@solpsychotherapy: Replying to @rivkahart #solpsychotherapy #therapytiktok #anxietytips #SelfImprovement #SelfCare

Soph - Sol Psychotherapy
Soph - Sol Psychotherapy
Open In TikTok:
Region: AU
Tuesday 27 October 2026 21:04:07 GMT
1698
76
5
1

Music

Download

Comments

rivkahart
rivkahart :
Those tips are SOO helpful!
2026-10-27 22:10:09
4
counsellingwitheb
Eb | Counselling Tools :
Love love love
2026-10-27 22:05:59
1
To see more videos from user @solpsychotherapy, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Aku tidak sedang menunggumu. Sungguh… Aku hanya masih sering mengingatmu. Ada bedanya. Menunggu berarti berharap kamu akan kembali. Sedangkan aku… hanya sedang belajar menerima bahwa mungkin kamu memang tidak akan pernah kembali. Tapi anehnya, setiap malam hatiku tetap mencarimu. Bukan dengan langkah. Bukan dengan pesan. Hanya dengan ingatan. Aku rindu suaramu. Rindu cara kamu memanggil namaku. Rindu percakapan-percakapan kecil yang dulu tidak pernah kusadari akan menjadi sesuatu yang paling ingin kudengar kembali. Sekarang, aku bahkan tidak tahu harus kepada siapa kuceritakan rinduku. Karena kamu adalah orang yang paling ingin kuceritakan… sekaligus orang yang tidak bisa lagi kucari. Pernah suatu malam aku hampir mengirim pesan. Hanya tiga kata: “Aku rindu kamu.” Jariku sudah berada di tombol kirim. Tapi aku menghapusnya. Bukan karena aku tidak ingin kamu tahu. Aku hanya takut… kamu juga sedang merindukanku. Karena kalau ternyata kita sama-sama rindu, aku takut kita kembali percaya bahwa masih ada jalan untuk kita. Padahal mungkin tidak ada. Mungkin yang tersisa memang hanya rasa. Dan rasa tidak selalu harus memiliki tujuan. Ada cinta yang harus disimpan. Ada rindu yang harus dipendam. Ada nama yang hanya boleh disebut dalam doa. Dan kamu… adalah salah satunya. Aku tidak ingin merebutmu dari kehidupanmu. Aku tidak ingin menjadi alasan seseorang menangis. Aku tidak ingin kebahagiaanmu dibangun dari kehancuran orang lain. Jadi biarkan aku saja yang menanggung rindu ini. Biarkan aku yang diam-diam mengingatmu. Biarkan aku yang sesekali menatap layar ponsel tanpa benar-benar mengirim pesan. Biarkan aku yang bertanya dalam hati, “Apakah kamu juga merindukanku?” Tanpa pernah meminta jawaban. Sebab mungkin, jawaban paling jujur sudah ada di antara kita: kita saling berarti, tetapi tidak ditakdirkan untuk saling memiliki. Dan kalau suatu hari nanti aku terlihat baik-baik saja, jangan percaya sepenuhnya. Aku hanya sudah belajar tersenyum dengan hati yang masih menyimpan rindu. Aku hanya sudah belajar menjalani hari tanpa menunggumu. Aku hanya sudah belajar bahwa kehilangan seseorang tidak selalu berarti harus berhenti mencintainya. Kadang… kita tetap mencintai. Tetap merindukan. Tetap mengingat. Hanya saja, kita berhenti berharap. Dan mungkin itulah bentuk kehilangan yang paling dewasa. Tidak membenci. Tidak memaksa. Tidak mengejar. Hanya perlahan berkata kepada hati, “Aku tahu kamu masih rindu. Tapi kita tidak boleh pulang ke sana.” Jadi malam ini, kalau tiba-tiba namamu kembali memenuhi pikiranku, aku akan membiarkannya. Aku tidak akan melawan. Karena kamu pernah menjadi bagian indah dalam hidupku. Dan mungkin, selamanya akan tetap begitu. Bukan sebagai seseorang yang berhasil kumiliki, tetapi sebagai seseorang yang pernah membuatku mengerti bahwa ternyata sebuah nama bisa begitu jauh… namun tetap terasa dekat di dalam dada. Aku rindu kamu. Dan untuk pertama kalinya, aku tidak meminta rindu ini membawamu kembali. Aku hanya meminta Tuhan menjagamu di mana pun kamu berada. Karena jika aku memang tidak bisa menjadi tempatmu pulang, setidaknya… biarkan doaku menjadi jalan paling sunyi yang selalu mengantarmu kepada kebaikan.
Aku tidak sedang menunggumu. Sungguh… Aku hanya masih sering mengingatmu. Ada bedanya. Menunggu berarti berharap kamu akan kembali. Sedangkan aku… hanya sedang belajar menerima bahwa mungkin kamu memang tidak akan pernah kembali. Tapi anehnya, setiap malam hatiku tetap mencarimu. Bukan dengan langkah. Bukan dengan pesan. Hanya dengan ingatan. Aku rindu suaramu. Rindu cara kamu memanggil namaku. Rindu percakapan-percakapan kecil yang dulu tidak pernah kusadari akan menjadi sesuatu yang paling ingin kudengar kembali. Sekarang, aku bahkan tidak tahu harus kepada siapa kuceritakan rinduku. Karena kamu adalah orang yang paling ingin kuceritakan… sekaligus orang yang tidak bisa lagi kucari. Pernah suatu malam aku hampir mengirim pesan. Hanya tiga kata: “Aku rindu kamu.” Jariku sudah berada di tombol kirim. Tapi aku menghapusnya. Bukan karena aku tidak ingin kamu tahu. Aku hanya takut… kamu juga sedang merindukanku. Karena kalau ternyata kita sama-sama rindu, aku takut kita kembali percaya bahwa masih ada jalan untuk kita. Padahal mungkin tidak ada. Mungkin yang tersisa memang hanya rasa. Dan rasa tidak selalu harus memiliki tujuan. Ada cinta yang harus disimpan. Ada rindu yang harus dipendam. Ada nama yang hanya boleh disebut dalam doa. Dan kamu… adalah salah satunya. Aku tidak ingin merebutmu dari kehidupanmu. Aku tidak ingin menjadi alasan seseorang menangis. Aku tidak ingin kebahagiaanmu dibangun dari kehancuran orang lain. Jadi biarkan aku saja yang menanggung rindu ini. Biarkan aku yang diam-diam mengingatmu. Biarkan aku yang sesekali menatap layar ponsel tanpa benar-benar mengirim pesan. Biarkan aku yang bertanya dalam hati, “Apakah kamu juga merindukanku?” Tanpa pernah meminta jawaban. Sebab mungkin, jawaban paling jujur sudah ada di antara kita: kita saling berarti, tetapi tidak ditakdirkan untuk saling memiliki. Dan kalau suatu hari nanti aku terlihat baik-baik saja, jangan percaya sepenuhnya. Aku hanya sudah belajar tersenyum dengan hati yang masih menyimpan rindu. Aku hanya sudah belajar menjalani hari tanpa menunggumu. Aku hanya sudah belajar bahwa kehilangan seseorang tidak selalu berarti harus berhenti mencintainya. Kadang… kita tetap mencintai. Tetap merindukan. Tetap mengingat. Hanya saja, kita berhenti berharap. Dan mungkin itulah bentuk kehilangan yang paling dewasa. Tidak membenci. Tidak memaksa. Tidak mengejar. Hanya perlahan berkata kepada hati, “Aku tahu kamu masih rindu. Tapi kita tidak boleh pulang ke sana.” Jadi malam ini, kalau tiba-tiba namamu kembali memenuhi pikiranku, aku akan membiarkannya. Aku tidak akan melawan. Karena kamu pernah menjadi bagian indah dalam hidupku. Dan mungkin, selamanya akan tetap begitu. Bukan sebagai seseorang yang berhasil kumiliki, tetapi sebagai seseorang yang pernah membuatku mengerti bahwa ternyata sebuah nama bisa begitu jauh… namun tetap terasa dekat di dalam dada. Aku rindu kamu. Dan untuk pertama kalinya, aku tidak meminta rindu ini membawamu kembali. Aku hanya meminta Tuhan menjagamu di mana pun kamu berada. Karena jika aku memang tidak bisa menjadi tempatmu pulang, setidaknya… biarkan doaku menjadi jalan paling sunyi yang selalu mengantarmu kepada kebaikan.

About