@lupmin_: Momentos Chanmin pt.6🐺🐶❤💙 [hola, aqui les traigo la parte 6 del Chanmin... hace tiempo no lo hago pero aqui Estamos] #Chanmin #seungmin #bangchan #fypシ゚ #Viral

Milu٭༄
Milu٭༄
Open In TikTok:
Region: PE
Sunday 25 October 2026 19:46:38 GMT
1281
302
2
7

Music

Download

Comments

bang_lupi4
🐺 :
MIGAJASSS😭😭
2026-10-26 03:30:06
2
chabarrt2
M♡♡N_☆ :
mis papis
2026-10-25 20:50:46
1
To see more videos from user @lupmin_, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Dikhianati oleh orang terpercaya bisa jadi luka terdalam. Bukan hanya kehilangan materi, tapi juga rasa aman, kepercayaan, dan keyakinan akan kebaikan. Islam mengajarkan kita untuk tidak tenggelam dalam luka itu, pun tidak membalas dengan cara yang sama. Justru, Islam menawarkan jalan yang lebih tinggi: menghadapi pengkhianatan tanpa kehilangan harga diri, tanpa merendahkan pelaku, dan tanpa mengorbankan hubungan dengan Allah. Prinsip utama adalah pengkhianatan tak boleh dibalas dengan pengkhianatan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tunaikanlah amanah kepada orang yang mempercayaimu, dan janganlah engkau mengkhianati orang yang telah mengkhianatimu” (HR. Tirmidzi, Abu Daud, dan Darimi). Ini bukan berarti naif, melainkan penegasan bahwa integritas diri tak ditentukan oleh perilaku orang lain. Membalas khianat hanya memperpanjang siklus kebencian. Contoh agung ada pada Rasulullah sendiri. Saat Hathib bin Abi Balta’ah membocorkan rahasia, Nabi tak langsung menghukumnya. Beliau mendengarkan, lalu memaafkan. Ibnu Taimiyyah pun, meski dipenjara dan difitnah, tidak menyimpan kebencian. Beliau bahkan berduka atas kematian musuhnya dan berkata, “Barangsiapa yang menyakitiku maka aku telah memaafkannya.” Ini menunjukkan bahwa memaafkan bukan berarti melupakan, tapi keputusan untuk tidak membiarkan luka menguasai ketenangan batin kita. Ali bin Abi Thalib berkata, “Balas dendam terbaik adalah menjadikan dirimu lebih baik.” Ini adalah strategi spiritual yang mengubah luka menjadi dorongan untuk tumbuh. Ketika dikhianati, kita punya dua pilihan: menghabiskan energi untuk membenci, atau mengalihkannya untuk memperbaiki diri dan menjadi pribadi yang lebih kuat. Pilihan kedua membebaskan kita. Menjaga harga diri (izzah) dalam Islam berarti menyadari kemuliaan sejati datang dari Allah. Orang ber-izzah tidak akan mengemis validasi dari pengkhianat, pun tidak merendahkan diri dengan membalas. Ia memaafkan untuk membebaskan diri dari dendam, tapi tetap waspada.  Langkah praktisnya: 1. Tabayyun (klarifikasi), jika memungkinkan. 2. Maafkan untuk pembebasan diri. 3. Jaga jarak yang sehat. Kepercayaan harus dibangun kembali. 4. Alihkan fokus pada hal yang bisa dikendalikan: perbaiki diri, rawat hubungan dengan orang tulus, dan dekatkan diri pada Allah. 5. Ingatlah, pengkhianatan yang dihadapi dengan sabar akan menghapus dosa dan mengangkat derajat. Dikhianati memang menyakitkan, tapi tak harus menghancurkan. Islam mengajarkan luka bisa dirawat tanpa pahit, dan harga diri bisa dijaga tanpa sombong. Memaafkan tanpa merasa rendah, dan waspada tanpa curiga, itulah kedewasaan spiritual. Balasan termulia adalah menjadi pribadi yang lebih baik di hadapan Allah. Di situlah letak harga diri sejati. #Dikhianati #Islam #HargaDiri #Memaafkan #Spiritualitas
Dikhianati oleh orang terpercaya bisa jadi luka terdalam. Bukan hanya kehilangan materi, tapi juga rasa aman, kepercayaan, dan keyakinan akan kebaikan. Islam mengajarkan kita untuk tidak tenggelam dalam luka itu, pun tidak membalas dengan cara yang sama. Justru, Islam menawarkan jalan yang lebih tinggi: menghadapi pengkhianatan tanpa kehilangan harga diri, tanpa merendahkan pelaku, dan tanpa mengorbankan hubungan dengan Allah. Prinsip utama adalah pengkhianatan tak boleh dibalas dengan pengkhianatan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tunaikanlah amanah kepada orang yang mempercayaimu, dan janganlah engkau mengkhianati orang yang telah mengkhianatimu” (HR. Tirmidzi, Abu Daud, dan Darimi). Ini bukan berarti naif, melainkan penegasan bahwa integritas diri tak ditentukan oleh perilaku orang lain. Membalas khianat hanya memperpanjang siklus kebencian. Contoh agung ada pada Rasulullah sendiri. Saat Hathib bin Abi Balta’ah membocorkan rahasia, Nabi tak langsung menghukumnya. Beliau mendengarkan, lalu memaafkan. Ibnu Taimiyyah pun, meski dipenjara dan difitnah, tidak menyimpan kebencian. Beliau bahkan berduka atas kematian musuhnya dan berkata, “Barangsiapa yang menyakitiku maka aku telah memaafkannya.” Ini menunjukkan bahwa memaafkan bukan berarti melupakan, tapi keputusan untuk tidak membiarkan luka menguasai ketenangan batin kita. Ali bin Abi Thalib berkata, “Balas dendam terbaik adalah menjadikan dirimu lebih baik.” Ini adalah strategi spiritual yang mengubah luka menjadi dorongan untuk tumbuh. Ketika dikhianati, kita punya dua pilihan: menghabiskan energi untuk membenci, atau mengalihkannya untuk memperbaiki diri dan menjadi pribadi yang lebih kuat. Pilihan kedua membebaskan kita. Menjaga harga diri (izzah) dalam Islam berarti menyadari kemuliaan sejati datang dari Allah. Orang ber-izzah tidak akan mengemis validasi dari pengkhianat, pun tidak merendahkan diri dengan membalas. Ia memaafkan untuk membebaskan diri dari dendam, tapi tetap waspada. Langkah praktisnya: 1. Tabayyun (klarifikasi), jika memungkinkan. 2. Maafkan untuk pembebasan diri. 3. Jaga jarak yang sehat. Kepercayaan harus dibangun kembali. 4. Alihkan fokus pada hal yang bisa dikendalikan: perbaiki diri, rawat hubungan dengan orang tulus, dan dekatkan diri pada Allah. 5. Ingatlah, pengkhianatan yang dihadapi dengan sabar akan menghapus dosa dan mengangkat derajat. Dikhianati memang menyakitkan, tapi tak harus menghancurkan. Islam mengajarkan luka bisa dirawat tanpa pahit, dan harga diri bisa dijaga tanpa sombong. Memaafkan tanpa merasa rendah, dan waspada tanpa curiga, itulah kedewasaan spiritual. Balasan termulia adalah menjadi pribadi yang lebih baik di hadapan Allah. Di situlah letak harga diri sejati. #Dikhianati #Islam #HargaDiri #Memaafkan #Spiritualitas

About