made wiranata atmaja :
Kita tergesa mengunci pintu, mengira sekat dinding dan bentang jarak mampu meredam gema yang kautinggalkan di sudut ruang. Namun, ada yang luput kita makamkan, sepotong malam tatkala jemari kita saling bertaut, menolak runtuh di hadapan waktu. Perpisahan ini terlampau riuh oleh penyangkalan, menyisakan remah kenangan yang berserak dan enggan berbaur dengan debu-debu kepasrahan.
Kau melangkah ke barat membawa paruh ingatan yang separuh padam, sementara aku terpaku di timur mengais sisa kehangatan yang lekas menyublim. Kita sepakat menyebutnya akhir, sebuah titik mutlak di ujung kalimat panjang yang melelahkan. Tapi di kedalaman benak, koma-koma liar masih terus berbiak, menolak dituntaskan oleh ketukan palu takdir yang telanjur kita jatuhkan bersama.
Ada aroma hujan yang tertinggal di lipatan syalmu, berbaur dengan wangi kopi yang menguap lambat di cangkir retak kita. Kita telah menghapus nomor dan menimbun jejak digital bawah tanah, namun gagal mengikis bayang-bayang yang kerap menyelinap di antara celah mimpi. Perpisahan kita hanyalah sandiwara formalitas, sebab di panggung sunyi yang paling privat, kita masih saling mencari dalam ketiadaan.
Kini kita menjadi dua orang asing yang menyimpan rahasia paling kolosal tentang bagaimana sebuah tautan bisa terurai tanpa pernah benar-benar lepas. Kita tidak pernah selesai, kita hanya kelelahan berpura-pura tangguh di hadapan sepi yang kian meriap. Pada akhirnya, cara kita berpisah hanyalah sebuah penundaan, sebuah jeda panjang sebelum salah satu dari kita menyerah pada rindu yang
2026-10-26 10:43:17