@vausesbiggestfan:

🌸
🌸
Open In TikTok:
Region: US
Friday 06 November 2026 19:47:59 GMT
584
107
0
0

Music

Download

Comments

There are no more comments for this video.
To see more videos from user @vausesbiggestfan, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Tentang dua manusia yang pandai mencintai, tetapi lebih mahir melukai. Kita ini makhluk yang sungguh menggelikan. Mengaku mencintai, tetapi diam-diam menyimpan paku di saku. Memeluk dengan kedua tangan, sementara sebelah hati sedang sibuk mengukur jarak untuk pergi. Kita menyebutnya kesetiaan, padahal barangkali hanya ketakutan kehilangan seseorang yang selama ini kita jadikan tempat bersembunyi dari kesepian. Kau mengkhianati dengan wajah tanpa dosa. Aku menelan luka dengan sopan santun yang nyaris menjijikkan. Kita sama-sama pandai berpura-pura menjadi korban, seolah-olah penderitaan adalah perlombaan yang pemenangnya berhak mendapatkan pembenaran. Lucunya, manusia selalu punya kosakata yang indah untuk membungkus keburukannya sendiri. Pengkhianatan disebut khilaf. Kepengecutan disebut belum siap. Ketidakjujuran disebut menjaga perasaan. Dan ketika semua kebusukan itu terbongkar, kita mengangkat kedua tangan ke langit, lalu dengan enteng menyalahkan takdir. Betapa murahnya harga sebuah penyesalan, jika hanya dibayar dengan kata maaf. Kita meminta dimengerti, tetapi tak pernah sungguh-sungguh belajar memahami. Menuntut kejujuran, sementara mulut sendiri menyimpan kebohongan. Ingin dicintai tanpa syarat, tetapi mencintai dengan daftar tuntutan yang panjangnya melebihi kesabaran orang yang kita lukai. Barangkali begitulah cara manusia menjadi dewasa: bukan karena berhasil memahami cinta, melainkan setelah berkali-kali membuktikan betapa buruknya ia memperlakukan hati orang lain. Dan yang paling ironis, kita sering kali baru menyadari betapa berharganya ketulusan setelah berhasil menghancurkannya. Lalu waktu berjalan. Kita bertemu orang baru, mengulang kalimat lama, menjanjikan kesetiaan yang sama, dengan keyakinan bahwa kali ini kita sudah berubah. Padahal mungkin yang berubah hanya nama orang yang akan kita lukai. Semesta tidak perlu menghukum kita. Cukup biarkan kita hidup cukup lama untuk menyaksikan seseorang memperlakukan kita persis seperti dahulu kita memperlakukan orang lain. Sebab ada luka yang tidak membutuhkan pembalasan. Ia hanya membutuhkan waktu untuk memperlihatkan wajah asli pelakunya. Dan pada akhirnya, kita akan mengerti satu hal yang paling menyakitkan: Tidak semua orang yang kehilangan cinta adalah korban. Sebagian kehilangan cinta karena terlalu sibuk merasa dirinya layak dicintai, hingga lupa bahwa orang lain juga punya hati yang bisa hancur. Begitulah kita. Menyebut diri manusia berperasaan, tetapi sering kali memperlakukan perasaan orang lain seperti barang sekali pakai. Kemudian menua, mengoleksi kenangan, memamerkan kebijaksanaan, dan bercerita tentang kedewasaan—tanpa pernah berani mengakui bahwa beberapa orang harus hancur terlebih dahulu hanya agar kita punya cerita tentang betapa bijaksananya diri kita hari ini. #jawa #pituturjowo
Tentang dua manusia yang pandai mencintai, tetapi lebih mahir melukai. Kita ini makhluk yang sungguh menggelikan. Mengaku mencintai, tetapi diam-diam menyimpan paku di saku. Memeluk dengan kedua tangan, sementara sebelah hati sedang sibuk mengukur jarak untuk pergi. Kita menyebutnya kesetiaan, padahal barangkali hanya ketakutan kehilangan seseorang yang selama ini kita jadikan tempat bersembunyi dari kesepian. Kau mengkhianati dengan wajah tanpa dosa. Aku menelan luka dengan sopan santun yang nyaris menjijikkan. Kita sama-sama pandai berpura-pura menjadi korban, seolah-olah penderitaan adalah perlombaan yang pemenangnya berhak mendapatkan pembenaran. Lucunya, manusia selalu punya kosakata yang indah untuk membungkus keburukannya sendiri. Pengkhianatan disebut khilaf. Kepengecutan disebut belum siap. Ketidakjujuran disebut menjaga perasaan. Dan ketika semua kebusukan itu terbongkar, kita mengangkat kedua tangan ke langit, lalu dengan enteng menyalahkan takdir. Betapa murahnya harga sebuah penyesalan, jika hanya dibayar dengan kata maaf. Kita meminta dimengerti, tetapi tak pernah sungguh-sungguh belajar memahami. Menuntut kejujuran, sementara mulut sendiri menyimpan kebohongan. Ingin dicintai tanpa syarat, tetapi mencintai dengan daftar tuntutan yang panjangnya melebihi kesabaran orang yang kita lukai. Barangkali begitulah cara manusia menjadi dewasa: bukan karena berhasil memahami cinta, melainkan setelah berkali-kali membuktikan betapa buruknya ia memperlakukan hati orang lain. Dan yang paling ironis, kita sering kali baru menyadari betapa berharganya ketulusan setelah berhasil menghancurkannya. Lalu waktu berjalan. Kita bertemu orang baru, mengulang kalimat lama, menjanjikan kesetiaan yang sama, dengan keyakinan bahwa kali ini kita sudah berubah. Padahal mungkin yang berubah hanya nama orang yang akan kita lukai. Semesta tidak perlu menghukum kita. Cukup biarkan kita hidup cukup lama untuk menyaksikan seseorang memperlakukan kita persis seperti dahulu kita memperlakukan orang lain. Sebab ada luka yang tidak membutuhkan pembalasan. Ia hanya membutuhkan waktu untuk memperlihatkan wajah asli pelakunya. Dan pada akhirnya, kita akan mengerti satu hal yang paling menyakitkan: Tidak semua orang yang kehilangan cinta adalah korban. Sebagian kehilangan cinta karena terlalu sibuk merasa dirinya layak dicintai, hingga lupa bahwa orang lain juga punya hati yang bisa hancur. Begitulah kita. Menyebut diri manusia berperasaan, tetapi sering kali memperlakukan perasaan orang lain seperti barang sekali pakai. Kemudian menua, mengoleksi kenangan, memamerkan kebijaksanaan, dan bercerita tentang kedewasaan—tanpa pernah berani mengakui bahwa beberapa orang harus hancur terlebih dahulu hanya agar kita punya cerita tentang betapa bijaksananya diri kita hari ini. #jawa #pituturjowo

About