@user.l_l4: #efootball #4u #fyp

TouchRush★
TouchRush★
Open In TikTok:
Region: ID
Sunday 01 November 2026 04:30:51 GMT
16681
2271
14
339

Music

Download

Comments

balaraja452
balaraja :
barusaan aja 😊
2026-11-01 06:29:05
6
fatihaja944
Fatihaja :
tau aja bggggg
2026-11-06 03:30:06
0
egiiiiii_8
ggiil✮ :
benar lgi😭😭😭
2026-11-01 05:59:09
1
fansemyu018
efootball / nusa efootball :
merah
2026-11-02 07:27:39
0
juragan_muda964
Si Boss Enom :
aku banget
2026-11-01 09:55:23
1
username_10816
???? :
udah divisi 3 bg
2026-11-03 13:16:07
0
user3113208310431
￴ ￴ ￴ ￴ ￴ ￴ ￴ ￴ :
jaringan aman ws pun jdi
2026-11-03 12:54:17
0
rahmat.saja16
Mat_1_April :
iya lAgi
2026-11-01 10:12:41
0
imii691
kelazz hil :
2026-11-03 09:24:45
0
nasziskandar
Nasz X Childofficial :
Walaupun kalah ttp push divisi
2026-11-02 08:55:33
0
abehh44
abehtwostroke :
Senggol ni baru menang 1 stressssss
2026-11-04 08:32:52
0
sssaputrraa_78
BAGOLL :
@piringsengg
2026-11-01 12:38:05
0
To see more videos from user @user.l_l4, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Selama Lima Tahun Mereka Menyimpan Masakan Terakhir Sang Ibu di Freezer 😭 Bukan Karena Lupa, Tetapi Karena Belum Siap Mengucapkan Selamat Tinggal. Ada makanan yang mengenyangkan perut. Ada pula makanan yang menyimpan kenangan. Bagi Mizuki Takaraya, semangkuk kakuni bukan sekadar masakan rumahan. Itu adalah kenangan terakhir dari ibunya. Pada tahun 2013, Mizuki meminta sang ibu memasakkan makanan favoritnya. Seperti biasa, ibunya menyiapkan kakuni dengan penuh kasih. Namun, sebelum keluarga itu sempat duduk bersama untuk menyantapnya, tragedi datang tanpa peringatan. Sang ibu mendadak mengalami perdarahan subaraknoid (subarachnoid hemorrhage) dan meninggal dunia. Dalam hitungan jam, rumah yang sebelumnya dipenuhi aroma masakan berubah menjadi rumah yang dipenuhi duka. Di dalam dapur, hidangan terakhir buatan sang ibu masih tersimpan. Mizuki dan ayahnya tidak sanggup memakannya. Tetapi mereka juga tidak sanggup membuangnya. Mereka membungkus makanan itu dengan hati-hati, lalu menyimpannya di bagian terdalam freezer rumah. Hari berganti minggu. Minggu berganti tahun. Namun kakuni itu tetap berada di tempat yang sama. Selama lima tahun, makanan tersebut menjadi simbol kerinduan yang belum selesai. Pada tahun 2018, Mizuki akhirnya memberanikan diri menghubungi acara televisi Jepang Tantei! Night Scoop (Knight Scoop). Permintaannya sederhana, tetapi sangat menyentuh. Ia ingin mengetahui apakah hidangan terakhir buatan ibunya masih dapat dikonsumsi dengan aman, agar ia dan ayahnya dapat mengenang sang ibu melalui rasa masakannya untuk terakhir kali. Tim acara kemudian membawa sampel makanan itu kepada seorang ahli mikrobiologi dari Tokyo University of Agriculture untuk diperiksa. Menurut hasil pemeriksaan yang ditampilkan dalam program tersebut, makanan dinilai masih layak diproses lebih lanjut karena selama lima tahun terus berada dalam kondisi beku yang stabil. Selanjutnya, seorang koki profesional memanaskan kembali hidangan tersebut dengan teknik yang sesuai sebelum disajikan kepada Mizuki dan ayahnya. Saat suapan pertama masuk ke mulut mereka... Air mata pun jatuh. Mizuki mengatakan rasa masakan itu sama seperti yang selalu dibuat ibunya. Ayahnya pun mengangguk pelan. Bagi orang lain, mungkin itu hanyalah semangkuk kakuni. Namun bagi mereka, itu adalah kesempatan terakhir untuk kembali merasakan kasih sayang seorang ibu yang telah tiada. Kisah keluarga Takaraya menyentuh hati banyak orang di Jepang dan berbagai negara. Bukan karena makanan itu bertahan lima tahun. Melainkan karena cinta seorang ibu ternyata mampu hidup jauh lebih lama daripada waktu. Kadang, kenangan paling kuat tidak tersimpan dalam foto atau benda berharga. Kadang... kenangan itu hidup dalam aroma masakan yang pernah memenuhi rumah.#beritaviral
Selama Lima Tahun Mereka Menyimpan Masakan Terakhir Sang Ibu di Freezer 😭 Bukan Karena Lupa, Tetapi Karena Belum Siap Mengucapkan Selamat Tinggal. Ada makanan yang mengenyangkan perut. Ada pula makanan yang menyimpan kenangan. Bagi Mizuki Takaraya, semangkuk kakuni bukan sekadar masakan rumahan. Itu adalah kenangan terakhir dari ibunya. Pada tahun 2013, Mizuki meminta sang ibu memasakkan makanan favoritnya. Seperti biasa, ibunya menyiapkan kakuni dengan penuh kasih. Namun, sebelum keluarga itu sempat duduk bersama untuk menyantapnya, tragedi datang tanpa peringatan. Sang ibu mendadak mengalami perdarahan subaraknoid (subarachnoid hemorrhage) dan meninggal dunia. Dalam hitungan jam, rumah yang sebelumnya dipenuhi aroma masakan berubah menjadi rumah yang dipenuhi duka. Di dalam dapur, hidangan terakhir buatan sang ibu masih tersimpan. Mizuki dan ayahnya tidak sanggup memakannya. Tetapi mereka juga tidak sanggup membuangnya. Mereka membungkus makanan itu dengan hati-hati, lalu menyimpannya di bagian terdalam freezer rumah. Hari berganti minggu. Minggu berganti tahun. Namun kakuni itu tetap berada di tempat yang sama. Selama lima tahun, makanan tersebut menjadi simbol kerinduan yang belum selesai. Pada tahun 2018, Mizuki akhirnya memberanikan diri menghubungi acara televisi Jepang Tantei! Night Scoop (Knight Scoop). Permintaannya sederhana, tetapi sangat menyentuh. Ia ingin mengetahui apakah hidangan terakhir buatan ibunya masih dapat dikonsumsi dengan aman, agar ia dan ayahnya dapat mengenang sang ibu melalui rasa masakannya untuk terakhir kali. Tim acara kemudian membawa sampel makanan itu kepada seorang ahli mikrobiologi dari Tokyo University of Agriculture untuk diperiksa. Menurut hasil pemeriksaan yang ditampilkan dalam program tersebut, makanan dinilai masih layak diproses lebih lanjut karena selama lima tahun terus berada dalam kondisi beku yang stabil. Selanjutnya, seorang koki profesional memanaskan kembali hidangan tersebut dengan teknik yang sesuai sebelum disajikan kepada Mizuki dan ayahnya. Saat suapan pertama masuk ke mulut mereka... Air mata pun jatuh. Mizuki mengatakan rasa masakan itu sama seperti yang selalu dibuat ibunya. Ayahnya pun mengangguk pelan. Bagi orang lain, mungkin itu hanyalah semangkuk kakuni. Namun bagi mereka, itu adalah kesempatan terakhir untuk kembali merasakan kasih sayang seorang ibu yang telah tiada. Kisah keluarga Takaraya menyentuh hati banyak orang di Jepang dan berbagai negara. Bukan karena makanan itu bertahan lima tahun. Melainkan karena cinta seorang ibu ternyata mampu hidup jauh lebih lama daripada waktu. Kadang, kenangan paling kuat tidak tersimpan dalam foto atau benda berharga. Kadang... kenangan itu hidup dalam aroma masakan yang pernah memenuhi rumah.#beritaviral

About