@fansmommyxiaowa52: #xiaowa #masukberanda @Xiaowaa @Xiaowa (ig coser_wa) #foryourpage #fypシ #4u

𝙈𝘼𝙎_𝙋𝙍𝙎𝙏숬🎟️
𝙈𝘼𝙎_𝙋𝙍𝙎𝙏숬🎟️
Open In TikTok:
Region: ID
Sunday 01 November 2026 17:34:54 GMT
238
24
2
6

Music

Download

Comments

dyx9534
story kai🍃 :
pertama
2026-11-01 19:15:22
0
liyaauaul1
⋆. 𐙚 ˚aulia🫐˚。⋆୨୧˚ :
kedua
2026-11-01 22:39:12
0
To see more videos from user @fansmommyxiaowa52, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

POV {6} : Sinar lampu ruang ICU terasa begitu menyengat saat James melangkah masuk setelah mengenakan baju steril hijau. Suara bip-bip dari mesin ventilator dan monitor jantung mendominasi ruangan dingin yang berbau antiseptik tajam itu. Setiap langkah kaki James terasa seperti menapak di atas bara api, begitu berat dan menyiksa. Langkah James terhenti tepat di samping ranjang tempat kamu terbaring. Tubuhmu yang lumpuh itu kini tampak begitu ringkih di balik selimut rumah sakit. Wajah cantikmu pucat pasi, bibirmu yang pecah-belah terbungkus masker oksigen, dan berbagai selang medis menancap di tubuh serta kepalamu. Monitor di samping ranjang menunjukkan garis-garis grafik yang lemah dan tidak stabil—menegaskan ucapan dokter bahwa hidupmu kini hanya tinggal menghitung waktu. James menjatuhkan lututnya di samping ranjang. Kedua tangannya yang bergetar hebat perlahan meraih jemari kananmu yang terasa teramat dingin. Ia menggenggam tangan itu dengan kedua telapak tangannya, menempelkannya ke pipi dan keningnya yang basah oleh air mata.
POV {6} : Sinar lampu ruang ICU terasa begitu menyengat saat James melangkah masuk setelah mengenakan baju steril hijau. Suara bip-bip dari mesin ventilator dan monitor jantung mendominasi ruangan dingin yang berbau antiseptik tajam itu. Setiap langkah kaki James terasa seperti menapak di atas bara api, begitu berat dan menyiksa. Langkah James terhenti tepat di samping ranjang tempat kamu terbaring. Tubuhmu yang lumpuh itu kini tampak begitu ringkih di balik selimut rumah sakit. Wajah cantikmu pucat pasi, bibirmu yang pecah-belah terbungkus masker oksigen, dan berbagai selang medis menancap di tubuh serta kepalamu. Monitor di samping ranjang menunjukkan garis-garis grafik yang lemah dan tidak stabil—menegaskan ucapan dokter bahwa hidupmu kini hanya tinggal menghitung waktu. James menjatuhkan lututnya di samping ranjang. Kedua tangannya yang bergetar hebat perlahan meraih jemari kananmu yang terasa teramat dingin. Ia menggenggam tangan itu dengan kedua telapak tangannya, menempelkannya ke pipi dan keningnya yang basah oleh air mata. "Y/n... ini aku, James..." bisik James, suaranya pecah dan tercekat di tenggorokan. Air mata James mengalir deras tanpa henti, membasahi punggung tanganmu. Rasa bersalah yang teramat besar kini meremas jantungnya hingga ia nyaris tidak bisa bernapas. Bayangan masa lalu mendadak berputar cepat di kepalanya—saat ia menarik kursi kayu di SMA, saat ia berjanji di depan orang tuamu, hingga saat ia menendang kursi rodamu kemarin pagi demi wanita lain. James mendekatkan bibirnya ke telingamu, mencoba membisikkan kata-kata yang selama ini tersumbat oleh ego mudanya yang angkuh. "Y/n, maaf... Tolong maafin aku, Sayang," ratap James dengan isak tangis yang tertahan agar tidak mengganggu ketenangan ruangan. "Aku bajingan. Aku suami yang gak tahu diri. Selama ini kamu bersusah payah jaga nama baik aku, kamu maafin aku, bahkan pas aku pulang mabuk kamu masih mau pijitin aku... tapi aku malah jahat sama kamu." James mencium punggung tanganmu berkali-kali dengan penuh ketulusan, persis seperti yang kamu dambakan semalam. Namun kali ini, tidak ada mata jernihmu yang menatapnya, tidak ada senyum teduh yang menyambutnya. Hanya ada keheningan dan embun tipis di masker oksigenmu. "Tolong bangun... Tolong kasih aku satu kali lagi kesempatan buat jadi kaki kamu. Aku janji gak akan pergi ke club lagi, aku gak akan genit sama cewek lain, aku bakal temenin kamu di rumah setiap hari. Aku bakal beliin kamu baju baru, aku bakal sisirin rambut kamu lagi kayak dulu... Aku mohon, jangan pergi sekarang, Y/n... Ruang ikhlas yang dibilang dokter itu terlalu sempit buat aku. Aku gak bisa hidup tanpa kamu..." James menenggelamkan wajahnya di tepi ranjang, menangis sejadi-jadinya sembari terus meremas tangan dinginmu. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, James benar-benar merasakan ketakutan yang luar biasa akan kehilangan. Pria berusia dua puluh lima tahun itu tersadar di ambang maut ini, bahwa kebebasan masa muda yang selama ini ia kejar mati-matian di luar sana tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan ketulusan hatimu yang kini perlahan-lahan mulai terbang menjauh darinya. • • • Di dalam keheningan ruang ICU yang hanya dipecahkan oleh bunyi mesin ventilator, penyesalan James telah menjelma menjadi keputusasaan yang teramat dalam. Ia menatap selang-selang yang menembus tubuh ringkihmu, melihat dadamu yang naik-turun dipaksa oleh embusan angin buatan dari mesin. Setiap bunyi bip dari monitor terasa seperti hitung mundur yang merenggut sisa waktu kalian. Hati James rasanya seperti disayat-sayat melihat wanita sekutuh dirimu harus menanggung penderitaan yang begitu hebat. Sembilan tahun lalu ia merenggut kakimu, dan selama dua tahun pernikahan, ia meremukkan batinmu. Sekarang, takdir seolah menuntut seluruh hidupmu sebagai bayarannya. (💬+) #POV #james #cortis #foryou

About