yang kembali basah. Sunoo mendengarkan tanpa menyela. Kedua tangan yang saling bertaut di atas meja, dan tatapannya tidak pernah benar-benar beranjak darimu. Ia ingin merengkuhmu, ingin menarikmu mendekat seperti yang selalu ia lakukan setiap kali kamu menangis, tetapi ia menahan diri. Barangkali kali ini ia menyadari bahwa yang kamu butuhkan saat ini bukan sekadar pelukan untuk menenangkan diri, melainkan ruang untuk mengeluarkan semua yang selama ini terpaksa kamu simpan sendiri. “Nanti setelah Kakak kembali, kita masing-masing aja, Kak.” Kalimat itu akhirnya terucap membuat Sunoo mengangkat wajahnya dengan sorot mata yang berubah. Kamu sendiri tidak tahu dari mana keberanian itu datang. Sunoo mengembuskan napas perlahan. Ia tidak tampak marah, apalagi tersinggung. “Kakak sudah boleh jelasin sekarang?” tanyanya lembut. “Atau kamu masih mau keluarin semua yang selama ini mengganggu pikiran kamu?” Kamu terdiam. Ya Tuhan, batinmu berkecamuk. Bagaimana bisa laki-laki yang sedang kamu minta untuk melepaskanmu justru masih berbicara selembut itu? Ia tidak meninggikan suara, tidak menyalahkanmu karena merasa lelah, bahkan masih memberimu kesempatan untuk menyelesaikan semua yang ingin kamu sampaikan. Padahal, kamu tahu, mendengar seseorang yang dicintainya mengatakan bahwa ia tidak sanggup melanjutkan hubungan mereka lagi bukanlah perkara mudah. Kamu menunduk, menggigit bibir bawah untuk menahan tangis yang kembali mendesak keluar. Di mana lagi kamu bisa menemukan seseorang yang tetap berusaha memahami perasaanmu, bahkan ketika perasaan itu sendiri mungkin menyakitinya? “Udah, Kak.” Kamu menggeleng pelan, lalu mengusap pipimu yang basah. “Aku cuma mau bilang itu.” Sunoo memperhatikanmu beberapa saat. Kemudian, ia menggeser kursinya sedikit mendekat untuk membuat jarak di antara kalian terasa lebih sempit sedikit saja. “Sekarang, dengerin Kakak sebentar, ya Sayang.” Kamu tidak menolak ketika ia kembali mengulurkan tangan. Jemarinya menyentuh punggung tanganmu, lalu menggenggamnya dengan hati-hati. +di sl/komen ya #enhypen #sunoo #pov #fyp

About