@demie.spamm:

dem
dem
Open In TikTok:
Region: GB
Saturday 07 November 2026 20:25:58 GMT
90
17
0
0

Music

Download

Comments

There are no more comments for this video.
To see more videos from user @demie.spamm, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Tiga bulan berlalu. Masa Puinara di Banyu Wingi hampir berakhir. Walaupun begitu, bukan berarti tiga bulan tersebut berjalan tanpa gangguan. Gangguan itu datang dari seseorang bernama Bintari Kusuma. Tidak ada satu hari pun berlalu tanpa godaannya. Lucunya, Puinara sudah mulai terbiasa. Bahkan, tidak lagi segan membalas setiap godaan perempuan itu. Suatu hari, Puinara datang ke rumah Bintari untuk mengembalikan sehelai baju yang dipinjamnya. “Mbak… ini mau ditaruh di mana?” tanyanya sambil memperlihatkan baju tersebut. Bintari yang sedang sibuk memotong bunga rampai untuk dijadikan wewangian hanya mengerutkan dahi. “Kenapa nggak disimpan saja?” “Tapi ini punya Mbak. Saya cuma pinjam.” “Simpan saja. Siapa tahu nanti kamu kangen sama saya.” Jawaban itu keluar begitu saja, seolah-olah sedang membicarakan cuaca. Puinara memasang wajah kesal. “Dari saya cium pabrik Mbak, mending langsung meluk Mbak saja,” gumamnya pelan. Siapa sangka Bintari ternyata mendengarnya dengan sangat jelas? “Kebetulan hari ini saya habis pakai wangian.” Tangan Bintari berhenti bekerja. Ada senyum kecil yang perlahan muncul di wajahnya. “Mau coba?” Seketika, Puinara merasa seluruh darah di wajahnya menghilang. Sial. Seharusnya tadi dia diam saja. Bintari juga pernah sengaja menunggunya di tepi sungai ketika Puinara sedang membersihkan saluran air desa. “Gak capek nungguin saya di sini, Mbak?” tanya Puinara. “Nggak, kok,” jawab Bintari santai. Puinara melirik perempuan itu. “Naik dulu, dong. Di sini panas. Nanti kulitnya terbakar.” Bintari menoleh, kemudian tersenyum tipis. “Tiga puluh tahun saya menunggu jodoh. Masa satu jam di bawah matahari buat menunggu kamu saja nggak sanggup?” Puinara menghentikan pekerjaannya. “Sudah, Mbak. Saya gak kuat digodain terus.” Kali ini, Bintari justru cemberut. “Dari tadi manggil saya Mbak terus…” Puinara mengangkat wajah. Tidak ada lagi pembawaan anggun seorang perempuan yang dikenal sebagai Kembang Desa Banyu Wingi. Cuma ada Bintari. “Jadi, Mbak mau saya panggil apa?” “Manggil sayang, coba.” Puinara langsung terkekeh. “Oh, Bintari… besar sekali permintaan wanita purba ini.” “Hei! Kurang ajar!” Bintari langsung melotot. Sementara Puinara sudah lebih dulu tertawa melihat ekspresi perempuan itu. Namun, belum sempat Bintari membalas, Puinara kembali membuka mulut. “Sebentar, Mbak. Saya mau tanya.” “Apa?” “Kalau obat buat kabur dari godaan wanita berumur itu apa, ya?” Bintari menjeling. Mulutnya sudah bersiap mengeluarkan balasan, tetapi tiba-tiba sebuah senyuman kecil muncul di wajahnya. “Nikah.” “EH—!” Puinara terdiam. Bintari kembali tersenyum puas. Sepertinya, tugas utama Bintari adalah menemukan cara untuk menyembuhkan pasien yang terlalu banyak bicara. Dan untuk Puinara, resepnya selalu sama. Bintari Kusuma. Namun, tiga bulan itu tetap harus berakhir. Hari kepulangan Puinara ke Jakarta semakin dekat. Satu sore terakhir mereka bersama, keduanya memilih menghabiskan waktu di tepi sungai. “Mbak…” “Hm?” “Gimana rasanya kalau ditinggal jauh?” Bintari tidak langsung menjawab. Ia tahu ke mana arah pembicaraan itu. Bukan sesuatu yang baru. Kemudian, barulah ia bersuara. “Sedih. Tapi lama-lama juga terbiasa.” Puinara menundukkan kepala. “Parah, ya. Jadi makin nggak tega.” Bintari menoleh. “Kenapa nggak tega?” Puinara menghela napas kecil sebelum mulai menghitung dengan jari. “Nggak tega ninggalin Mbak. Sudah wangi, ayu, tinggi, kaya, dukun sakti, pintar masak…” Satu per satu pujian itu keluar dari mulut Puinara. Sementara itu, Bintari hanya diam. Matanya tertuju pada perempuan di sebelahnya, bahkan nyaris tidak berkedip. Entah sejak kapan, senyum kecil mulai menghiasi wajahnya. “Ayo, nikah saja sekarang, Nara.” Puinara menoleh. “Jujur, saya nggak sengaja muji.” Bintari tertawa. “Tapi, saya serius.” Puinara menutup wajah dengan kedua tangannya. Ya Tuhan. Ternyata tiga bulan belum cukup untuk membuatnya kebal terhadap perempuan ini. Bintari masih saja Bintari. Masih suka menggoda, masih keras kepala, dan masih punya cara tersendiri untuk membuat Puinara tidak tahu harus bereaksi bagaimana. #puinoonbint
Tiga bulan berlalu. Masa Puinara di Banyu Wingi hampir berakhir. Walaupun begitu, bukan berarti tiga bulan tersebut berjalan tanpa gangguan. Gangguan itu datang dari seseorang bernama Bintari Kusuma. Tidak ada satu hari pun berlalu tanpa godaannya. Lucunya, Puinara sudah mulai terbiasa. Bahkan, tidak lagi segan membalas setiap godaan perempuan itu. Suatu hari, Puinara datang ke rumah Bintari untuk mengembalikan sehelai baju yang dipinjamnya. “Mbak… ini mau ditaruh di mana?” tanyanya sambil memperlihatkan baju tersebut. Bintari yang sedang sibuk memotong bunga rampai untuk dijadikan wewangian hanya mengerutkan dahi. “Kenapa nggak disimpan saja?” “Tapi ini punya Mbak. Saya cuma pinjam.” “Simpan saja. Siapa tahu nanti kamu kangen sama saya.” Jawaban itu keluar begitu saja, seolah-olah sedang membicarakan cuaca. Puinara memasang wajah kesal. “Dari saya cium pabrik Mbak, mending langsung meluk Mbak saja,” gumamnya pelan. Siapa sangka Bintari ternyata mendengarnya dengan sangat jelas? “Kebetulan hari ini saya habis pakai wangian.” Tangan Bintari berhenti bekerja. Ada senyum kecil yang perlahan muncul di wajahnya. “Mau coba?” Seketika, Puinara merasa seluruh darah di wajahnya menghilang. Sial. Seharusnya tadi dia diam saja. Bintari juga pernah sengaja menunggunya di tepi sungai ketika Puinara sedang membersihkan saluran air desa. “Gak capek nungguin saya di sini, Mbak?” tanya Puinara. “Nggak, kok,” jawab Bintari santai. Puinara melirik perempuan itu. “Naik dulu, dong. Di sini panas. Nanti kulitnya terbakar.” Bintari menoleh, kemudian tersenyum tipis. “Tiga puluh tahun saya menunggu jodoh. Masa satu jam di bawah matahari buat menunggu kamu saja nggak sanggup?” Puinara menghentikan pekerjaannya. “Sudah, Mbak. Saya gak kuat digodain terus.” Kali ini, Bintari justru cemberut. “Dari tadi manggil saya Mbak terus…” Puinara mengangkat wajah. Tidak ada lagi pembawaan anggun seorang perempuan yang dikenal sebagai Kembang Desa Banyu Wingi. Cuma ada Bintari. “Jadi, Mbak mau saya panggil apa?” “Manggil sayang, coba.” Puinara langsung terkekeh. “Oh, Bintari… besar sekali permintaan wanita purba ini.” “Hei! Kurang ajar!” Bintari langsung melotot. Sementara Puinara sudah lebih dulu tertawa melihat ekspresi perempuan itu. Namun, belum sempat Bintari membalas, Puinara kembali membuka mulut. “Sebentar, Mbak. Saya mau tanya.” “Apa?” “Kalau obat buat kabur dari godaan wanita berumur itu apa, ya?” Bintari menjeling. Mulutnya sudah bersiap mengeluarkan balasan, tetapi tiba-tiba sebuah senyuman kecil muncul di wajahnya. “Nikah.” “EH—!” Puinara terdiam. Bintari kembali tersenyum puas. Sepertinya, tugas utama Bintari adalah menemukan cara untuk menyembuhkan pasien yang terlalu banyak bicara. Dan untuk Puinara, resepnya selalu sama. Bintari Kusuma. Namun, tiga bulan itu tetap harus berakhir. Hari kepulangan Puinara ke Jakarta semakin dekat. Satu sore terakhir mereka bersama, keduanya memilih menghabiskan waktu di tepi sungai. “Mbak…” “Hm?” “Gimana rasanya kalau ditinggal jauh?” Bintari tidak langsung menjawab. Ia tahu ke mana arah pembicaraan itu. Bukan sesuatu yang baru. Kemudian, barulah ia bersuara. “Sedih. Tapi lama-lama juga terbiasa.” Puinara menundukkan kepala. “Parah, ya. Jadi makin nggak tega.” Bintari menoleh. “Kenapa nggak tega?” Puinara menghela napas kecil sebelum mulai menghitung dengan jari. “Nggak tega ninggalin Mbak. Sudah wangi, ayu, tinggi, kaya, dukun sakti, pintar masak…” Satu per satu pujian itu keluar dari mulut Puinara. Sementara itu, Bintari hanya diam. Matanya tertuju pada perempuan di sebelahnya, bahkan nyaris tidak berkedip. Entah sejak kapan, senyum kecil mulai menghiasi wajahnya. “Ayo, nikah saja sekarang, Nara.” Puinara menoleh. “Jujur, saya nggak sengaja muji.” Bintari tertawa. “Tapi, saya serius.” Puinara menutup wajah dengan kedua tangannya. Ya Tuhan. Ternyata tiga bulan belum cukup untuk membuatnya kebal terhadap perempuan ini. Bintari masih saja Bintari. Masih suka menggoda, masih keras kepala, dan masih punya cara tersendiri untuk membuat Puinara tidak tahu harus bereaksi bagaimana. #puinoonbint

About