@occonews: New York police announced on November 7 that they had arrested Sayed Mohassib, 27, in the killing of Brooklyn jogger Katie Suarez. He faces charges including second-degree murder, tampering with physical evidence and criminal possession of a weapon. Mohassib most recently worked as a school aide at P.S. 200 in Brooklyn and briefly served in the NYPD in 2022. Suarez, 28, was attacked while running along the Shore Parkway Greenway in Bath Beach on the evening of October 30. She was supposed to meet her parents but failed to arrive and stopped answering calls. Her parents searched for her, and her father found her critically injured. She died in the hospital three days later. Investigators said surveillance and other evidence linked Mohassib to the scene. NBC, citing law-enforcement sources, reported that cameras also recorded him discarding garbage bags near his home that night, prompting a search for possible evidence. Reporting does not consistently establish that the weapon has been recovered, so that should not be presented as a confirmed fact. His employment history has drawn scrutiny. NBC reported that he began working as an NYPD rookie in the Bronx in October 2022, entered military service about a month later and subsequently resigned from the police department. An attempt to rejoin the NYPD was rejected. Details about psychiatric evaluations and his military discharge come primarily from law-enforcement sources and do not establish a motive for this attack. The city’s Department of Education said Mohassib had been suspended and that it was supporting the investigation. Local elected officials have called for a review of his hiring and continued employment. Police believe the attack may have been random, but no clear motive has been announced. Both attended Brooklyn College, although that does not establish that they knew each other.

OCCO News
OCCO News
Open In TikTok:
Region: US
Sunday 08 November 2026 00:46:43 GMT
109
3
0
0

Music

Download

Comments

There are no more comments for this video.
To see more videos from user @occonews, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Sumpah… aku nulis ini sambil nahan air mata yang tumpah deras di pipi, dada sesak luar biasa, dan tangan gemetar hebat karena kewarasanku benar-benar sudah di ambang batas kehancuran. Di titik terendah hidupku yang paling gelap, penuh kekecewaan, dan membuatku menangis terisak sendirian di sudut kamar tanpa ada yang mengerti,  aku mau jujur dan melepaskan semua beban batin yang menghimpit jiwaku: baru tiga tahun kami menikah, tepat di tahun ketiga ini rumah tanggamu hancur lebur karena suamiku tercinta terserang stroke akibat riwayat darah tingginya. Sekarang, suami yang dulu kuandalkan berubah jadi pengangguran, lumpuh total tak berdaya, dan sepenuhnya menjadi beban hidup di pundakku, membuatku diliputi rasa penyesalan yang teramat dalam hingga terbersit rasa menyesal mengapa dulu harus menikah dengannya! Semua mimpi indah rumah tangga yang kubangun dengan penuh cinta runtuh seketika, padahal kalau diingat-ingat kembali, malapetaka mengerikan ini bener-bener berawal dari gejala awal yang dari dulu selalu kami anggap remeh. Tiap kali suamiku pulang kerja ngeluh leher belakang kerasa kaku banget, tengkuk berat kayak ditimpa beban berkuintal-kuintal, atau kepala rasanya cengkrang-cengkrang, kami selalu ngeles.  Dalam hati selalu mikir, “Ah, paling cuma capek habis cari uang, kurang tidur dikit, atau kebanyakan pikiran kerjaan doang, nanti juga hilang sendiri pas dibawa tidur.” Paling banter dia cuma bawa tidur sebentar, dioles minyak angin, atau ditempel koyo di leher tanpa pernah tahu ada bahaya besar yang sedang mengintai di balik diamnya tubuh. Padahal kalau mau jujur, pemicu utamanya ya kebiasaan sepele yang ditumpuk suamiku tiap hari tanpa pernah mau dengar omonganku. Suamiku hobi banget begadang sampai subuh demi lembur kerjaan atau main game, menampung stres beban hidup sendirian tanpa mau cerita ke istrinya, ditambah pola makan yang hancur lebur—hobi banget makan makanan asin gurih berlebihan, gorengan berminyak, dan ngopi bergelas-gelas tanpa kenal waktu. Kami selalu mikir karena usianya masih muda dan badannya kelihatannya kokoh, tubuhnya bakal baik-baik aja menampung semua gaya hidup merusak itu. Sampai akhirnya hari naas yang menghancurkan segalanya itu beneran datang. Rasa pusing dan leher kaku itu mendadak berubah jadi hantaman hebat kepala rasanya mau pecah, pandangan gelap, dan sekujur tubuh sebelah kanannya langsung ambruk lemas tak berdaya di lantai. Panik setengah mati, aku membawanya buru-buru ke IGD rumah sakit. Tapi pas alat tensimeter dipasang di lengannya dan perawat selesai memompa... raut wajah petugas medis langsung berubah sangat panik dan tegang.
Sumpah… aku nulis ini sambil nahan air mata yang tumpah deras di pipi, dada sesak luar biasa, dan tangan gemetar hebat karena kewarasanku benar-benar sudah di ambang batas kehancuran. Di titik terendah hidupku yang paling gelap, penuh kekecewaan, dan membuatku menangis terisak sendirian di sudut kamar tanpa ada yang mengerti, aku mau jujur dan melepaskan semua beban batin yang menghimpit jiwaku: baru tiga tahun kami menikah, tepat di tahun ketiga ini rumah tanggamu hancur lebur karena suamiku tercinta terserang stroke akibat riwayat darah tingginya. Sekarang, suami yang dulu kuandalkan berubah jadi pengangguran, lumpuh total tak berdaya, dan sepenuhnya menjadi beban hidup di pundakku, membuatku diliputi rasa penyesalan yang teramat dalam hingga terbersit rasa menyesal mengapa dulu harus menikah dengannya! Semua mimpi indah rumah tangga yang kubangun dengan penuh cinta runtuh seketika, padahal kalau diingat-ingat kembali, malapetaka mengerikan ini bener-bener berawal dari gejala awal yang dari dulu selalu kami anggap remeh. Tiap kali suamiku pulang kerja ngeluh leher belakang kerasa kaku banget, tengkuk berat kayak ditimpa beban berkuintal-kuintal, atau kepala rasanya cengkrang-cengkrang, kami selalu ngeles. Dalam hati selalu mikir, “Ah, paling cuma capek habis cari uang, kurang tidur dikit, atau kebanyakan pikiran kerjaan doang, nanti juga hilang sendiri pas dibawa tidur.” Paling banter dia cuma bawa tidur sebentar, dioles minyak angin, atau ditempel koyo di leher tanpa pernah tahu ada bahaya besar yang sedang mengintai di balik diamnya tubuh. Padahal kalau mau jujur, pemicu utamanya ya kebiasaan sepele yang ditumpuk suamiku tiap hari tanpa pernah mau dengar omonganku. Suamiku hobi banget begadang sampai subuh demi lembur kerjaan atau main game, menampung stres beban hidup sendirian tanpa mau cerita ke istrinya, ditambah pola makan yang hancur lebur—hobi banget makan makanan asin gurih berlebihan, gorengan berminyak, dan ngopi bergelas-gelas tanpa kenal waktu. Kami selalu mikir karena usianya masih muda dan badannya kelihatannya kokoh, tubuhnya bakal baik-baik aja menampung semua gaya hidup merusak itu. Sampai akhirnya hari naas yang menghancurkan segalanya itu beneran datang. Rasa pusing dan leher kaku itu mendadak berubah jadi hantaman hebat kepala rasanya mau pecah, pandangan gelap, dan sekujur tubuh sebelah kanannya langsung ambruk lemas tak berdaya di lantai. Panik setengah mati, aku membawanya buru-buru ke IGD rumah sakit. Tapi pas alat tensimeter dipasang di lengannya dan perawat selesai memompa... raut wajah petugas medis langsung berubah sangat panik dan tegang. "Ini tensinya melonjak sangat krisis terekstrem di angka 210/110! Ini sudah memicu pecah pembuluh darah dan Serangan Stroke Berat!" seru perawat dengan nada buru-buru memanggil dokter spesialis. Kalimat vonis dari dokter setelahnya langsung bikin petir menyambar tepat di dadaku dan duniaku runtuh seketika: "Suami Anda mengalami Hipertensi Kritis yang memicu Stroke Berat! Fisiknya lumpuh total, tidak bisa lagi bekerja, dan membutuhkan perawatan serta pemulihan seumur hidup!" Detik itu juga, duniaku runtuh tak tersisa. Rumah tangga yang baru seumur jagung berubah jadi penjara penderitaan: suami lumpuh dan menganggur, tabungan ludes tak bersisa, aku harus banting tulang sendirian menanggung semua biaya hidup, dan rasa cinta itu perlahan terkikis oleh beban berat yang membuatku sangat menyesal terjebak dalam pernikahan ini. Jujur, penyesalan selalu datang terlambat dan rasanya membakar dada tanpa henti. Kenapa sih dulu kami begitu bodoh mengabaikan sinyal pusing dan tengkuk kaku? Dari sini aku makin sadar kalau hipertensi tuh beneran silent killer yang paling jahat. Dia menyelinap diam-diam di balik kerja keras, merusak tubuh tanpa suara, dan begitu meledak, bukan cuma raga yang lumpuh, tapi masa depan rumah tangga, kebahagiaan pengantin baru, dan kewarasan kita ikut dihancurkan tak bersisa. #viral #darahtingg #hipertensi #tekanandarahtinggi #fyp

About