@maztahlei17: mahina ang prino #MaztahLei

MaztahLei
MaztahLei
Open In TikTok:
Region: PH
Tuesday 03 November 2026 02:55:09 GMT
3098
91
3
1

Music

Download

Comments

kymric.cccccc
Kim.mmmmm :
first idolllll
2026-11-03 03:03:33
0
andrei.vicente65
Andrei Vicente :
preno Tas Cvt Papalitan
2026-11-03 08:52:36
0
july42636
july :
boss mahina din preno ng aerox ko papalitan ko ng trc pipe
2026-11-03 09:10:45
0
To see more videos from user @maztahlei17, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Komplek makam Sunan Geseng Di Piyungan Bantul Yogyakarta  Al-fatihah kagem para leluhur yang telah sowan Gusti Allah mendahului kita Aamiin.  Sunan Geseng merupakan tokoh yang berperan dalam penyebaran agama Islam di Jawa. Sunan Geseng merupakan murid dari Sunan Kalijaga yang diyakini merupakan keturunan dari raja Girindrawardhana.  Nama kecil Sunan Geseng adalah Raden Mas Cokrojoyo. Diceritakan bahwa sebelum menjadi wali yang menyebarkan agama Islam, Cokrojoyo bekerja sebagai penderes air nira. Biasanya ketika Cokrojoyo menderes nira, ia sering menyenandungkan lilo-lilo-lilo-lilo yang artinya sabar-sabarlah.  Senandung ini dimaksudkan untuk menghibur diri dari kehidupan dunia yang keras. Senandung tersebut didengar oleh Sunan Kalijaga dan diminta supaya diganti menjadi laa ilaaha illallah.  Saat Cokrojoyo melaksanakan perintah Sunan Kalijaga dan menyenandungkan kalimat tersebut, buah-buah kelapa yang bunganya dideres berubah menjadi emas. Cokrojoyo pun meminta Sunan Kalijaga agar menjadikannya sebagai murid. Sunan Kalijaga bersedia mengambil Cokrojoyo sebagai murid asalkan Cokrojoyo dapat bertapa di hutan dan beribadah kepada Allah. Cokrojoyo pun menyanggupi persyaratan tersebut. Diceritakan bahwa dalam pertapaannya hutan tempat Cokrojoyo bertapa habis terbakar. Akan tetapi karena ketaatannya pada Sunan Kalijaga, Cokrojoyo tetap bertapa hingga api padam. Ketika Cokrojoyo ditemukan oleh Sunan Kalijaga, Cokrojoyo selamat meskipun kulitnya hangus atau gosong. Dalam versi lain, dikisahkan bahwa ketika Sunan Kalijaga mencari Cokrojoyo yang sedang bertapa, lokasi tempat Cokrojoyo bertapa telah menjadi hutan belukar. Sunan Kalijaga tidak dapat menemukan Cokrojoyo di tengah hutan belukar tersebut. Oleh karena itu Sunan Kalijaga membakar hutan belukar sehingga Cokrojoyo ikut terbakar di dalamnya dengan kondisi tubuhnya yang gosong atau  gosong.  Setelah Cokrojoyo berhasil dalam berguru kepada Sunan Kalijaga, istri Cokrojoyo yang bernama Nyai Bagelen kemudian membuat makanan untuk dibagikan kepada banyak orang sebagai ungkapan rasa syukur.  Untuk mempermudah pembagiannya, makanan ditempatkan dalam anyaman daun kelapa. Makanan tersebut kemudian dikenal dengan nama ketupat. Peristiwa penyebaran agama Islam dan pembuatan ketupat tersebut oleh masyarakat Jolosutro diperingati dengan mengadakan upacara yang dinamakan Merti Dusun Kirab Jodhang Kupatan Jalasutra.  Upacara tersebut dilaksanakan setiap bulan Sapar pada pasaran Senen Legi untuk mengenang jasa Cokrojoyo dalam penyebaran agama Islam dan juga sebagai ungkapan syukur pada Tuhan karena telah diberi keberhasilan dalam pertanian (panen).  Saat ini upacara Merti Dusun Kirab Jodhang Kupatan Jalasutra dilaksanakan setiap bulan Agustus setelah masa panen.  Dalam versi lain disebutkan bahwa Cokrojoyo adalah seorang pengembara dari Maroko yang datang ke Jawa untuk menyebarkan agama Islam. Dalam versi ini Cokrojoyo disebutkan memiliki nama asli Maulana Ahmad Al-Maghribi. Selain nama itu Cokrojoyo juga dikenal sebagai Ki Ageng Gribig. #cagarbudaya #sejarah #wali #royaltomb #makamwali #ziarah #tokoh #sunangeseng #yogyakarta #keramat #makam #ulama
Komplek makam Sunan Geseng Di Piyungan Bantul Yogyakarta Al-fatihah kagem para leluhur yang telah sowan Gusti Allah mendahului kita Aamiin. Sunan Geseng merupakan tokoh yang berperan dalam penyebaran agama Islam di Jawa. Sunan Geseng merupakan murid dari Sunan Kalijaga yang diyakini merupakan keturunan dari raja Girindrawardhana. Nama kecil Sunan Geseng adalah Raden Mas Cokrojoyo. Diceritakan bahwa sebelum menjadi wali yang menyebarkan agama Islam, Cokrojoyo bekerja sebagai penderes air nira. Biasanya ketika Cokrojoyo menderes nira, ia sering menyenandungkan lilo-lilo-lilo-lilo yang artinya sabar-sabarlah. Senandung ini dimaksudkan untuk menghibur diri dari kehidupan dunia yang keras. Senandung tersebut didengar oleh Sunan Kalijaga dan diminta supaya diganti menjadi laa ilaaha illallah. Saat Cokrojoyo melaksanakan perintah Sunan Kalijaga dan menyenandungkan kalimat tersebut, buah-buah kelapa yang bunganya dideres berubah menjadi emas. Cokrojoyo pun meminta Sunan Kalijaga agar menjadikannya sebagai murid. Sunan Kalijaga bersedia mengambil Cokrojoyo sebagai murid asalkan Cokrojoyo dapat bertapa di hutan dan beribadah kepada Allah. Cokrojoyo pun menyanggupi persyaratan tersebut. Diceritakan bahwa dalam pertapaannya hutan tempat Cokrojoyo bertapa habis terbakar. Akan tetapi karena ketaatannya pada Sunan Kalijaga, Cokrojoyo tetap bertapa hingga api padam. Ketika Cokrojoyo ditemukan oleh Sunan Kalijaga, Cokrojoyo selamat meskipun kulitnya hangus atau gosong. Dalam versi lain, dikisahkan bahwa ketika Sunan Kalijaga mencari Cokrojoyo yang sedang bertapa, lokasi tempat Cokrojoyo bertapa telah menjadi hutan belukar. Sunan Kalijaga tidak dapat menemukan Cokrojoyo di tengah hutan belukar tersebut. Oleh karena itu Sunan Kalijaga membakar hutan belukar sehingga Cokrojoyo ikut terbakar di dalamnya dengan kondisi tubuhnya yang gosong atau gosong. Setelah Cokrojoyo berhasil dalam berguru kepada Sunan Kalijaga, istri Cokrojoyo yang bernama Nyai Bagelen kemudian membuat makanan untuk dibagikan kepada banyak orang sebagai ungkapan rasa syukur. Untuk mempermudah pembagiannya, makanan ditempatkan dalam anyaman daun kelapa. Makanan tersebut kemudian dikenal dengan nama ketupat. Peristiwa penyebaran agama Islam dan pembuatan ketupat tersebut oleh masyarakat Jolosutro diperingati dengan mengadakan upacara yang dinamakan Merti Dusun Kirab Jodhang Kupatan Jalasutra. Upacara tersebut dilaksanakan setiap bulan Sapar pada pasaran Senen Legi untuk mengenang jasa Cokrojoyo dalam penyebaran agama Islam dan juga sebagai ungkapan syukur pada Tuhan karena telah diberi keberhasilan dalam pertanian (panen). Saat ini upacara Merti Dusun Kirab Jodhang Kupatan Jalasutra dilaksanakan setiap bulan Agustus setelah masa panen. Dalam versi lain disebutkan bahwa Cokrojoyo adalah seorang pengembara dari Maroko yang datang ke Jawa untuk menyebarkan agama Islam. Dalam versi ini Cokrojoyo disebutkan memiliki nama asli Maulana Ahmad Al-Maghribi. Selain nama itu Cokrojoyo juga dikenal sebagai Ki Ageng Gribig. #cagarbudaya #sejarah #wali #royaltomb #makamwali #ziarah #tokoh #sunangeseng #yogyakarta #keramat #makam #ulama

About