@itschrisfigueroa: unboxing my cotton candy RMS mystery dumplings 🫣 yall think ima get the rare cotton candy dumpling? 👀💕 #mysterydumpling #dumplings #squishy #fyp #mysterybox @rmstoys_usa

itschrisfigueroa
itschrisfigueroa
Open In TikTok:
Region: US
Tuesday 27 October 2026 21:36:52 GMT
6700
503
20
1

Music

Download

Comments

baby.angel0929
Baby Angel :
that makeup is so fucking good! he's so gorgeous instantly I followed 🥰
2026-10-27 23:59:19
2
cjchainz2
CJ the magician, 🪄🧙‍♂️ :
Him when , it does not smell like cotton candy
2026-10-27 22:42:29
1
hanxleeknow4
minsung❣️ :
Makeup tea baddy
2026-10-27 21:41:57
0
karenfacebookmoms
𑣲┆𝘊𝘰𝘤𝘰𝘢 🍪 ˚.⋆ֹ :
I’m first
2026-10-27 21:39:19
0
mercedesnavarro080
Mercedes Navarro0 :
what a waste of money.
2026-10-27 23:10:21
4
shannongentry587
tawndee :
where are you from, I love your accent. ❤️
2026-10-27 23:46:41
0
thequeen11850
princess :
And I like your outfit
2026-10-28 00:49:01
0
jamie9934
Jamie389 :
Wan wan, let down 4my boo!💖💖💖
2026-10-28 00:10:42
0
4everrrr_57
4everrrr_. :
Early
2026-10-27 21:43:07
0
preston.dusek
Preston Dusek :
1
2026-10-27 21:41:34
0
layanalsubhi3
lulu :
Bag nah
2026-10-27 21:39:59
0
lllllll676767
Aoaowowowosjs :
First
2026-10-27 21:40:35
0
bellarobino
✨Your One And Only Patrica✨ :
Earlyyyy
2026-10-27 21:44:51
0
theyluvkayla59
Lvekayla :
cwoten candy
2026-10-27 21:47:59
0
layanalsubhi3
lulu :
I am
2026-10-27 21:40:00
0
layanalsubhi3
lulu :
For
2026-10-27 21:39:46
0
thequeen11850
princess :
Go back to the store and tell them to give you a fucking glitter dumpling, a rainbow, fucking dumpling fucking
2026-10-28 00:48:33
0
1_liu_1
🕸️liu🕸️ :
l love your make up
2026-10-27 21:39:48
0
lucylopez1144
lucylopez1144 :
[Heart eyes][Heart eyes][Heart eyes]
2026-10-27 21:39:56
0
kinsley.byers3
KINSLEY❤️🌸🍒✌️🤞🏻 :
😁😁😁
2026-10-28 02:04:23
0
To see more videos from user @itschrisfigueroa, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Pov: Sejak awal, Jay tidak pernah menutupi keinginannya untuk menjalani hidup hanya bersama kedua anaknya. Di usia mereka yang baru menginjak enam tahun, Zei dan Zein masih membutuhkan banyak perhatian terlebih kini mereka mulai mengenal dunia sekolah dengan segala hal baru di dalamnya. Jay tidak pernah benar-benar merencanakan kapan akan kembali membangun sebuah keluarga, sampai akhirnya ia bertemu denganmu. Pernikahan itu membawamu pada kehidupan yang sepenuhnya baru. Kamu tidak datang untuk mengambil tempat siapa pun, sebagaimana Jay pun tidak pernah memintamu menjadi seseorang yang bukan dirimu sendiri.  Kalian hanya dua orang dewasa yang kini berbagi rumah, belajar mengenal kebiasaan masing-masing, dan perlahan mencari cara agar dua anak kecil di tengah-tengah kalian bisa merasa nyaman dengan perubahan yang terjadi. Sebelum menikah, kamu sempat berjanji kepada ibu Jay bahwa kamu akan berusaha menjalani peran barumu dengan sebaik mungkin. Ia pun mengingatkan bahwa kamu tidak harus memaksakan diri jika suatu hari merasa tidak sanggup lagi. Janji itu masih kamu pegang sampai sekarang, sebulan setelah kamu resmi menjadi istri Jay. Namun, jangan bayangkan kamu akan terus memasang senyum manis di hadapan mereka, lalu menangis diam-diam di kamar mandi hanya karena ulah dua anak kecil. Tentu saja tidak. Semasa kuliah, kamu cukup sering mengikuti kegiatan sukarelawan yang mengharuskanmu berinteraksi dengan anak-anak dari berbagai usia. Pengalaman itu memang tidak lantas membuatmu ahli menghadapi setiap tingkah mereka, tetapi setidaknya kamu tahu bahwa mendekati anak-anak membutuhkan kesabaran, keluwesan, dan sedikit kreativitas. Dan kebetulan, kamu bukan orang yang kehabisan akal hanya karena berhadapan dengan dua bocah pendiam. Pagi itu, kalian baru saja selesai sarapan bersama. Meja makan memang tidak banyak diisi percakapan, tetapi kamu tidak terlalu mempermasalahkannya.  Bagimu, melihat tiga laki-laki berbeda generasi menghabiskan masakan buatanmu sudah merupakan pencapaian yang pantas dirayakan. Kamu sedang membereskan beberapa piring ketika Jay melirik jam tangannya, lalu menoleh kepada kedua putranya. “Abang, Adek, nanti perginya diantar Mama, ya.” Zein hanya bergumam pendek sebagai jawaban, sementara Zei hanya memberi respon berupa anggukan singkat saja. Mereka tampak biasa saja, seolah tidak ada yang istimewa dari perubahan jadwal pagi ini. Baiklah. Sepertinya hanya kamu yang sedikit bersemangat. “Aku pergi sekarang, ya. Makasih buat sarapan dan bekalnya.” Kamu segera menghampiri Jay yang sudah berdiri di dekat pintu. Setelah menyalami tangannya, kamu mengangguk kecil. “Iya, Mas. Hati-hati di jalan, ya.” “Iya, Sayang.” Jay tersenyum, lalu mengusap kepalamu sekilas.  “Nanti kalau Mas pulang lama, nggak usah ditungguin. Tidur aja kalau sudah ngantuk.” “Iya….” Jawabanmu terdengar biasa saja sebenaarnya, tetapi belum sempat Jay melangkah keluar sebuah suara dari meja makan mendadak menyela. “Manja.” Kamu menoleh pada sumber suara yang berasal dari Zein. Wajahnya tetap datar, bahkan matanya tidak beranjak dari sarapan. Kamu memandangnya dengan mata sedikit membesar,  Kamu kembali menatap Zein, lalu sengaja mengerucutkan bibir sebelum menjulurkan lidah sedikit kepadanya. “Anak kecil tutup mata aja, yaaa!” Kali ini, bukan hanya Zein yang mengangkat wajah. Zei, yang sejak tadi lebih banyak diam, ikut menoleh dengan ekspresi tidak terima.  “Kita udah besar! Kita bukan anak kecil!” Kamu terkekeh mendengar kekompakan mereka. Jarang-jarang kedua anak itu bisa sepakat secepat ini, meskipun sayangnya kesepakatan tersebut harus jatuh pada perkara yang sangat tidak penting. “Memangnya sudah besar dari mana?” Kamu melipat tangan di depan dada, memasang wajah sok serius sambil memperhatikan mereka bergantian.  “Masih kecil, tuh. Buktinya, masih tinggian aku.” Kamu mengangkat dagu sedikit, cukup yakin bahwa kali ini kamu akan menang.  “Lebih tinggian Papa daripada kamu,” sahut Zei membuatmu tercengang. + di sl/komen #enhypen #jay #fyp #foryou
Pov: Sejak awal, Jay tidak pernah menutupi keinginannya untuk menjalani hidup hanya bersama kedua anaknya. Di usia mereka yang baru menginjak enam tahun, Zei dan Zein masih membutuhkan banyak perhatian terlebih kini mereka mulai mengenal dunia sekolah dengan segala hal baru di dalamnya. Jay tidak pernah benar-benar merencanakan kapan akan kembali membangun sebuah keluarga, sampai akhirnya ia bertemu denganmu. Pernikahan itu membawamu pada kehidupan yang sepenuhnya baru. Kamu tidak datang untuk mengambil tempat siapa pun, sebagaimana Jay pun tidak pernah memintamu menjadi seseorang yang bukan dirimu sendiri. Kalian hanya dua orang dewasa yang kini berbagi rumah, belajar mengenal kebiasaan masing-masing, dan perlahan mencari cara agar dua anak kecil di tengah-tengah kalian bisa merasa nyaman dengan perubahan yang terjadi. Sebelum menikah, kamu sempat berjanji kepada ibu Jay bahwa kamu akan berusaha menjalani peran barumu dengan sebaik mungkin. Ia pun mengingatkan bahwa kamu tidak harus memaksakan diri jika suatu hari merasa tidak sanggup lagi. Janji itu masih kamu pegang sampai sekarang, sebulan setelah kamu resmi menjadi istri Jay. Namun, jangan bayangkan kamu akan terus memasang senyum manis di hadapan mereka, lalu menangis diam-diam di kamar mandi hanya karena ulah dua anak kecil. Tentu saja tidak. Semasa kuliah, kamu cukup sering mengikuti kegiatan sukarelawan yang mengharuskanmu berinteraksi dengan anak-anak dari berbagai usia. Pengalaman itu memang tidak lantas membuatmu ahli menghadapi setiap tingkah mereka, tetapi setidaknya kamu tahu bahwa mendekati anak-anak membutuhkan kesabaran, keluwesan, dan sedikit kreativitas. Dan kebetulan, kamu bukan orang yang kehabisan akal hanya karena berhadapan dengan dua bocah pendiam. Pagi itu, kalian baru saja selesai sarapan bersama. Meja makan memang tidak banyak diisi percakapan, tetapi kamu tidak terlalu mempermasalahkannya. Bagimu, melihat tiga laki-laki berbeda generasi menghabiskan masakan buatanmu sudah merupakan pencapaian yang pantas dirayakan. Kamu sedang membereskan beberapa piring ketika Jay melirik jam tangannya, lalu menoleh kepada kedua putranya. “Abang, Adek, nanti perginya diantar Mama, ya.” Zein hanya bergumam pendek sebagai jawaban, sementara Zei hanya memberi respon berupa anggukan singkat saja. Mereka tampak biasa saja, seolah tidak ada yang istimewa dari perubahan jadwal pagi ini. Baiklah. Sepertinya hanya kamu yang sedikit bersemangat. “Aku pergi sekarang, ya. Makasih buat sarapan dan bekalnya.” Kamu segera menghampiri Jay yang sudah berdiri di dekat pintu. Setelah menyalami tangannya, kamu mengangguk kecil. “Iya, Mas. Hati-hati di jalan, ya.” “Iya, Sayang.” Jay tersenyum, lalu mengusap kepalamu sekilas. “Nanti kalau Mas pulang lama, nggak usah ditungguin. Tidur aja kalau sudah ngantuk.” “Iya….” Jawabanmu terdengar biasa saja sebenaarnya, tetapi belum sempat Jay melangkah keluar sebuah suara dari meja makan mendadak menyela. “Manja.” Kamu menoleh pada sumber suara yang berasal dari Zein. Wajahnya tetap datar, bahkan matanya tidak beranjak dari sarapan. Kamu memandangnya dengan mata sedikit membesar, Kamu kembali menatap Zein, lalu sengaja mengerucutkan bibir sebelum menjulurkan lidah sedikit kepadanya. “Anak kecil tutup mata aja, yaaa!” Kali ini, bukan hanya Zein yang mengangkat wajah. Zei, yang sejak tadi lebih banyak diam, ikut menoleh dengan ekspresi tidak terima. “Kita udah besar! Kita bukan anak kecil!” Kamu terkekeh mendengar kekompakan mereka. Jarang-jarang kedua anak itu bisa sepakat secepat ini, meskipun sayangnya kesepakatan tersebut harus jatuh pada perkara yang sangat tidak penting. “Memangnya sudah besar dari mana?” Kamu melipat tangan di depan dada, memasang wajah sok serius sambil memperhatikan mereka bergantian. “Masih kecil, tuh. Buktinya, masih tinggian aku.” Kamu mengangkat dagu sedikit, cukup yakin bahwa kali ini kamu akan menang. “Lebih tinggian Papa daripada kamu,” sahut Zei membuatmu tercengang. + di sl/komen #enhypen #jay #fyp #foryou

About