@adhen_thre: 1. Cara Menyikapi Pikiran (Disadari vs. Tidak Disadari) Pikiran yang Tidak Disadari (Otomatis): Ini adalah saat Anda hanyut di dalam pikiran. Tiba-tiba Anda melamun, cemas tentang masa depan, atau marah tanpa sadar bahwa Anda sedang berpikir. Cara mengatasinya: Cukup sadari titik kejut kesadaran (the waking up moment). Saat tersadar, jangan dihakimi atau dilawan. Cukup akui: "Oh, tadi aku sedang terseret arus pikiran." Pengakuan ini langsung menarik Anda kembali menjadi Sang Pengamat. Pikiran yang Disadari: Ini adalah saat pikiran muncul, dan Anda tahu persis bahwa pikiran itu sedang melintas di layar kesadaran tanpa Anda harus melekat padanya. Cara mengikutinya: Biarkan ia mengalir seperti awan di langit. Anda tidak perlu mengejarnya, tidak perlu menolaknya, dan tidak perlu percaya 100%. Amati saja bentuknya, ke mana arahnya, lalu biarkan ia berlalu dengan sendirinya. 2. Sikap Perasaan dan Emosi Harus Bagaimana? Sikap terbaik terhadap perasaan dan emosi adalah menerima kehadirannya secara netral tanpa reaktif. Jangan menolak/menekan (suppression): Menolak emosi (seperti rasa marah, sedih, atau kecewa) justru akan membuat energi emosi tersebut semakin kuat di dalam tubuh. Jangan meledak atau hanyut (identification): Jangan langsung bereaksi membabi buta atau percaya bahwa "Akulah kemarahan itu." Gunakan Kesadaran Somatik (Tubuh): Rasakan sensasi fisik dari emosi tersebut di tubuh (misalnya dada yang sesak, perut yang tegang, atau rahang yang mengeras). Amati sensasi murni itu sebagai energi netral yang sedang numpang lewat di badan. Bagian 3: Mana duluan? Pikiran ➔ Perasaan ➔ Emosi ATAU Emosi ➔ Perasaan ➔ Pikiran? Secara mekanisme psikologis dan neurosains kontemporer (didukung oleh pemahaman kesadaran murni), urutan standarnya adalah jalur pertama (Pikiran ➔ Perasaan ➔ Emosi), namun dengan catatan bahwa siklus ini bisa berputar sangat cepat hingga terasa simultan. Mari kita bedah anatomi urutannya: 1. Pikiran/Persepsi (Cognition/Stimulus): Sesuatu terjadi di luar atau di dalam kepala (sebuah memori, ucapan orang lain, atau bayangan masa depan). Pikiran langsung memberikan label atau makna pada kejadian tersebut ("Wah, ini gawat", "Orang itu meremehkan saya", dll.). 2. Perasaan (Feeling): Makna atau label dari pikiran tersebut diterjemahkan oleh tubuh menjadi nada afektif atau tone rasa—apakah ini terasa enak/nyaman atau tidak enak/tidak nyaman. Ini adalah respons awal yang masih agak abstrak (rasa terancam, rasa senang, rasa risih). 3. Emosi (Emotion): Jika perasaan tidak nyaman itu diberi perhatian lebih oleh pikiran, tubuh memicu respons biokimia yang lebih masif (detak jantung naik, hormon adrenalin, perubahan postur tubuh). Inilah wujud nyata dari emosi (takut, marah, sedih, jijik) yang siap mendorong tindakan motorik. Namun, ada tapinya... (Lingkaran Umpan Balik): Sering kali proses ini begitu cepat (hanya dalam sepersekian detik) sehingga terasa serentak. Terkadang, trauma masa lalu atau memori tubuh membuat emosi muncul duluan di level somatik sebelum pikiran sempat merumuskannya secara sadar. Rangkuman Mekanisme Diri (Sang Pengamat) Ketika Anda berdiri teguh sebagai Sang Pengamat/Penyaksi: Anda melihat Pikiran datang sebagai teks/skrip di layar kepala. Anda melihat Perasaan muncul sebagai cuaca di dada. Anda melihat Emosi bergejolak sebagai gelombang energi di tubuh fisik. Anda tidak perlu merusak atau mengubah ketiganya. Cukup disaksikan dengan kesadaran yang tenang (Eling lan Waspada). Ketika ketiganya diamati tanpa reaksi, cengkeramannya pada diri Anda akan lepas dengan sendirinya, dan ketenangan sejati akan tersingkap di baliknya. #KesadaranMurni #KeheninganBatin #InnerPeace #Mindfulness #EvolusiKesadaran
Adhen thre
Region: ID
Sunday 01 November 2026 01:52:00 GMT
Music
Download
Comments
Noer_Aeni :
terimakasih ilmunya
2026-11-02 02:28:22
0
To see more videos from user @adhen_thre, please go to the Tikwm
homepage.