@dorcas.esemba3:

Dorcas esemba
Dorcas esemba
Open In TikTok:
Region: CD
Friday 06 November 2026 18:41:09 GMT
45
10
0
2

Music

Download

Comments

There are no more comments for this video.
To see more videos from user @dorcas.esemba3, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Di balik melodinya yang begitu indah dan liriknya yang menyentuh hati, “Somewhere Only We Know” ternyata lahir ketika Keane sedang berada di salah satu masa tersulit dalam perjalanan karier mereka. Sebelum dikenal sebagai salah satu band rock alternatif paling populer dari Inggris, Keane sempat mengalami kesulitan menembus industri musik. Situasi semakin sulit setelah gitaris mereka, Dominic Scott, memutuskan untuk meninggalkan band pada 2001. Keputusan tersebut sempat membuat masa depan Keane dipertanyakan. Namun, alih-alih menyerah, tiga personel yang tersisa justru mencoba menemukan identitas musik baru. Tim Rice-Oxley yang sebelumnya bermain bass mulai beralih ke piano, hingga akhirnya membentuk karakter musik Keane yang khas tanpa mengandalkan gitar. Dalam periode tersebut, mereka juga memutuskan kembali ke kampung halaman di Battle, East Sussex, setelah kesulitan membiayai kehidupan dan aktivitas bermusik di London. Di rumah orang tuanya, Tim kemudian menulis “Somewhere Only We Know” menggunakan piano kecil di ruang keluarga. Menariknya, lagu ini terinspirasi dari sebuah tempat di Sussex yang menyimpan kenangan masa kecil mereka. Tim membayangkan sebuah area dengan pohon pinus tumbang yang dahulu menjadi tempat mereka melarikan diri sejenak dari kenyataan. Ia bahkan mengaku bahwa lagu tersebut lahir dari perasaan ketika mereka membutuhkan sesuatu untuk dijadikan pegangan di tengah ketidakpastian masa depan band. Dirilis pada 2004 sebagai bagian dari album debut Hopes and Fears, “Somewhere Only We Know” akhirnya menjadi salah satu lagu terbesar Keane dan membuka banyak kesempatan bagi perjalanan karier mereka. Album tersebut bahkan telah terjual lebih dari 10 juta kopi di seluruh dunia. Kini, lebih dari dua dekade sejak perilisannya, lagu ini telah menjadi soundtrack kehidupan bagi jutaan pendengar. Menariknya, meskipun awalnya bercerita tentang persahabatan, masa kecil, dan perjalanan Keane sebagai sebuah band, setiap orang bisa menemukan makna personalnya sendiri melalui lagu ini. Pernahkah kalian merasa bahwa ada satu tempat, kenangan, atau seseorang yang selalu ingin kalian kunjungi kembali ketika kehidupan terasa begitu berat? #musiknisme
Di balik melodinya yang begitu indah dan liriknya yang menyentuh hati, “Somewhere Only We Know” ternyata lahir ketika Keane sedang berada di salah satu masa tersulit dalam perjalanan karier mereka. Sebelum dikenal sebagai salah satu band rock alternatif paling populer dari Inggris, Keane sempat mengalami kesulitan menembus industri musik. Situasi semakin sulit setelah gitaris mereka, Dominic Scott, memutuskan untuk meninggalkan band pada 2001. Keputusan tersebut sempat membuat masa depan Keane dipertanyakan. Namun, alih-alih menyerah, tiga personel yang tersisa justru mencoba menemukan identitas musik baru. Tim Rice-Oxley yang sebelumnya bermain bass mulai beralih ke piano, hingga akhirnya membentuk karakter musik Keane yang khas tanpa mengandalkan gitar. Dalam periode tersebut, mereka juga memutuskan kembali ke kampung halaman di Battle, East Sussex, setelah kesulitan membiayai kehidupan dan aktivitas bermusik di London. Di rumah orang tuanya, Tim kemudian menulis “Somewhere Only We Know” menggunakan piano kecil di ruang keluarga. Menariknya, lagu ini terinspirasi dari sebuah tempat di Sussex yang menyimpan kenangan masa kecil mereka. Tim membayangkan sebuah area dengan pohon pinus tumbang yang dahulu menjadi tempat mereka melarikan diri sejenak dari kenyataan. Ia bahkan mengaku bahwa lagu tersebut lahir dari perasaan ketika mereka membutuhkan sesuatu untuk dijadikan pegangan di tengah ketidakpastian masa depan band. Dirilis pada 2004 sebagai bagian dari album debut Hopes and Fears, “Somewhere Only We Know” akhirnya menjadi salah satu lagu terbesar Keane dan membuka banyak kesempatan bagi perjalanan karier mereka. Album tersebut bahkan telah terjual lebih dari 10 juta kopi di seluruh dunia. Kini, lebih dari dua dekade sejak perilisannya, lagu ini telah menjadi soundtrack kehidupan bagi jutaan pendengar. Menariknya, meskipun awalnya bercerita tentang persahabatan, masa kecil, dan perjalanan Keane sebagai sebuah band, setiap orang bisa menemukan makna personalnya sendiri melalui lagu ini. Pernahkah kalian merasa bahwa ada satu tempat, kenangan, atau seseorang yang selalu ingin kalian kunjungi kembali ketika kehidupan terasa begitu berat? #musiknisme

About