@inamkhaksar7966: ہمارے جلسوں میں خواجہ آصف کی اوقات

انعام سمالانی
انعام سمالانی
Open In TikTok:
Region: PK
Friday 30 October 2026 07:54:13 GMT
11729
1690
100
129

Music

Download

Comments

shoaib.rehaman
Shoaib Rehaman :
2026-10-30 13:41:51
7
haidarali164haida267
haidarali267 :
2026-10-30 14:04:06
4
shaidkhan6587
shaidkhan6587 :
2026-10-30 13:40:34
6
abw_abbasi
ˢᵃʳᵏᵃʳᴀɴᴀꜱ ʙɪɴ ᴡᴀQᴀʀ ᴀʙʙᴀꜱɪ :
✨
2026-10-30 19:07:29
1
user413142153358
خاموش :
2026-10-30 13:00:02
3
userjalal1122338
جلال قمی :
2026-10-30 20:15:44
0
wedran.khan1
Wedran Khan :
2026-10-30 19:13:04
0
shanii.khan33
🌹محمد عمران خان پہوڑ🌹 :
2026-10-30 19:51:31
0
sdahqatsafi
Sadaqath jui khan :
2026-10-30 15:42:23
0
mowlana100
طائر :
2026-10-30 12:56:56
0
saeedulla002
11111 :
2026-10-30 12:22:14
0
user3577571482605
مزمل پندرانی :
🥰🥰🥰
2026-10-30 23:22:35
0
talhamahmood154
Talha mahmood :
🥰🥰🥰
2026-10-30 18:23:24
0
musa.khan8186
Musa khan :
🥰🥰🥰
2026-10-30 23:06:06
0
.ahad542
✮⃝Ahad✮࿐, 💀 :
😂😂😂
2026-10-30 19:36:10
0
shafiq.ahmad560
Shafiq Ahmad JUI :
😂😂😂
2026-10-30 19:30:57
0
user1033297772367
Murtaza :
💖💖💖
2026-10-30 21:29:21
0
tiktok.comdyh98n6x0atp
ہدایت لللہ دل کوہستانی :
[Big LOL][Big LOL][Big LOL]
2026-10-30 19:22:18
0
shop.phone954
Shop Phone :
🥰🥰🥰
2026-10-30 20:28:44
0
irshadrajput06
Irshad Rajput :
🥰🥰🥰
2026-10-30 19:09:45
0
grbaloch727
محمد زی :
😁😁😁
2026-10-30 18:48:45
0
ghaziuser1408039656997
GHAZI MARJAN AURAkZAi :
[Like][Like][Like]
2026-10-30 18:34:47
0
gujjar009naveed
Bilal Khan :
😡😡😡
2026-10-30 18:30:12
0
hafizmuhmmdtariquebrohi
حافظ محمد طارق بروھی :
[Starry hearts][Starry hearts][Starry hearts]
2026-10-30 18:28:45
0
user6722767690
عبداللہ :
💯💯💯
2026-10-30 07:58:07
0
To see more videos from user @inamkhaksar7966, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Ungkapan ini menyentuh salah satu paradoks paling mendalam dalam tradisi tasawuf (sufisme), yaitu tentang bagaimana kondisi lahiriah seseorang tidak selalu mencerminkan kondisi batin (hati)-nya di hadapan Allah SWT. ​Dalam pandangan para sufi, arah perjalanan spiritual seseorang sangat ditentukan oleh kondisi hati, yaitu antara kesadaran akan fakir (iftiqar) dan terpedaya (ighrar). > ​1. Menemukan Tuhan di Kedalaman Dosa.  ​(Melalui Pintu Penyesalan dan Hancurnya Kesombongan): ​Bagaimana mungkin seseorang menemukan Tuhan dalam dosa? Bukan dosanya yang mendekatkan dia kepada Allah, melainkan kehancuran diri (inkisar) dan penyesalan mendalam yang lahir setelah berdosa. ​Terbohonginya Kesombongan Diri: Ketika seseorang jatuh ke dalam dosa yang kelam, rasa bangga (ujub) dan kesombongan jiwanya hancur. Ia sadar betapa lemah dan kotor dirinya. ​Lahirnya Rasa Iftiqar (Sangat Membutuhkan God): Di titik terendah itu, tidak ada lagi benteng kesombongan yang bisa ia banggakan. Ia merasa tidak punya apa-apa dan tidak bisa mengandalkan siapa pun selain rahmat Allah. ​Pertobatan yang Murni (Taubatan Nasuha): Dalam tasawuf, tangisan seorang pendosa yang menyesal jauh lebih dicintai Allah daripada kesombongan seorang ahli ibadah yang merasa suci. ​Ibnu Ata'illah as-Sakandari dalam kitab Al-Hikam menegaskan hal ini: ​ ​2. Kehilangan Tuhan di Puncak Kenikmatan. ​(Melalui Pintu Terpedaya dan Kelalaian): ​Sebaliknya, bagaimana seseorang bisa kehilangan Tuhan di tengah kenikmatan, keberkahan, atau bahkan kelancaran hidup? ​Jebakan Istidraj (Jebakan Kenikmatan): Istidraj adalah kondisi di mana Allah terus memberikan kenikmatan, kemudahan, atau bahkan keberhasilan ibadah kepada seseorang, padahal hatinya kian menjauh dari-Nya. Ia mengira kenikmatan itu adalah bentuk "keridaan" Allah, padahal itu adalah ujian yang perlahan mengujinya. ​Hati yang Tertutup (Ghaflah / Kelalaian): Saat berada di puncak nikmat—baik nikmat harta, kedudukan, atau bahkan kenikmatan merasa "orang saleh"—seseorang rentan terkena penyakit ujub (merasa hebat) dan takabbur. Ia mulai merasa semua itu adalah hasil upayanya sendiri. ​Menyembah Nikmat, Bukan Sang Pemberi Nikmat: Fokus hatinya bergeser dari Allah (Al-Mun'im) kepada nikmat itu sendiri (An-Ni'mah). Ketika hati sudah terikat pada dunia dan kenyamanan, rasa membutuhkan (iftiqar) kepada Allah menjadi tumpul. ​​Kesimpulan: Bagi kaum sufi, Tuhan tidak ditemukan pada tempat atau status sosial/ibadah seseorang, melainkan pada keheningan dan keinsafan hatinya. Dosa yang meruntuhkan kesombongan bisa menjadi pintu hidayah, sedangkan nikmat yang membuai bisa menjadi tembok tebal (hijab) yang menghalangi pandangan hati dari Sang Pencipta. IKUTI NGAJI LIVE #buyachozin Setiap pagi ⏰ 05.30 Wib. #ngajiroso #ngaji #allah #fy " width="135" height="240">
Ungkapan ini menyentuh salah satu paradoks paling mendalam dalam tradisi tasawuf (sufisme), yaitu tentang bagaimana kondisi lahiriah seseorang tidak selalu mencerminkan kondisi batin (hati)-nya di hadapan Allah SWT. ​Dalam pandangan para sufi, arah perjalanan spiritual seseorang sangat ditentukan oleh kondisi hati, yaitu antara kesadaran akan fakir (iftiqar) dan terpedaya (ighrar). > ​1. Menemukan Tuhan di Kedalaman Dosa. ​(Melalui Pintu Penyesalan dan Hancurnya Kesombongan): ​Bagaimana mungkin seseorang menemukan Tuhan dalam dosa? Bukan dosanya yang mendekatkan dia kepada Allah, melainkan kehancuran diri (inkisar) dan penyesalan mendalam yang lahir setelah berdosa. ​Terbohonginya Kesombongan Diri: Ketika seseorang jatuh ke dalam dosa yang kelam, rasa bangga (ujub) dan kesombongan jiwanya hancur. Ia sadar betapa lemah dan kotor dirinya. ​Lahirnya Rasa Iftiqar (Sangat Membutuhkan God): Di titik terendah itu, tidak ada lagi benteng kesombongan yang bisa ia banggakan. Ia merasa tidak punya apa-apa dan tidak bisa mengandalkan siapa pun selain rahmat Allah. ​Pertobatan yang Murni (Taubatan Nasuha): Dalam tasawuf, tangisan seorang pendosa yang menyesal jauh lebih dicintai Allah daripada kesombongan seorang ahli ibadah yang merasa suci. ​Ibnu Ata'illah as-Sakandari dalam kitab Al-Hikam menegaskan hal ini: ​"Maksiat yang melahirkan rasa hina dan sangat membutuhkan Allah lebih baik daripada ketaatan yang melahirkan rasa bangga dan kesombongan." > ​2. Kehilangan Tuhan di Puncak Kenikmatan. ​(Melalui Pintu Terpedaya dan Kelalaian): ​Sebaliknya, bagaimana seseorang bisa kehilangan Tuhan di tengah kenikmatan, keberkahan, atau bahkan kelancaran hidup? ​Jebakan Istidraj (Jebakan Kenikmatan): Istidraj adalah kondisi di mana Allah terus memberikan kenikmatan, kemudahan, atau bahkan keberhasilan ibadah kepada seseorang, padahal hatinya kian menjauh dari-Nya. Ia mengira kenikmatan itu adalah bentuk "keridaan" Allah, padahal itu adalah ujian yang perlahan mengujinya. ​Hati yang Tertutup (Ghaflah / Kelalaian): Saat berada di puncak nikmat—baik nikmat harta, kedudukan, atau bahkan kenikmatan merasa "orang saleh"—seseorang rentan terkena penyakit ujub (merasa hebat) dan takabbur. Ia mulai merasa semua itu adalah hasil upayanya sendiri. ​Menyembah Nikmat, Bukan Sang Pemberi Nikmat: Fokus hatinya bergeser dari Allah (Al-Mun'im) kepada nikmat itu sendiri (An-Ni'mah). Ketika hati sudah terikat pada dunia dan kenyamanan, rasa membutuhkan (iftiqar) kepada Allah menjadi tumpul. ​​Kesimpulan: Bagi kaum sufi, Tuhan tidak ditemukan pada tempat atau status sosial/ibadah seseorang, melainkan pada keheningan dan keinsafan hatinya. Dosa yang meruntuhkan kesombongan bisa menjadi pintu hidayah, sedangkan nikmat yang membuai bisa menjadi tembok tebal (hijab) yang menghalangi pandangan hati dari Sang Pencipta. IKUTI NGAJI LIVE #buyachozin Setiap pagi ⏰ 05.30 Wib. #ngajiroso #ngaji #allah #fy

About