@mamariam.official: Semakan kesesuaian diri🤩 🎉 Klik beg kuning dan pilih pakej 3 botol. Percuma 1 jar 17 sachet. Semak harga dan butiran hadiah sebelum bayar #mamariam #mamariam10tahun #paydaysale

MAMARIAM HQ I Solusi Ibu Hamil
MAMARIAM HQ I Solusi Ibu Hamil
Open In TikTok:
Region: MY
Friday 30 October 2026 06:30:00 GMT
14
0
0
0

Music

Download

Comments

There are no more comments for this video.
To see more videos from user @mamariam.official, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Pada musim panas 1988 ketika Chiara berumur 17 tahun, dia mengalami sakit bahu yang intens. Awalnya, para dokter memberi resep obat penghilang rasa sakit. Mereka berpikir itu hanya masalah otot.  Tapi ketika rasa sakit berlanjut, mereka melakukan tes lebih lanjut. Hasilnya sungguh menyedihkan: Chiara mengalami kanker tulang yang ganas.  Awalnya Chiara merasa hancur. Tetapi dengan cepat ia belajar mengatakan
Pada musim panas 1988 ketika Chiara berumur 17 tahun, dia mengalami sakit bahu yang intens. Awalnya, para dokter memberi resep obat penghilang rasa sakit. Mereka berpikir itu hanya masalah otot. Tapi ketika rasa sakit berlanjut, mereka melakukan tes lebih lanjut. Hasilnya sungguh menyedihkan: Chiara mengalami kanker tulang yang ganas. Awalnya Chiara merasa hancur. Tetapi dengan cepat ia belajar mengatakan "ya" kepada Yesus di tengah-tengah penderitaan terbesarnya. Di tengah kepedihan, ia tetap memiliki sukacita rohani dan alih-alih melihatnya sebagai kutukan, ia justru mempersembahkan semua sakitnya sebagai pengorbanan kepada Tuhan. Ia terus berkata, "Untuk Engkau, Yesus, jika Engkau menginginkannya, aku menginginkannya juga!" Chiara menghabiskan dua tahun berikutnya menderita rasa sakit luar biasa karena kanker tulang ganas dan langka. Hebatnya, Chiara tetap menampilkan kegembiraan. Ia tampak selalu gembira, sehingga dia diberi nama "Luce", "cahaya". Di awal kemoterapi, Chiara kehilangan fungsi kakinya. Dia menulis, “Aku merasa sangat kecil. Jalan begitu sulit. Saya sering merasa tertekan oleh rasa sakit, tapi saya sudah terbiasa mengulangi: 'Untuk-Mu, Yesus: jika Engkau menginginkan ini, saya juga!" Banyak orang memberi kesaksian, senyum Chiara dan ketulusannya tidak pernah berhenti. Bahkan keluarganya akan membuatnya bernyanyi saat dia sendirian. Di tengah deritanya, ia tetap tampil seperti magnet yang selalu menarik bagi orang-orang yang mengunjunginya. Pada hari diagnosis, ibu Chiara melaporkan bahwa ketika Chiara pulang, ia jatuh di tempat tidurnya selama 25 menit. Dia ingat: “dari ekspresi wajahnya saya bisa melihat perjuangannya. Dia telah mengatakan ya kepada Tuhan berkali-kali... Sekarang dia harus mengatakannya dalam penderitaan terbesarnya. ... Setelah dua puluh lima menit... dia berpaling padaku. ... Chiara butuh dua puluh lima menit untuk mengatakan ya, tetapi dia tidak pernah kembali." Penderitaanya seperti penderitaan di Getsemani. Ia berdoa, berjuang, sampai berkeringat darah. Seperti Kristus, ia menyerahkan dirinya kepada kehendak Tuhan. Dia menanggung semua seperti Yesus telah menanggung semua. Setiap kali morfin (obat penghilang rasa sakit) ditawarkan, dia menolaknya. Ia berkata, "Itu mengurangi kejernihan saya... Hanya ada satu hal yang dapat saya lakukan sekarang: mempersembahkan penderitaan saya kepada Yesus, karena saya ingin berbagi sebanyak mungkin penderitaan-Nya di kayu salib. " Ajaibnya, saat ia mengalami penderitaan yang paling dalam, saat itu pula sukacita yang paling jelas tampak terlihat dalam dirinya. Salah satu dokternya ingat, "melalui senyumnya, dan melalui matanya yang penuh cahaya, dia menunjukkan kepada kita bahwa kematian tidak ada; hanya kehidupan yang ada." Menjelang akhir hidupnya dia berkata kepada ibunya, "Jangan meneteskan air mata untukku. Aku akan pergi kepada Yesus. Di pemakaman saya, saya tidak ingin ada orang menangis, tetapi bernyanyilah dengan sepenuh hati." Dia juga meminta untuk dikebumikan dengan mengenakan gaun pengantin, melambangkan bagaimana dia akan selamanya bersatu dengan Yesus di surga. Chiara Badano meninggal dunia ini pada 7 Oktober 1990, tidak jauh dari ulang tahunnya yang ke-19. Dia pergi menemui Yesus dengan kata-kata, "Selamat tinggal. Berbahagialah karena aku bahagia."

About