sapi :
Awalnya, suasana di meja itu bener-bener garing dan kaku. Rian memesan kopi hitam, terus sibuk mainin jarinya—kebiasaan lama dia kalau lagi grogi. Sinta cuma bisa diam, tapi hidungnya langsung mengenali aroma parfum Rian yang gak pernah berubah dari dulu. Memori masa lalu langsung berputar lagi di otaknya.
"Kamu apa kabar, Sin?" tanya Rian duluan, berusaha memecah keheningan.
"Baik. Kayak yang kamu lihat," jawab Sinta ketus, mencoba sok cuek padahal dadanya lagi bergemuruh hebat. "Kamu sendiri gimana? Kapan balik?"
"Dua minggu lalu. Aku... sebenernya pengen nyari kamu, Sin. Tapi aku bingung harus mulai dari mana," kata Rian sambil menatap mata Sinta dalam-dalam. Tatapannya penuh rasa bersalah.
Mendengar kalimat itu, pertahanan Sinta runtuh. Rasa sakit hati yang dia pendam sendirian selama tiga tahun langsung meledak.
"Nyari aku?" Sinta tertawa getir, suaranya agak meninggi sampai orang di meja sebelah sempat menoleh. "Setelah tiga tahun hilang kayak hantu? Kamu block semua medsos aku, Rian. Kamu pergi pas kita lagi sayang-sayangnya, lagi ngerencanain masa depan. Terus sekarang dengan gampangnya bilang mau nyari aku?"
2026-10-30 13:13:22