@ruuleena: #Meme #MemeCut #الشعب_الصيني_ماله_حل😂 #fyppppppppppppppppppppppp #الرياض_جده_مكه_الدمام_المدينه

بـــ رُولين المَقرَن 🧸🪞🧳.
بـــ رُولين المَقرَن 🧸🪞🧳.
Open In TikTok:
Region: SA
Thursday 05 November 2026 17:49:30 GMT
930
9
1
22

Music

Download

Comments

.v72z
.bu27 :
ههههههههههههههههههههههههههههههههههههههههههههههههههههههههههههههههه
2026-11-05 23:11:54
0
To see more videos from user @ruuleena, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

#Repost @motivateyouth215  —— Joe Clark transformed Eastside High School in Paterson, New Jersey, after becoming principal in 1982. The school had a reputation for violence, low academic performance, drug activity, and poor discipline. His leadership brought dramatic changes, though some of his methods were controversial. Some of the biggest changes included: 	•	Restoring discipline: Clark established strict rules for behavior, dress, attendance, and respect. He suspended or expelled students involved in violence, drugs, or repeated disruptions. 	•	Improving school safety: He worked to remove drug dealers and trespassers from the campus, making the school feel safer for students and staff. 	•	Raising academic expectations: Clark challenged students and teachers to aim for higher achievement, emphasizing graduation and standardized test performance. 	•	Holding teachers accountable: He expected teachers to be prepared, professional, and committed to student success. He also encouraged staff to believe that students could succeed despite difficult circumstances. 	•	Building school pride: Clark promoted unity through school assemblies, motivational speeches, and a culture of personal responsibility. He wanted students to take pride in themselves and their school. 	•	Increasing test scores: During his tenure, Eastside High’s academic performance improved, particularly on New Jersey’s Minimum Basic Skills Test, which became one of the school’s most publicized successes. Joe Clark became nationally known through the 1989 film Lean on Me, starring Morgan Freeman. While the movie dramatized some events, it was based on Clark’s efforts to turn the school around. His legacy remains debated. Many people praise him for restoring order and inspiring students, while others argue that some of his disciplinary tactics were too harsh. Even so, he is widely remembered as a principal who believed every student could succeed if given structure, high expectations, and someone willing to fight for them. #leanonme #joeclark #comeonphilly #iconicmovie  RIP TO ONE OF OUR BRIGHTEST EDUCATORS JOE CLARK❤️❤️ @hazelclarkruns your dad was a 💎
#Repost @motivateyouth215 —— Joe Clark transformed Eastside High School in Paterson, New Jersey, after becoming principal in 1982. The school had a reputation for violence, low academic performance, drug activity, and poor discipline. His leadership brought dramatic changes, though some of his methods were controversial. Some of the biggest changes included: • Restoring discipline: Clark established strict rules for behavior, dress, attendance, and respect. He suspended or expelled students involved in violence, drugs, or repeated disruptions. • Improving school safety: He worked to remove drug dealers and trespassers from the campus, making the school feel safer for students and staff. • Raising academic expectations: Clark challenged students and teachers to aim for higher achievement, emphasizing graduation and standardized test performance. • Holding teachers accountable: He expected teachers to be prepared, professional, and committed to student success. He also encouraged staff to believe that students could succeed despite difficult circumstances. • Building school pride: Clark promoted unity through school assemblies, motivational speeches, and a culture of personal responsibility. He wanted students to take pride in themselves and their school. • Increasing test scores: During his tenure, Eastside High’s academic performance improved, particularly on New Jersey’s Minimum Basic Skills Test, which became one of the school’s most publicized successes. Joe Clark became nationally known through the 1989 film Lean on Me, starring Morgan Freeman. While the movie dramatized some events, it was based on Clark’s efforts to turn the school around. His legacy remains debated. Many people praise him for restoring order and inspiring students, while others argue that some of his disciplinary tactics were too harsh. Even so, he is widely remembered as a principal who believed every student could succeed if given structure, high expectations, and someone willing to fight for them. #leanonme #joeclark #comeonphilly #iconicmovie RIP TO ONE OF OUR BRIGHTEST EDUCATORS JOE CLARK❤️❤️ @hazelclarkruns your dad was a 💎
POV | Malam itu, salah satu base anak Teknik di kampusmu mendadak heboh. Bukan karena info tugas, jadwal praktikum, atau pengumuman himpunan. Kali ini, nama salah satu mahasiswa yang sudah terlalu sering wara-wiri di base kembali menjadi bahan cuitan. Dan seperti biasa, cukup untuk membuat para penggemar setianya ikut nimbrung. Park Sunghoon. Mahasiswa Teknik Mesin yang namanya nyaris tak pernah absen dari timeline. Kadang karena prestasinya, tapi lebih sering karena kelakuannya. Apalagi kalau bukan soal perempuan. Namanya hampir selalu punya cerita baru. Entah soal tongkrongan famous yang selalu berakhir menjelang pagi, jaket himpunan yang masih melekat saat ia datang ke kampus, atau perempuan lain yang belakangan terlihat bersamanya. Sunghoon memang terkenal. Terlalu terkenal, bahkan. Tengil, suka cari masalah, dan seolah tak pernah kehabisan perempuan. Si teknik redflag berjalan, kalau kata sebagian orang waras. Tapi anehnya, fansnya selalu ada saja yang rela pura-pura buta. Dahimu mengernyit saat matamu berhenti pada sebuah foto yang sejak tadi memenuhi timeline. Sunghoon masih dengan jaket hitam dan helm half-face yang menutupi sebagian wajahnya, duduk di atas motor sambil memboncengi seorang mahasiswi Psikologi yang sama sekali tak kamu kenal. Kedua tangan perempuan itu melingkar santai di pinggangnya, sementara Sunghoon menoleh sedikit ke belakang dengan senyum yang masih bisa terlihat jelas di balik helm. Senyum yang beberapa minggu lalu, masih kamu kira hanya milikmu. [ BASE TEKNIK ] “Guys ini Sunghoon anak mesin bukan sih?😭😭😭 kok kayaknya udah punya gandengan baru aja. Literally baru putus sama si y/n, loh. Eh sekarang udah boncengin anak psikologi wkwkwk. Cocok sih mereka, sama-sama cakep 😭. Btw ada yang tau kabar y/n? takutnya masih galau... atau jangan-jangan malah belum move on? WKWKWK.” Kamu spontan berdecak jijik. “Najis banget??? Ogah banget gue galauin cowok gila itu.” Ponselmu kamu letakkan sedikit kasar di atas meja cafe, sebelum tanganmu meraih gelas minuman yang nyaris habis dan menyesapnya dengan wajah kesal. Teman-temanmu sontak mengangkat kepala dari ponsel masing-masing. Senyum dan kekehan kecil langsung terdengar dari sekitar meja. Reaksimu tentu saja sudah bisa mereka tebak setelah kalian melihat unggahan X itu bersamaan. “Gue bilang juga apa. Sebaik-baiknya anak Teknik, lebih baik jangan,” celetuk Giselle sambil terkekeh puas. “Lu nggak percaya sama gue, sih.” Jessie hanya tersenyum simpul sembari menyesap es kopinya. “Sia-sia air mata lu seminggu kemarin, nangisin anak Teknik jahat.” Kamu memutar bola mata. “Ya udah, sih. Anggap aja kemarin gue dipelet sama dia.” “Dipelet sampe ciuman tiap ketemu?” sahut Giselle dengan wajah penuh seringai jahil. Kamu sontak melotot. Hampir saja minuman yang baru kamu teguk menyembur karena tersedak. Sementara ketiga temanmu justru pecah tertawa melihat reaksimu. Kamu kembali berdecak sebal. “Giselle, shut up. It's so disgusting to remember.” ••• Malam itu, bukannya tidur lebih awal, kamu malah masih duduk dengan laptop di pangkuanmu. Sejak pulang dari cafe tadi, entah kenapa kepalamu masih penuh oleh unggahan base Teknik yang menyebalkan itu. Berkali-kali kamu mencoba mengabaikannya, tetapi kalimat terakhir dalam menfess tersebut terus terngiang-ngiang. “Najis,” gumammu sebal. Kamu menggeleng, lalu kembali memusatkan perhatian pada layar laptop di hadapanmu. Beberapa halaman jurnal hukum terbuka, lengkap dengan catatan dan buku yang berserakan di atas karpet. Jam digital di sudut ruangan sudah menunjukkan 02.11 dini hari.  Kamu sebenarnya sudah mengantuk, tapi rasa kesal membuatmu enggan tidur. Daripada terus memikirkan Sunghoon, lebih baik tugas kuliahmu selesai malam ini. Setidaknya, begitu yang kamu pikirkan. Sampai sebuah getaran dari sisi laptop membuat jemarimu berhenti mengetik. Ponselmu menyala, satu nama muncul di layar. Sunghoon.  +💬 #pov #sunghoon #sunghoonedit #sunghoonenhypen #fypage
POV | Malam itu, salah satu base anak Teknik di kampusmu mendadak heboh. Bukan karena info tugas, jadwal praktikum, atau pengumuman himpunan. Kali ini, nama salah satu mahasiswa yang sudah terlalu sering wara-wiri di base kembali menjadi bahan cuitan. Dan seperti biasa, cukup untuk membuat para penggemar setianya ikut nimbrung. Park Sunghoon. Mahasiswa Teknik Mesin yang namanya nyaris tak pernah absen dari timeline. Kadang karena prestasinya, tapi lebih sering karena kelakuannya. Apalagi kalau bukan soal perempuan. Namanya hampir selalu punya cerita baru. Entah soal tongkrongan famous yang selalu berakhir menjelang pagi, jaket himpunan yang masih melekat saat ia datang ke kampus, atau perempuan lain yang belakangan terlihat bersamanya. Sunghoon memang terkenal. Terlalu terkenal, bahkan. Tengil, suka cari masalah, dan seolah tak pernah kehabisan perempuan. Si teknik redflag berjalan, kalau kata sebagian orang waras. Tapi anehnya, fansnya selalu ada saja yang rela pura-pura buta. Dahimu mengernyit saat matamu berhenti pada sebuah foto yang sejak tadi memenuhi timeline. Sunghoon masih dengan jaket hitam dan helm half-face yang menutupi sebagian wajahnya, duduk di atas motor sambil memboncengi seorang mahasiswi Psikologi yang sama sekali tak kamu kenal. Kedua tangan perempuan itu melingkar santai di pinggangnya, sementara Sunghoon menoleh sedikit ke belakang dengan senyum yang masih bisa terlihat jelas di balik helm. Senyum yang beberapa minggu lalu, masih kamu kira hanya milikmu. [ BASE TEKNIK ] “Guys ini Sunghoon anak mesin bukan sih?😭😭😭 kok kayaknya udah punya gandengan baru aja. Literally baru putus sama si y/n, loh. Eh sekarang udah boncengin anak psikologi wkwkwk. Cocok sih mereka, sama-sama cakep 😭. Btw ada yang tau kabar y/n? takutnya masih galau... atau jangan-jangan malah belum move on? WKWKWK.” Kamu spontan berdecak jijik. “Najis banget??? Ogah banget gue galauin cowok gila itu.” Ponselmu kamu letakkan sedikit kasar di atas meja cafe, sebelum tanganmu meraih gelas minuman yang nyaris habis dan menyesapnya dengan wajah kesal. Teman-temanmu sontak mengangkat kepala dari ponsel masing-masing. Senyum dan kekehan kecil langsung terdengar dari sekitar meja. Reaksimu tentu saja sudah bisa mereka tebak setelah kalian melihat unggahan X itu bersamaan. “Gue bilang juga apa. Sebaik-baiknya anak Teknik, lebih baik jangan,” celetuk Giselle sambil terkekeh puas. “Lu nggak percaya sama gue, sih.” Jessie hanya tersenyum simpul sembari menyesap es kopinya. “Sia-sia air mata lu seminggu kemarin, nangisin anak Teknik jahat.” Kamu memutar bola mata. “Ya udah, sih. Anggap aja kemarin gue dipelet sama dia.” “Dipelet sampe ciuman tiap ketemu?” sahut Giselle dengan wajah penuh seringai jahil. Kamu sontak melotot. Hampir saja minuman yang baru kamu teguk menyembur karena tersedak. Sementara ketiga temanmu justru pecah tertawa melihat reaksimu. Kamu kembali berdecak sebal. “Giselle, shut up. It's so disgusting to remember.” ••• Malam itu, bukannya tidur lebih awal, kamu malah masih duduk dengan laptop di pangkuanmu. Sejak pulang dari cafe tadi, entah kenapa kepalamu masih penuh oleh unggahan base Teknik yang menyebalkan itu. Berkali-kali kamu mencoba mengabaikannya, tetapi kalimat terakhir dalam menfess tersebut terus terngiang-ngiang. “Najis,” gumammu sebal. Kamu menggeleng, lalu kembali memusatkan perhatian pada layar laptop di hadapanmu. Beberapa halaman jurnal hukum terbuka, lengkap dengan catatan dan buku yang berserakan di atas karpet. Jam digital di sudut ruangan sudah menunjukkan 02.11 dini hari. Kamu sebenarnya sudah mengantuk, tapi rasa kesal membuatmu enggan tidur. Daripada terus memikirkan Sunghoon, lebih baik tugas kuliahmu selesai malam ini. Setidaknya, begitu yang kamu pikirkan. Sampai sebuah getaran dari sisi laptop membuat jemarimu berhenti mengetik. Ponselmu menyala, satu nama muncul di layar. Sunghoon. +💬 #pov #sunghoon #sunghoonedit #sunghoonenhypen #fypage

About