@skyelerdancer:

💙💋𝒮.ℛ💙💋
💙💋𝒮.ℛ💙💋
Open In TikTok:
Region: IE
Saturday 31 October 2026 22:34:33 GMT
389
48
0
0

Music

Download

Comments

There are no more comments for this video.
To see more videos from user @skyelerdancer, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Dulu, monolog ini lahir dari sebuah tugas kuliah. Aku mengambil cerpen Seno Gumira Ajidarma, Aku Pembunuh Munir, lalu mencoba mengalihwahanakannya menjadi sebuah pertunjukan monolog. Tapi dalam prosesnya, aku sadar bahwa karya ini bukan sekadar tentang bagaimana memainkan sebuah teks. Aku mulai membongkar kembali: siapa Munir? mengapa kematiannya begitu penting? siapa yang diuntungkan dari sebuah pembunuhan yang tak pernah benar-benar menemukan titik terang? dan kenapa sebuah bangsa bisa begitu lama hidup bersama pertanyaan yang tak kunjung dijawab? Semakin jauh aku mengenal Munir, semakin aku merasa bahwa monolog ini bukan sedang bercerita tentang masa lalu. Ia sedang berbicara tentang hari ini. Tentang kekuasaan yang terus berganti wajah, tetapi sering kali mempertahankan cara kerja yang sama. Tentang ingatan yang perlahan dibuat samar. Tentang keadilan yang terus ditunda sampai publik lelah untuk bertanya. Dan ketika aku melihat kembali kondisi rezim hari ini, ada perasaan yang sulit dihindari: kita seperti sedang menyaksikan kemunduran yang seharusnya sudah kita lewati. Monolog ini mungkin dibuat bertahun-tahun lalu untuk memenuhi kebutuhan akademik. Tapi hari ini, ketika aku melihatnya kembali, pertanyaannya justru terasa semakin aktual: Apa yang sebenarnya berubah? Mungkin karya seni tidak selalu punya kekuatan untuk menyelesaikan sebuah persoalan. Tapi setidaknya ia punya kemampuan untuk menjaga sesuatu tetap hidup: ingatan, pertanyaan, dan kegelisahan. Karena ketika negara gagal memberi jawaban, barangkali tugas kita adalah terus bertanya.  #mahasiswa #ham #hukum
Dulu, monolog ini lahir dari sebuah tugas kuliah. Aku mengambil cerpen Seno Gumira Ajidarma, Aku Pembunuh Munir, lalu mencoba mengalihwahanakannya menjadi sebuah pertunjukan monolog. Tapi dalam prosesnya, aku sadar bahwa karya ini bukan sekadar tentang bagaimana memainkan sebuah teks. Aku mulai membongkar kembali: siapa Munir? mengapa kematiannya begitu penting? siapa yang diuntungkan dari sebuah pembunuhan yang tak pernah benar-benar menemukan titik terang? dan kenapa sebuah bangsa bisa begitu lama hidup bersama pertanyaan yang tak kunjung dijawab? Semakin jauh aku mengenal Munir, semakin aku merasa bahwa monolog ini bukan sedang bercerita tentang masa lalu. Ia sedang berbicara tentang hari ini. Tentang kekuasaan yang terus berganti wajah, tetapi sering kali mempertahankan cara kerja yang sama. Tentang ingatan yang perlahan dibuat samar. Tentang keadilan yang terus ditunda sampai publik lelah untuk bertanya. Dan ketika aku melihat kembali kondisi rezim hari ini, ada perasaan yang sulit dihindari: kita seperti sedang menyaksikan kemunduran yang seharusnya sudah kita lewati. Monolog ini mungkin dibuat bertahun-tahun lalu untuk memenuhi kebutuhan akademik. Tapi hari ini, ketika aku melihatnya kembali, pertanyaannya justru terasa semakin aktual: Apa yang sebenarnya berubah? Mungkin karya seni tidak selalu punya kekuatan untuk menyelesaikan sebuah persoalan. Tapi setidaknya ia punya kemampuan untuk menjaga sesuatu tetap hidup: ingatan, pertanyaan, dan kegelisahan. Karena ketika negara gagal memberi jawaban, barangkali tugas kita adalah terus bertanya. #mahasiswa #ham #hukum

About