@mi.ni.ni.usa: #ချစ်တဲ့စိတ်လေးနဲ့ကြည့်ပေးပါနော်😘😘😘😘

mi.ni.ni.usa
mi.ni.ni.usa
Open In TikTok:
Region: US
Monday 02 November 2026 23:36:11 GMT
132
16
4
1

Music

Download

Comments

alaminmollahalami
AL AMIN MOLLAH 💞💞💞💞💞💞💞 :
2026-11-03 00:00:42
1
than.naing.aye84
Than Naing Aye USA 🇺🇸 NY :
❤️❤️❤️
2026-11-03 00:41:22
1
barsi579
🇺🇸 Bar si မောင်ဟန်ထွန်း♓️ :
🥰🥰🥰🥰🥰🥰
2026-11-02 23:41:08
0
To see more videos from user @mi.ni.ni.usa, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Klenteng Cu An Kiong adalah kelenteng Beralamat di Jalan Dasun No. 19, Desa Soditan, Lasem. Klenteng Cu An Kiong adalah klenteng yang tertua dengan dewa utamanya adalah Dewi Samudra – Ma Zu atau Thian Siang Sing Bo – sering disebut Mak Co. Disinyalir berdiri pada abad 15, namun tiada catatan pasti mengenai peletakan batu pertama klenteng ini. Beberapa catatan inskripsi menyebutkan bahwa klenteng tersebut dipugar pada tahun 1838. Beragam penamaan bagi Ibu Ratu Nirwana ini, Tian Hou, Ma Zu Po. Ia adalah Dewi Laut yang dipuja oleh para pelaut dan perantau yang mengarungi lautan untuk mendapatkan cuaca bersahabat dan keselamatan. Bagi nelayan atau pelaut yang memujanya, sebelum dimulainya musim melaut, mereka akan mengadakan sembahyang pemujaan bagi Ma Zu pada tanggal 23 bulan 3 penanggalan bulan/Imlek. Mereka menyalakan lilin dan dupa cendana, mempersembahkan makanan berbahan dasar daging ayam dan babi, dan memanjatkan doa memohon keselamatan. Bagi masyarakat Cina Indonesia terutama warga Lasem, tanggal ini merupakan tanggal ulang tahun Ma Zu. Ia pun diletakkan pada altar utama klenteng tersebut. Begitu sangat dipujanya Dewi Ma Zu, sehingga pengunjung tabu untuk mengabadikan figur Ma Zu menggunakan kamera.”Jangan difoto, nanti khawatir terjadi apa-apa dengan kita,” ujar Gandor Sugiharto (68) yang menemani saya mengagumi kemegahan Cu An Kiong. Daya tarik utama dari klenteng ini meliputi: Sejarah & Arsitektur: Memiliki gaya arsitektur klasik Tiongkok dengan altar utama yang memuja Dewi Samudra (Mak Co). Kisah Bi Nang Un dan Na Li Ni: Di bagian depan terdapat patung pasangan legendaris Tiongkok yang dipercaya berjasa membawa dan mengajarkan seni membatik kepada warga lokal Lasem. Diorama Perjuangan: Terdapat relief dan prasasti yang merekam jejak warga Tionghoa saat membantu perjuangan Pangeran Diponegoro melawan penjajah Belanda.
Klenteng Cu An Kiong adalah kelenteng Beralamat di Jalan Dasun No. 19, Desa Soditan, Lasem. Klenteng Cu An Kiong adalah klenteng yang tertua dengan dewa utamanya adalah Dewi Samudra – Ma Zu atau Thian Siang Sing Bo – sering disebut Mak Co. Disinyalir berdiri pada abad 15, namun tiada catatan pasti mengenai peletakan batu pertama klenteng ini. Beberapa catatan inskripsi menyebutkan bahwa klenteng tersebut dipugar pada tahun 1838. Beragam penamaan bagi Ibu Ratu Nirwana ini, Tian Hou, Ma Zu Po. Ia adalah Dewi Laut yang dipuja oleh para pelaut dan perantau yang mengarungi lautan untuk mendapatkan cuaca bersahabat dan keselamatan. Bagi nelayan atau pelaut yang memujanya, sebelum dimulainya musim melaut, mereka akan mengadakan sembahyang pemujaan bagi Ma Zu pada tanggal 23 bulan 3 penanggalan bulan/Imlek. Mereka menyalakan lilin dan dupa cendana, mempersembahkan makanan berbahan dasar daging ayam dan babi, dan memanjatkan doa memohon keselamatan. Bagi masyarakat Cina Indonesia terutama warga Lasem, tanggal ini merupakan tanggal ulang tahun Ma Zu. Ia pun diletakkan pada altar utama klenteng tersebut. Begitu sangat dipujanya Dewi Ma Zu, sehingga pengunjung tabu untuk mengabadikan figur Ma Zu menggunakan kamera.”Jangan difoto, nanti khawatir terjadi apa-apa dengan kita,” ujar Gandor Sugiharto (68) yang menemani saya mengagumi kemegahan Cu An Kiong. Daya tarik utama dari klenteng ini meliputi: Sejarah & Arsitektur: Memiliki gaya arsitektur klasik Tiongkok dengan altar utama yang memuja Dewi Samudra (Mak Co). Kisah Bi Nang Un dan Na Li Ni: Di bagian depan terdapat patung pasangan legendaris Tiongkok yang dipercaya berjasa membawa dan mengajarkan seni membatik kepada warga lokal Lasem. Diorama Perjuangan: Terdapat relief dan prasasti yang merekam jejak warga Tionghoa saat membantu perjuangan Pangeran Diponegoro melawan penjajah Belanda.

About