@oocllg_2: ، صعدو يلا ، ، ، ، ، ، ، ، ، ، ، ، ، ، ، ، ، ، ، ، ، ، ،، ، ، ، ، ، ، ، ، ، ، ، ، ، #ابوجنه #صعدو #الشعب_الصيني_ماله_حل😂😂 #لايك #تعليق

اخو الشمر الكتل الحسين
اخو الشمر الكتل الحسين
Open In TikTok:
Region: IQ
Saturday 07 November 2026 14:51:35 GMT
24678
1037
54
1550

Music

Download

Comments

hussein_iq_3136
حسين :
خابرت ابو جنه كال بل طريق
2026-11-07 18:21:37
32
iofxxxxxxx
ٍ :
مارلوت
2026-11-07 18:11:02
0
tj17o
7xp 🍁 :
اخ بطني 😭😭😭😭😭😭 هههههههههههههههههههههههههههههههههههههههههههههههههههههههههههههههههههههههههههههههههههههههههههههههههههههههههههههههههههههههههههههههههههههههههههههههههههههههههههههههههههههههههههههه
2026-11-07 18:02:53
4
_01ih
ابو رنا☘️ :
وعلي ضايج بس من شفتك ضحكت😂😂
2026-11-07 17:56:07
4
if_695
سـوبـارو✓ :
بس صدك هوة ليش ضاج هاي الافلوس وكذاا يضوج على هذاا؟!!!
2026-11-07 17:55:49
1
h_18rhh
БезбожникБезбожник :
بطنيييييييييي😭😭😭😂😂😂😁😂🥰😂
2026-11-07 18:11:59
0
hmmidk942
hmmidk :
2026-11-07 19:04:45
0
goold425
GOOLD :
كلشي يضحك بس من تكفر لا
2026-11-07 17:37:02
0
oz5a3
إسيو الشيعي :
2026-11-07 14:54:06
1
3likel
𝐀𝐑𝐈𝐌𝐀 𖣂 :
هذا شبي؟
2026-11-07 18:16:05
0
aa61_t
❄ :
2026-11-07 17:53:23
0
ikrkl4
A M I R :
2026-11-07 17:09:08
2
101qpo
🐈َ،ِ. :
2026-11-07 15:06:09
2
user9836316186990
محمد😮‍💨 :
2026-11-07 17:33:14
0
oypuj
حسين الطيب :
2026-11-07 17:48:48
0
.b.5b
𓇼 :
2026-11-07 18:11:40
0
23__894
سيدرا 🇮🇷❤️‍🩹🇮🇶 :
2026-11-07 18:29:24
0
oex68
𝗞𝗿𝗮𝗿 :
2026-11-07 18:19:00
0
a__jks0
꧁꧂🇮🇶 :
اذا ما اكل لأبو اجنة
2026-11-07 18:29:51
0
boys01478
سندريلا. :
احسك من شد معجبين ابو جنه
2026-11-07 17:22:58
0
a__lro
علي محمد :
است
2026-11-07 18:51:15
0
gost_sky7
(ارد المتابعه)SOMEONE :
الاستوري
2026-11-07 18:38:51
0
oiy299
عماد(ها منين أبوسك منا لو منا) :
انته ماتوبببب
2026-11-07 19:04:33
1
aprkkt
ابراهيم :
@أمير محمد
2026-11-07 18:59:51
0
z_tl7_
D.W :
@abaas @vingolfin @ᴋʀᴏɴᴏѕ
2026-11-07 18:01:40
2
To see more videos from user @oocllg_2, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Pov|| “Tolong bantu saya.” Suara Evan terdengar bergetar. Kedua tangannya terkepal di atas lutut, sementara tatapannya tertuju pada pria tua yang duduk di hadapannya. Namun, pria itu sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan. Ia justru menyandarkan punggungnya dengan santai, seolah permohonan Evan hanyalah gangguan kecil di tengah kesibukannya. “Ini bukan masalah membantu,” jawabnya tenang. “Kamu bahkan tidak akan mengerti bagaimana dunia ini bekerja.” Evan mengangkat wajahnya. “Tidak, kumohon. Saya akan bekerja keras untuk ini. Saya akan melakukan apa pun yang diperlukan, asalkan..” “Sudah.” Satu kata itu cukup untuk memutus ucapan Evan. Pria tua tersebut berdiri, merapikan jasnya, lalu menatap Evan untuk terakhir kali. “Saya tidak ingin mengambil risiko dengan mempercayai seseorang yang bahkan belum memiliki apa-apa untuk ditawarkan.” “Tuan, saya mohon,” “Pembicaraan kita selesai.” Tanpa menunggu jawaban, pria itu berbalik dan berjalan meninggalkan ruangan. Evan tetap diam di tempatnya. Ia memperhatikan punggung pria tersebut yang semakin menjauh, sampai suara langkahnya benar-benar menghilang di balik pintu. Perlahan, bahunya merosot. Tangannya mengepal semakin erat hingga buku-buku jarinya memutih. Ia sudah berusaha merendahkan harga dirinya, menelan rasa malu, bahkan memohon kepada orang yang sebelumnya tidak pernah terpikir akan ia datangi. Namun, hasilnya tetap sama. Tidak ada yang bersedia membantunya. Padahal, ia hanya ingin menyelamatkan ayahnya dari kebangkrutan. Hanya itu. Evan menundukkan kepala, mengembuskan napas panjang, lalu tertawa kecil tanpa humor. “Baiklah.” Ia bangkit dari kursinya dan merapikan jas yang sedikit kusut. Raut putus asa yang sempat terlihat di wajahnya perlahan menghilang, digantikan oleh tatapan tajam yang sulit diartikan. “Sialan,” gumamnya. Rahangnya mengeras. “Aku pastikan kau akan membayar penghinaan ini, Tuan Lee.” ⸻ Malam itu, sebuah gedung megah dipenuhi cahaya lampu keemasan. Kilauan kristal dari lampu gantung menerangi ruangan, sementara alunan orkestra terdengar lembut, mengiringi percakapan para tamu yang memenuhi aula. Gaun-gaun mewah, setelan jas mahal, dan perhiasan berkilauan menghiasi setiap sudut ruangan. Seperti biasa, acara tersebut dihadiri oleh orang-orang dari kalangan atas. Mereka datang untuk menjalin relasi, membicarakan bisnis, atau sekadar mempertahankan nama baik keluarga masing-masing. Dan kamu? Kamu sudah bosan sejak tiga puluh menit pertama. Dengan gaun elegan yang membalut tubuhmu, kamu duduk di salah satu sofa dekat area pertunjukan. Sebuah gelas anggur berada di tanganmu, sesekali kamu putar perlahan sambil memperhatikan para pemain orkestra di depan. Kamu sebenarnya tidak keberatan menghadiri acara seperti ini. Hanya saja, mendengarkan percakapan orang-orang dewasa yang sebagian besar membicarakan bisnis terkadang terasa melelahkan. Apalagi ayahmu sudah menghabiskan hampir seluruh waktunya berbincang dengan beberapa rekan bisnis. Alhasil, kamu ditinggalkan sendirian. Kamu baru saja mengangkat gelas ke bibir ketika sebuah suara terdengar dari samping. “Hai, Nona. Boleh aku bergabung?” Kamu menoleh. Seorang pria tinggi berdiri di dekat sofa. Ia mengenakan setelan jas hitam yang terlihat begitu pas di tubuhnya, dengan kemeja putih dan dasi gelap yang menambah kesan elegan. Rambutnya tertata rapi, sementara tatapannya tertuju kepadamu dengan senyum tipis di bibir. Kamu mengernyit pelan. “Tidak ada larangan untuk duduk di mana saja, kan?” balasmu santai. Pria itu tertawa kecil mendengar jawabanmu. “Benar juga.” Ia kemudian duduk di sebelahmu, menyisakan jarak yang cukup sopan di antara kalian. Untuk beberapa saat, kamu kembali mengalihkan perhatian kepada orkestra. Kamu mengira pria itu akan sibuk dengan urusannya sendiri, seperti kebanyakan tamu lain. Namun, rupanya tidak. “Kau cantik sekali.” Kamu menoleh lagi, kali ini dengan sedikit keterkejutan. “Terima kasih atas pujiannya, Tuan.”(++saluran)  #evan #heeseung #pov #fyppppppppppppppppppppppp #alternativeuniverse
Pov|| “Tolong bantu saya.” Suara Evan terdengar bergetar. Kedua tangannya terkepal di atas lutut, sementara tatapannya tertuju pada pria tua yang duduk di hadapannya. Namun, pria itu sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan. Ia justru menyandarkan punggungnya dengan santai, seolah permohonan Evan hanyalah gangguan kecil di tengah kesibukannya. “Ini bukan masalah membantu,” jawabnya tenang. “Kamu bahkan tidak akan mengerti bagaimana dunia ini bekerja.” Evan mengangkat wajahnya. “Tidak, kumohon. Saya akan bekerja keras untuk ini. Saya akan melakukan apa pun yang diperlukan, asalkan..” “Sudah.” Satu kata itu cukup untuk memutus ucapan Evan. Pria tua tersebut berdiri, merapikan jasnya, lalu menatap Evan untuk terakhir kali. “Saya tidak ingin mengambil risiko dengan mempercayai seseorang yang bahkan belum memiliki apa-apa untuk ditawarkan.” “Tuan, saya mohon,” “Pembicaraan kita selesai.” Tanpa menunggu jawaban, pria itu berbalik dan berjalan meninggalkan ruangan. Evan tetap diam di tempatnya. Ia memperhatikan punggung pria tersebut yang semakin menjauh, sampai suara langkahnya benar-benar menghilang di balik pintu. Perlahan, bahunya merosot. Tangannya mengepal semakin erat hingga buku-buku jarinya memutih. Ia sudah berusaha merendahkan harga dirinya, menelan rasa malu, bahkan memohon kepada orang yang sebelumnya tidak pernah terpikir akan ia datangi. Namun, hasilnya tetap sama. Tidak ada yang bersedia membantunya. Padahal, ia hanya ingin menyelamatkan ayahnya dari kebangkrutan. Hanya itu. Evan menundukkan kepala, mengembuskan napas panjang, lalu tertawa kecil tanpa humor. “Baiklah.” Ia bangkit dari kursinya dan merapikan jas yang sedikit kusut. Raut putus asa yang sempat terlihat di wajahnya perlahan menghilang, digantikan oleh tatapan tajam yang sulit diartikan. “Sialan,” gumamnya. Rahangnya mengeras. “Aku pastikan kau akan membayar penghinaan ini, Tuan Lee.” ⸻ Malam itu, sebuah gedung megah dipenuhi cahaya lampu keemasan. Kilauan kristal dari lampu gantung menerangi ruangan, sementara alunan orkestra terdengar lembut, mengiringi percakapan para tamu yang memenuhi aula. Gaun-gaun mewah, setelan jas mahal, dan perhiasan berkilauan menghiasi setiap sudut ruangan. Seperti biasa, acara tersebut dihadiri oleh orang-orang dari kalangan atas. Mereka datang untuk menjalin relasi, membicarakan bisnis, atau sekadar mempertahankan nama baik keluarga masing-masing. Dan kamu? Kamu sudah bosan sejak tiga puluh menit pertama. Dengan gaun elegan yang membalut tubuhmu, kamu duduk di salah satu sofa dekat area pertunjukan. Sebuah gelas anggur berada di tanganmu, sesekali kamu putar perlahan sambil memperhatikan para pemain orkestra di depan. Kamu sebenarnya tidak keberatan menghadiri acara seperti ini. Hanya saja, mendengarkan percakapan orang-orang dewasa yang sebagian besar membicarakan bisnis terkadang terasa melelahkan. Apalagi ayahmu sudah menghabiskan hampir seluruh waktunya berbincang dengan beberapa rekan bisnis. Alhasil, kamu ditinggalkan sendirian. Kamu baru saja mengangkat gelas ke bibir ketika sebuah suara terdengar dari samping. “Hai, Nona. Boleh aku bergabung?” Kamu menoleh. Seorang pria tinggi berdiri di dekat sofa. Ia mengenakan setelan jas hitam yang terlihat begitu pas di tubuhnya, dengan kemeja putih dan dasi gelap yang menambah kesan elegan. Rambutnya tertata rapi, sementara tatapannya tertuju kepadamu dengan senyum tipis di bibir. Kamu mengernyit pelan. “Tidak ada larangan untuk duduk di mana saja, kan?” balasmu santai. Pria itu tertawa kecil mendengar jawabanmu. “Benar juga.” Ia kemudian duduk di sebelahmu, menyisakan jarak yang cukup sopan di antara kalian. Untuk beberapa saat, kamu kembali mengalihkan perhatian kepada orkestra. Kamu mengira pria itu akan sibuk dengan urusannya sendiri, seperti kebanyakan tamu lain. Namun, rupanya tidak. “Kau cantik sekali.” Kamu menoleh lagi, kali ini dengan sedikit keterkejutan. “Terima kasih atas pujiannya, Tuan.”(++saluran) #evan #heeseung #pov #fyppppppppppppppppppppppp #alternativeuniverse

About