@koji.reads: Did you know that there’s a Filipino translation of Antoine de Saint-Exupéry’s The Little Prince? It’s translated into the Filipino by Dr. Lilia F. Antonio, and published by Southern Voices Printing Press. I revisited Ang Munting Prinsipe at Chagee, where I ordered the Lime Cheese Matcha Latte! It’s part of Chagee’s Matcha Series, in partnership with The Little Prince ✨

Koji Arsua | Books 🇵🇭
Koji Arsua | Books 🇵🇭
Open In TikTok:
Region: PH
Thursday 29 October 2026 12:09:06 GMT
711
46
4
0

Music

Download

Comments

endlessevergreen
luna :
i have an ilonggo version!
2026-10-29 12:48:38
0
mumumultosakanto
mumumultosakanto :
hala, san po siya available 🥹
2026-10-29 12:36:05
0
To see more videos from user @koji.reads, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Banyak orang terjebak dalam sangkar agama yang mereka ciptakan sendiri. Mereka mengagungkan ritual, menghafal teks, dan memperketat batasan fisik, namun jiwa mereka tetap kerdil dan penuh kesombongan. Mereka sibuk mengurusi kulit luar, tetapi membiarkan isi di dalamnya membusuk.  Di sinilah letak tragedi terbesar manusia beragama: menjadikan aturan sebagai tujuan, bukan sebagai jalan menuju kesadaran. Syariat dan Hakikat bukanlah dua hal yang berseberangan, melainkan dua dimensi yang mutlak harus dipahami secara utuh. Tanpa memahami hubungannya, seseorang hanya akan menjadi robot syariat yang kering, bodoh, dengki, irih, kufur, merasa paling benar, mengatakan sesamanya seasat, atau penjelajah ilusi yang liar. ▪︎ Syariat: Pagar Pemagung Perilaku Manusia Syariat hadir untuk satu tugas utama: yaitu membatasi perilaku. Manusia dibekali nafsu yang liar, ego yang jahat, dan kecenderungan untuk merusak. Tanpa syariat, manusia akan bergerak seperti binatang yang hanya menuruti insting dan kepuasan sesaat.  > Syariat melarang kecurangan agar keadilan terjaga.  > Syariat mengatur cara beribadah agar fisik tunduk pada aturan.  > Syariat menetapkan hukum halal dan haram agar ketertiban hidup tidak runtuh. Namun, berhenti di syariat hanya akan membuat seseorang menjadi formalis tanpa ruh. Ia patuh bukan karena sadar, melainkan karena takut pada ancaman atau haus akan pahala. Ia menjalankan hukum, tetapi hatinya tetap terikat pada dunia. Syariat adalah rem, tetapi rem tidak pernah bisa menjalankan mobil menuju tujuan. ▪︎ Hakikat: Membongkar Alasan di Balik Aturan Jika syariat bertugas memagari fisik, maka hakikat bertugas membongkar alasan di balik pemagaran tersebut. Hakikat menembus dinding-dinding ritual untuk menelanjangi motivasi terdalam manusia. Mengapa syariat melarang kesombongan? Hakikat membongkar jawabannya: sebab kesombongan adalah klaim sepihak atas keagungan yang hanya milik Sang Pencipta. Ketika seseorang merasa lebih mulia dari orang lain hanya karena amal syariatnya lebih banyak, di situlah hakikat membongkar bahwa amalnya sebenarnya telah batal oleh kepalsuan jiwanya.  > Secara syariat, Anda shalat lima waktu tepat di shaf depan.  > Secara hakikat, shalat itu tawar jika di dalam dada Anda masih tersimpan dahaga akan pujian dan pengakuan manusia. Hakikat menuntut kejujuran radikal. Ia tidak bisa ditipu oleh kopyah, jubah, atau deretan gelar keagamaan. Hakikat memaksa manusia bertatap muka dengan kebenaran yang paling telanjang: Untuk siapa sebenarnya seluruh perilaku Anda selama ini? ▪︎ Beragama Tanpa Ilusi Seseorang yang hanya memegang syariat tanpa hakikat akan jatuh pada keangkuhan merasa paling benar. Sebaliknya, siapa yang mengaku memegang hakikat tanpa syariat akan terperosok ke dalam kesesatan dan kepalsuan. Syariat adalah rambu-rambu yang menertibkan langkah kaki, sementara hakikat adalah cahaya yang menerangi mata hati agar tahu ke mana langkah itu berlabuh. Jangan bangga hanya karena Anda telah mematuhi batasan perilaku, jika Anda belum pernah berani membongkar alasan dan niat di balik perilaku tersebut. Sudah saatnya berhenti beragama sebatas formalitas kulit luar. Tundukkan fisikmu dengan syariat, dan bedah jiwamu dengan hakikat dari sekarang!
Banyak orang terjebak dalam sangkar agama yang mereka ciptakan sendiri. Mereka mengagungkan ritual, menghafal teks, dan memperketat batasan fisik, namun jiwa mereka tetap kerdil dan penuh kesombongan. Mereka sibuk mengurusi kulit luar, tetapi membiarkan isi di dalamnya membusuk. Di sinilah letak tragedi terbesar manusia beragama: menjadikan aturan sebagai tujuan, bukan sebagai jalan menuju kesadaran. Syariat dan Hakikat bukanlah dua hal yang berseberangan, melainkan dua dimensi yang mutlak harus dipahami secara utuh. Tanpa memahami hubungannya, seseorang hanya akan menjadi robot syariat yang kering, bodoh, dengki, irih, kufur, merasa paling benar, mengatakan sesamanya seasat, atau penjelajah ilusi yang liar. ▪︎ Syariat: Pagar Pemagung Perilaku Manusia Syariat hadir untuk satu tugas utama: yaitu membatasi perilaku. Manusia dibekali nafsu yang liar, ego yang jahat, dan kecenderungan untuk merusak. Tanpa syariat, manusia akan bergerak seperti binatang yang hanya menuruti insting dan kepuasan sesaat. > Syariat melarang kecurangan agar keadilan terjaga. > Syariat mengatur cara beribadah agar fisik tunduk pada aturan. > Syariat menetapkan hukum halal dan haram agar ketertiban hidup tidak runtuh. Namun, berhenti di syariat hanya akan membuat seseorang menjadi formalis tanpa ruh. Ia patuh bukan karena sadar, melainkan karena takut pada ancaman atau haus akan pahala. Ia menjalankan hukum, tetapi hatinya tetap terikat pada dunia. Syariat adalah rem, tetapi rem tidak pernah bisa menjalankan mobil menuju tujuan. ▪︎ Hakikat: Membongkar Alasan di Balik Aturan Jika syariat bertugas memagari fisik, maka hakikat bertugas membongkar alasan di balik pemagaran tersebut. Hakikat menembus dinding-dinding ritual untuk menelanjangi motivasi terdalam manusia. Mengapa syariat melarang kesombongan? Hakikat membongkar jawabannya: sebab kesombongan adalah klaim sepihak atas keagungan yang hanya milik Sang Pencipta. Ketika seseorang merasa lebih mulia dari orang lain hanya karena amal syariatnya lebih banyak, di situlah hakikat membongkar bahwa amalnya sebenarnya telah batal oleh kepalsuan jiwanya. > Secara syariat, Anda shalat lima waktu tepat di shaf depan. > Secara hakikat, shalat itu tawar jika di dalam dada Anda masih tersimpan dahaga akan pujian dan pengakuan manusia. Hakikat menuntut kejujuran radikal. Ia tidak bisa ditipu oleh kopyah, jubah, atau deretan gelar keagamaan. Hakikat memaksa manusia bertatap muka dengan kebenaran yang paling telanjang: Untuk siapa sebenarnya seluruh perilaku Anda selama ini? ▪︎ Beragama Tanpa Ilusi Seseorang yang hanya memegang syariat tanpa hakikat akan jatuh pada keangkuhan merasa paling benar. Sebaliknya, siapa yang mengaku memegang hakikat tanpa syariat akan terperosok ke dalam kesesatan dan kepalsuan. Syariat adalah rambu-rambu yang menertibkan langkah kaki, sementara hakikat adalah cahaya yang menerangi mata hati agar tahu ke mana langkah itu berlabuh. Jangan bangga hanya karena Anda telah mematuhi batasan perilaku, jika Anda belum pernah berani membongkar alasan dan niat di balik perilaku tersebut. Sudah saatnya berhenti beragama sebatas formalitas kulit luar. Tundukkan fisikmu dengan syariat, dan bedah jiwamu dengan hakikat dari sekarang!

About