@hiixeoxe____: #CloseUpAffiliateSquad @Closeup Indonesia

indahzulfh
indahzulfh
Open In TikTok:
Region: ID
Monday 26 October 2026 16:01:24 GMT
137
1
0
0

Music

Download

Comments

There are no more comments for this video.
To see more videos from user @hiixeoxe____, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Postingan _musafirilmu_ Audio asli 1,2 rb 22 367 _musafirilmu_   Jangan hanya bertanya, “Apakah membaca tahlil itu boleh?” atau, “Apakah membaca Al-Qur’an itu baik?” Tentu, berdzikir dan membaca Al-Qur’an adalah amalan yang baik. Yang menjadi persoalan adalah ketika amalan tersebut ditetapkan sebagai ritual khusus setelah kematian, dengan waktu dan tata cara tertentu, lalu dianggap sebagai bagian dari tuntunan agama. Pertanyaannya sederhana: Apakah Rasulullah ﷺ pernah mengadakan tahlilan atau yasinan sebagai ritual khusus setelah seseorang meninggal? Tidak ada contoh dari Rasulullah ﷺ, para sahabat, dan generasi terbaik umat ini yang menunjukkan adanya ritual tahlilan atau yasinan dengan format yang biasa dilakukan masyarakat setelah kematian. Maka, jika tahlilan dan yasinan tersebut diyakini sebagai ritual ibadah khusus yang disyariatkan setelah kematian, penetapan ritual tersebut tidak memiliki tuntunan dari Nabi ﷺ. Inilah yang disebut bid’ah dalam perkara ibadah. Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa mengada-adakan dalam urusan kami ini sesuatu yang bukan darinya, maka ia tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim) Dan beliau ﷺ juga bersabda: “Setiap bid’ah adalah kesesatan.” (HR. Muslim) Namun perlu dipahami: Bukan berarti berdzikir itu bid’ah. Bukan berarti membaca Al-Qur’an itu bid’ah. Bukan pula berarti mendoakan orang yang meninggal itu bid’ah. Yang dipersoalkan adalah mengkhususkan bentuk, waktu, dan tata cara tertentu sebagai ritual kematian tanpa adanya tuntunan khusus dari Rasulullah ﷺ. Karena ibadah bukan dibangun hanya berdasarkan niat baik. Ibadah harus ikhlas dan harus sesuai dengan tuntunan Rasulullah ﷺ. Maka jangan ukur kebenaran hanya dengan kalimat: “Yang penting niatnya baik.” Sebab dalam ibadah, niat yang baik tidak menjadikan tata cara yang tidak dituntunkan menjadi sunnah. Mari kita kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah, mengikuti jalan Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya, serta meninggalkan perkara-perkara baru dalam agama yang tidak memiliki landasan. Kebenaran bukan diukur dari banyaknya orang yang melakukannya, tetapi dari apakah ia memiliki tuntunan dari Rasulullah ﷺ. Wallāhu a‘lam.
Postingan _musafirilmu_ Audio asli 1,2 rb 22 367 _musafirilmu_   Jangan hanya bertanya, “Apakah membaca tahlil itu boleh?” atau, “Apakah membaca Al-Qur’an itu baik?” Tentu, berdzikir dan membaca Al-Qur’an adalah amalan yang baik. Yang menjadi persoalan adalah ketika amalan tersebut ditetapkan sebagai ritual khusus setelah kematian, dengan waktu dan tata cara tertentu, lalu dianggap sebagai bagian dari tuntunan agama. Pertanyaannya sederhana: Apakah Rasulullah ﷺ pernah mengadakan tahlilan atau yasinan sebagai ritual khusus setelah seseorang meninggal? Tidak ada contoh dari Rasulullah ﷺ, para sahabat, dan generasi terbaik umat ini yang menunjukkan adanya ritual tahlilan atau yasinan dengan format yang biasa dilakukan masyarakat setelah kematian. Maka, jika tahlilan dan yasinan tersebut diyakini sebagai ritual ibadah khusus yang disyariatkan setelah kematian, penetapan ritual tersebut tidak memiliki tuntunan dari Nabi ﷺ. Inilah yang disebut bid’ah dalam perkara ibadah. Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa mengada-adakan dalam urusan kami ini sesuatu yang bukan darinya, maka ia tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim) Dan beliau ﷺ juga bersabda: “Setiap bid’ah adalah kesesatan.” (HR. Muslim) Namun perlu dipahami: Bukan berarti berdzikir itu bid’ah. Bukan berarti membaca Al-Qur’an itu bid’ah. Bukan pula berarti mendoakan orang yang meninggal itu bid’ah. Yang dipersoalkan adalah mengkhususkan bentuk, waktu, dan tata cara tertentu sebagai ritual kematian tanpa adanya tuntunan khusus dari Rasulullah ﷺ. Karena ibadah bukan dibangun hanya berdasarkan niat baik. Ibadah harus ikhlas dan harus sesuai dengan tuntunan Rasulullah ﷺ. Maka jangan ukur kebenaran hanya dengan kalimat: “Yang penting niatnya baik.” Sebab dalam ibadah, niat yang baik tidak menjadikan tata cara yang tidak dituntunkan menjadi sunnah. Mari kita kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah, mengikuti jalan Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya, serta meninggalkan perkara-perkara baru dalam agama yang tidak memiliki landasan. Kebenaran bukan diukur dari banyaknya orang yang melakukannya, tetapi dari apakah ia memiliki tuntunan dari Rasulullah ﷺ. Wallāhu a‘lam.

About