@chel_m27: (Valll and m)If I didn’t add u it’s cause I couldn’t find pic w u🥲#friends #fyp

𝓒𝓱𝓮𝓵
𝓒𝓱𝓮𝓵
Open In TikTok:
Region: US
Monday 02 November 2026 00:37:55 GMT
364
41
8
1

Music

Download

Comments

gelatooojalaliii
Gelatooojalaliii :
Yessss
2026-11-02 00:43:55
1
dd.dan1eluh
ᴅᴀɴɪᴇʟᴀ :
is that me🥺
2026-11-02 00:54:57
1
dagarden_
disneydi🌚🌚 :
Goat
2026-11-02 04:05:17
1
dd.dan1eluh
ᴅᴀɴɪᴇʟᴀ :
2026-11-02 00:55:19
1
dd.dan1eluh
ᴅᴀɴɪᴇʟᴀ :
2026-11-02 00:55:04
1
To see more videos from user @chel_m27, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Kinh Pháp Cú (Câu 107): Giết Thú Tế Thần Lửa 100 Năm Không Bằng Một Giây Lát Tu Tâm Đều đặn mỗi tháng, người cháu ruột của Tôn giả Xá-lợi-phất lại giết một con thú để tế thần lửa trong rừng sâu. Thấy vậy, Tôn giả Xá-lợi-phất bèn đến thăm và từ tốn hỏi:
Kinh Pháp Cú (Câu 107): Giết Thú Tế Thần Lửa 100 Năm Không Bằng Một Giây Lát Tu Tâm Đều đặn mỗi tháng, người cháu ruột của Tôn giả Xá-lợi-phất lại giết một con thú để tế thần lửa trong rừng sâu. Thấy vậy, Tôn giả Xá-lợi-phất bèn đến thăm và từ tốn hỏi: "Này cháu, cháu đều đặn làm những việc này là để mong cầu điều gì?" Chàng thanh niên tự hào đáp: "Cháu hy vọng nhờ công đức tế thần lửa này mà sẽ được sinh về cõi Phạm Thiên." Tôn giả gặng hỏi tiếp ai đã dạy điều đó, người cháu thành thật bảo rằng chính các vị đạo sư của mình đã truyền dạy. Tôn giả liền lắc đầu: "Cháu và các đạo sư kia không hề biết đường lên cõi Phạm Thiên. Hãy đi theo cậu, Đức Phật sẽ chỉ cho cháu." Thế là Tôn giả dẫn người cháu ruột của mình rời khỏi khu rừng để đến tịnh xá Trúc Lâm diện kiến Đức Thế Tôn. Sau khi nghe Tôn giả trình bày lại sự việc, Đức Phật từ tốn nhìn chàng thanh niên để xác nhận lại mọi chuyện. Ngài từ tốn hỏi: "Này chàng trai, có đúng là ông đang sát sinh và tế thần lửa như vậy không?" Chàng thanh niên cung kính chắp tay: "Dạ đúng, bạch Thế Tôn." Đức Phật khai thị: "Dù ông tế tự thần lửa như vậy suốt một trăm năm, cũng không bằng một khoảnh khắc kính lễ một vị đệ tử đắc đạo." Dầu tại chốn rừng sâu. Trăm năm thờ thần lửa. Chẳng bằng trong giây lát. Kính lễ bậc tu tâm. #tichphapcu #tichtruyenphapcu #tichtruyenkinhphapcu #tichkinhphapcu
Sumpah… aku nulis ini sambil nahan air mata yang tumpah deras di pipi, dada sesak luar biasa, dan tangan gemetar hebat karena kewarasanku benar-benar sudah di ambang batas kehancuran. Di titik terendah hidupku yang paling gelap, penuh kepedihan, dan membuatku menangis terisak di sudut kamar, aku mau jujur melepaskan beban batin yang menghimpit jiwaku badanku hancur total karena banting tulang kerja lembur siang malam demi mencukupi kebutuhan istri, sampai akhirnya aku terserang hipertensi parah yang berujung pada gagal ginjal. Tapi kepahitan itu belum ada apa-apanya dibanding kenyataan keji saat aku butuh didampingi: giliran diajak nemenin aku kontrol rutin ke rumah sakit, istriku malah menolak mentah-mentah dan justru minta izin untuk menikah lagi hanya karena aku sudah tidak bisa bekerja mencari uang lagi! Semua mimpi indah rumah tangga kami hancur lebur dalam sekejap, padahal kalau diingat-ingat kembali, malapetaka mengerikan ini bener-bener berawal dari gejala awal yang dari dulu selalu kuanggap remeh. Tiap kali kepalaku pusing berdenyut, leher belakang kerasa kaku banget, dan tengkuk berat kayak ditimpa beban berkuintal-kuintal, aku selalu ngeles. Dalam hati selalu mikir,  “Ah, paling cuma capek habis lembur cari uang, kurang tidur dikit, atau kebanyakan pikiran kerjaan doang, nanti juga hilang sendiri pas dibawa tidur.” Paling banter aku cuma bawa tidur sebentar, dioles minyak angin, atau ditempel koyo di leher tanpa pernah tahu ada bahaya besar yang sedang mengintai di balik diamnya tubuh. Padahal kalau mau jujur, pemicu utamanya ya kebiasaan sepele yang kutumpuk tiap hari tanpa pernah mau peduli. Aku hobi banget begadang sampai subuh demi lembur kerjaan tanpa henti, menampung stres beban hidup sendirian tanpa mau cerita,  ditambah pola makan yang hancur lebur hobi banget makan makanan asin gurih berlebihan, gorengan berminyak, dan ngopi bergelas-gelas tanpa kenal waktu. Aku selalu mikir karena usianya masih muda dan badanku kelihatannya kuat, tubuhku bakal baik-baik aja menampung semua gaya hidup merusak itu. Sampai akhirnya hari naas yang menghancurkan segalanya itu beneran datang.  Rasa pusing dan leher kaku itu mendadak berubah jadi hantaman hebat kepala rasanya mau pecah, pandangan gelap, dan sekujur tubuhku langsung ambruk lemas tak berdaya di hadapanku. Panik setengah mati, keluargaku membawaku buru-buru ke IGD rumah sakit. Tapi pas alat tensimeter dipasang di lengannya dan perawat selesai memompa... raut wajah petugas medis langsung berubah sangat panik dan tegang.
Sumpah… aku nulis ini sambil nahan air mata yang tumpah deras di pipi, dada sesak luar biasa, dan tangan gemetar hebat karena kewarasanku benar-benar sudah di ambang batas kehancuran. Di titik terendah hidupku yang paling gelap, penuh kepedihan, dan membuatku menangis terisak di sudut kamar, aku mau jujur melepaskan beban batin yang menghimpit jiwaku badanku hancur total karena banting tulang kerja lembur siang malam demi mencukupi kebutuhan istri, sampai akhirnya aku terserang hipertensi parah yang berujung pada gagal ginjal. Tapi kepahitan itu belum ada apa-apanya dibanding kenyataan keji saat aku butuh didampingi: giliran diajak nemenin aku kontrol rutin ke rumah sakit, istriku malah menolak mentah-mentah dan justru minta izin untuk menikah lagi hanya karena aku sudah tidak bisa bekerja mencari uang lagi! Semua mimpi indah rumah tangga kami hancur lebur dalam sekejap, padahal kalau diingat-ingat kembali, malapetaka mengerikan ini bener-bener berawal dari gejala awal yang dari dulu selalu kuanggap remeh. Tiap kali kepalaku pusing berdenyut, leher belakang kerasa kaku banget, dan tengkuk berat kayak ditimpa beban berkuintal-kuintal, aku selalu ngeles. Dalam hati selalu mikir, “Ah, paling cuma capek habis lembur cari uang, kurang tidur dikit, atau kebanyakan pikiran kerjaan doang, nanti juga hilang sendiri pas dibawa tidur.” Paling banter aku cuma bawa tidur sebentar, dioles minyak angin, atau ditempel koyo di leher tanpa pernah tahu ada bahaya besar yang sedang mengintai di balik diamnya tubuh. Padahal kalau mau jujur, pemicu utamanya ya kebiasaan sepele yang kutumpuk tiap hari tanpa pernah mau peduli. Aku hobi banget begadang sampai subuh demi lembur kerjaan tanpa henti, menampung stres beban hidup sendirian tanpa mau cerita, ditambah pola makan yang hancur lebur hobi banget makan makanan asin gurih berlebihan, gorengan berminyak, dan ngopi bergelas-gelas tanpa kenal waktu. Aku selalu mikir karena usianya masih muda dan badanku kelihatannya kuat, tubuhku bakal baik-baik aja menampung semua gaya hidup merusak itu. Sampai akhirnya hari naas yang menghancurkan segalanya itu beneran datang. Rasa pusing dan leher kaku itu mendadak berubah jadi hantaman hebat kepala rasanya mau pecah, pandangan gelap, dan sekujur tubuhku langsung ambruk lemas tak berdaya di hadapanku. Panik setengah mati, keluargaku membawaku buru-buru ke IGD rumah sakit. Tapi pas alat tensimeter dipasang di lengannya dan perawat selesai memompa... raut wajah petugas medis langsung berubah sangat panik dan tegang. "Ini tensinya melonjak sangat krisis terekstrem di angka 210/110!" seru perawat dengan nada buru-buru memanggil dokter spesialis. Kalimat vonis dari dokter setelahnya langsung bikin petir menyambar tepat di dadaku dan duniaku runtuh seketika: "Bapak mengalami Hipertensi Kritis yang merusak pembuluh darah secara drastis hingga memicu Gagal Ginjal Kronis! Fungsi ginjal sudah menurun drastis dan butuh cuci darah rutin seumur hidup!" Detik itu juga, duniaku runtuh tak tersisa. Hidupku berubah jadi penjara penderitaan: raga hancur lebur harus cuci darah, tabungan ludes tak bersisa, tidak bisa lagi mencari nafkah untuk keluarga, dan sebagai puncak dari segala kepedihan, istri yang kubanting tulangi siang malam justru tega mencampakkan dan meminta cerai untuk menikah lagi di saat aku paling lemah. Jujur, penyesalan selalu datang terlambat dan rasanya membakar dada tanpa henti. Kenapa sih dulu aku begitu bodoh mengabaikan sinyal pusing dan tengkuk kaku? Dari sini aku makin sadar kalau hipertensi tuh beneran silent killer yang paling jahat. Dia menyelinap diam-diam di balik kerja keras, merusak tubuh tanpa suara, dan begitu meledak, bukan cuma raga yang gagal ginjal, tapi masa depan, keutuhan rumah tangga, dan hati kita ikut dihancurkan tak bersisa oleh orang yang paling kita percaya. #viral #fyp #hipertensi #darahtinggi #tekanandarahtinggi

About