@kristinae_23: Footless 😁 a major win for this that hate the seam! #tiktokshopblackfriday #fleecelinedtights #fleecelinedleggings

🛍️ Kristina 🛍️
🛍️ Kristina 🛍️
Open In TikTok:
Region: US
Tuesday 27 October 2026 12:23:30 GMT
688
1
0
0

Music

Download

Comments

There are no more comments for this video.
To see more videos from user @kristinae_23, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Mahasiswi Kalimantan Ikut Aksi Demo di Bundaran HI, Desak Pemerintah Tangani Karhutla Mahasiswa dari Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan turut serta dalam aksi demonstrasi #IndonesiaSadar yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia (UI) di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta, Rabu (28/10/2026). Mereka mendesak pemerintah menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan secara konkret, menyusul dampak kabut asap terhadap kesehatan dan aktivitas ekonomi masyarakat. Presiden BEM Universitas Palangka Raya, Naomi Artika Simamora, mengatakan kehadiran mahasiswa Kalimantan di Jakarta bertujuan membawa aspirasi masyarakat daerah ke pemerintah pusat. Mereka juga ingin mendorong pemerintah mengevaluasi penanganan karhutla yang dinilai belum efektif. “Oleh karena itu, kehadiran kami di Jakarta ini untuk melanjutkan perjuangan teman-teman di Kalimantan Tengah, untuk menyerahkan langsung ke pusat dan untuk langsung menggertak pemerintah pusat terkait tidak efektifnya penanganan karhutla di Kalimantan,” kata Naomi di kampus UI, Rabu. Naomi menyebut dampak kabut asap terhadap kesehatan masyarakat menjadi salah satu persoalan yang mereka soroti. Ia mengklaim jumlah warga yang terdampak infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) telah melampaui 100.000 orang hingga sekitar September atau Oktober 2026. Menurut Naomi, pemerintah pusat dan pemerintah provinsi dinilai belum memberikan perhatian yang memadai terhadap dampak karhutla. Ia juga menyoroti alasan penetapan status bencana nasional yang, menurutnya, berkaitan dengan belum mencukupinya jumlah korban jiwa. “Sedangkan kita mengetahui bahwasanya ISPA itu orang-orang enggak meninggal di tahun ini, tetapi empat sampai lima tahun ke depan, sedangkan jaminan kesehatan pun tidak diberikan oleh pemerintah pusat dan pemerintah provinsi,” ujarnya. Asahat Edi/PRMN
Mahasiswi Kalimantan Ikut Aksi Demo di Bundaran HI, Desak Pemerintah Tangani Karhutla Mahasiswa dari Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan turut serta dalam aksi demonstrasi #IndonesiaSadar yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia (UI) di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta, Rabu (28/10/2026). Mereka mendesak pemerintah menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan secara konkret, menyusul dampak kabut asap terhadap kesehatan dan aktivitas ekonomi masyarakat. Presiden BEM Universitas Palangka Raya, Naomi Artika Simamora, mengatakan kehadiran mahasiswa Kalimantan di Jakarta bertujuan membawa aspirasi masyarakat daerah ke pemerintah pusat. Mereka juga ingin mendorong pemerintah mengevaluasi penanganan karhutla yang dinilai belum efektif. “Oleh karena itu, kehadiran kami di Jakarta ini untuk melanjutkan perjuangan teman-teman di Kalimantan Tengah, untuk menyerahkan langsung ke pusat dan untuk langsung menggertak pemerintah pusat terkait tidak efektifnya penanganan karhutla di Kalimantan,” kata Naomi di kampus UI, Rabu. Naomi menyebut dampak kabut asap terhadap kesehatan masyarakat menjadi salah satu persoalan yang mereka soroti. Ia mengklaim jumlah warga yang terdampak infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) telah melampaui 100.000 orang hingga sekitar September atau Oktober 2026. Menurut Naomi, pemerintah pusat dan pemerintah provinsi dinilai belum memberikan perhatian yang memadai terhadap dampak karhutla. Ia juga menyoroti alasan penetapan status bencana nasional yang, menurutnya, berkaitan dengan belum mencukupinya jumlah korban jiwa. “Sedangkan kita mengetahui bahwasanya ISPA itu orang-orang enggak meninggal di tahun ini, tetapi empat sampai lima tahun ke depan, sedangkan jaminan kesehatan pun tidak diberikan oleh pemerintah pusat dan pemerintah provinsi,” ujarnya. Asahat Edi/PRMN

About