@mysteriousmike6: I dwell in my reality nothing concern me and fake life #fyp #ticktok

Mysteriousmike⚓️🚀
Mysteriousmike⚓️🚀
Open In TikTok:
Region: US
Thursday 29 October 2026 18:36:17 GMT
129
12
1
0

Music

Download

Comments

odinaka.peter0
DAVIDSON ✂️ :
my boss
2026-10-29 18:39:30
0
To see more videos from user @mysteriousmike6, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

MANUSIA ADALAH IBLIS YANG SEBENARNYA.  Pernah nggak lo berpikir, bagaimana kalau iblis yang selama ini kita takuti sebenarnya bukan makhluk bertanduk atau sosok menyeramkan seperti dalam cerita? Bagaimana kalau iblis justru bisa berwujud manusia? Kedengarannya berlebihan, tetapi coba lihat apa yang mampu dilakukan manusia. Demi uang, seseorang bisa mengkhianati orang yang sudah mempercayainya. Demi kekuasaan, seseorang bisa mengorbankan banyak kehidupan. Demi ambisi, seseorang bahkan sanggup menghancurkan masa depan orang lain tanpa merasa bersalah. Yang lebih mengerikan, pelakunya tidak selalu terlihat jahat. Mereka bisa tersenyum, berbicara ramah, dan tampil seolah-olah paling peduli. Kejahatan tidak selalu datang dengan wajah menyeramkan. Kadang, ia datang dari orang yang justru kita percaya. Lihat saja sejarah. Perang, penjajahan, pengkhianatan, dan pembantaian sering lahir dari keserakahan serta perebutan kekuasaan. Banyak orang kehilangan keluarga dan tempat tinggal karena keputusan segelintir manusia yang mengejar kejayaan. Mereka yang memulai kehancuran bahkan sering membungkus ambisinya dengan alasan kehormatan, kepentingan bangsa, atau kebenaran. Ironisnya, manusia juga tahu rasanya sakit, takut, dan kehilangan. Mereka tahu bagaimana rasanya diperlakukan tidak adil. Namun, pengetahuan itu tidak selalu membuat mereka berempati. Ada yang tetap menyakiti orang lain, seolah penderitaan hanya penting ketika dirinya sendiri yang mengalaminya. Manusia punya kemampuan untuk membedakan benar dan salah. Tetapi mengetahui sesuatu itu salah tidak otomatis membuat seseorang berhenti melakukannya. Keserakahan bisa mengalahkan belas kasihan. Ego bisa menutupi rasa bersalah. Dan ambisi bisa membuat orang menganggap siapa pun yang menghalangi tujuannya sebagai musuh. Di situlah sisi gelap manusia terlihat: bukan sekadar mampu berbuat jahat, tetapi mampu mencari pembenaran atas kejahatannya sendiri. Mereka bisa menyebut pengkhianatan sebagai strategi, penindasan sebagai ketertiban, atau kekejaman sebagai pengorbanan yang diperlukan. Kata-kata berubah menjadi topeng untuk menutupi kenyataan. Iblis sering digambarkan sebagai lambang godaan dan kejahatan. Namun, manusia memiliki pilihan dan tanggung jawab atas tindakannya. Ia bisa memahami akibat perbuatannya, lalu tetap memilih jalan yang menyakiti orang lain. Itulah yang membuat gagasan
MANUSIA ADALAH IBLIS YANG SEBENARNYA. Pernah nggak lo berpikir, bagaimana kalau iblis yang selama ini kita takuti sebenarnya bukan makhluk bertanduk atau sosok menyeramkan seperti dalam cerita? Bagaimana kalau iblis justru bisa berwujud manusia? Kedengarannya berlebihan, tetapi coba lihat apa yang mampu dilakukan manusia. Demi uang, seseorang bisa mengkhianati orang yang sudah mempercayainya. Demi kekuasaan, seseorang bisa mengorbankan banyak kehidupan. Demi ambisi, seseorang bahkan sanggup menghancurkan masa depan orang lain tanpa merasa bersalah. Yang lebih mengerikan, pelakunya tidak selalu terlihat jahat. Mereka bisa tersenyum, berbicara ramah, dan tampil seolah-olah paling peduli. Kejahatan tidak selalu datang dengan wajah menyeramkan. Kadang, ia datang dari orang yang justru kita percaya. Lihat saja sejarah. Perang, penjajahan, pengkhianatan, dan pembantaian sering lahir dari keserakahan serta perebutan kekuasaan. Banyak orang kehilangan keluarga dan tempat tinggal karena keputusan segelintir manusia yang mengejar kejayaan. Mereka yang memulai kehancuran bahkan sering membungkus ambisinya dengan alasan kehormatan, kepentingan bangsa, atau kebenaran. Ironisnya, manusia juga tahu rasanya sakit, takut, dan kehilangan. Mereka tahu bagaimana rasanya diperlakukan tidak adil. Namun, pengetahuan itu tidak selalu membuat mereka berempati. Ada yang tetap menyakiti orang lain, seolah penderitaan hanya penting ketika dirinya sendiri yang mengalaminya. Manusia punya kemampuan untuk membedakan benar dan salah. Tetapi mengetahui sesuatu itu salah tidak otomatis membuat seseorang berhenti melakukannya. Keserakahan bisa mengalahkan belas kasihan. Ego bisa menutupi rasa bersalah. Dan ambisi bisa membuat orang menganggap siapa pun yang menghalangi tujuannya sebagai musuh. Di situlah sisi gelap manusia terlihat: bukan sekadar mampu berbuat jahat, tetapi mampu mencari pembenaran atas kejahatannya sendiri. Mereka bisa menyebut pengkhianatan sebagai strategi, penindasan sebagai ketertiban, atau kekejaman sebagai pengorbanan yang diperlukan. Kata-kata berubah menjadi topeng untuk menutupi kenyataan. Iblis sering digambarkan sebagai lambang godaan dan kejahatan. Namun, manusia memiliki pilihan dan tanggung jawab atas tindakannya. Ia bisa memahami akibat perbuatannya, lalu tetap memilih jalan yang menyakiti orang lain. Itulah yang membuat gagasan "manusia adalah iblis yang sebenarnya" terasa begitu mengganggu. Tentu, bukan berarti semua manusia jahat. Ada orang-orang yang menolong tanpa pamrih, melindungi yang lemah, dan tetap memilih kebaikan meski tidak mendapat keuntungan. Mereka membuktikan bahwa manusia juga mampu menjadi sumber harapan. Jadi, persoalannya bukan apakah manusia terlahir sebagai iblis atau malaikat. Persoalannya adalah pilihan yang dibuatnya. Ketika keserakahan, kebencian, dan kekuasaan lebih penting daripada nyawa serta martabat sesama, sisi paling gelap manusia mengambil alih. Mungkin monster paling menakutkan bukanlah makhluk yang bersembunyi di kegelapan. Bisa jadi, ia adalah manusia biasa yang memakai wajah ramah, mengucapkan kata-kata manis, tetapi tidak lagi peduli pada penderitaan orang lain. Karena terkadang, iblis tidak perlu datang dari neraka. Ia cukup muncul ketika manusia kehilangan rasa kemanusiaannya. #SisiGelapManusia #Filosof #PsikologiManusia #SejarahKelam #RenunganHidup #DarkPhilosophy

About