@quangtrung_75:

_Qtrungg
_Qtrungg
Open In TikTok:
Region: VN
Sunday 08 November 2026 14:17:05 GMT
39
9
0
1

Music

Download

Comments

There are no more comments for this video.
To see more videos from user @quangtrung_75, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Kalau mendengar nama Gerwani, banyak orang mungkin langsung teringat pada cerita tentang perempuan yang menari, menyiksa para jenderal, dan melakukan tindakan keji di Lubang Buaya. Gambaran itu memang sangat kuat dalam ingatan masyarakat Indonesia. Salah satunya dibentuk lewat pemberitaan setelah peristiwa 1965 dan kemudian diperkuat melalui berbagai narasi pada masa Orde Baru, termasuk film Pengkhianatan G30S/PKI. Tapi kalau kita mundur beberapa tahun, sejarah Gerwani ternyata jauh lebih panjang. Sebelum bernama Gerwani, organisasi ini adalah Gerwis (Gerakan Wanita Sedar) yang berdiri di Semarang pada 4 Juni 1950. Mereka bergerak dalam persoalan pendidikan, pemberantasan buta huruf, hak perempuan, perkawinan, anti-poligami, dan berbagai persoalan sosial. Dalam perkembangannya, Gerwis berubah menjadi Gerwani pada 1954. Organisasi ini kemudian berkembang menjadi gerakan perempuan dengan basis massa yang besar dan semakin aktif memasuki politik nasional. Di sinilah hubungan Gerwani dengan PKI mulai menjadi bagian penting dalam sejarahnya. Gerwani memang semakin dekat dengan PKI. Banyak agenda politik keduanya beririsan, terutama soal anti-imperialisme, reforma agraria, buruh dan tani. Namun, menyebut Gerwani sebagai organisasi PKI sejak awal juga terlalu sederhana. Menurut Saskia E. Wieringa, Gerwani mendefinisikan dirinya sebagai organisasi politik nonpartai dari 1954 hingga 1965. Baru pada Januari 1965 muncul keputusan untuk menyiapkan afiliasi dengan PKI. Keputusan tersebut masih harus disahkan melalui kongres yang direncanakan pada Desember 1965. Kongres itu tidak pernah terlaksana. Lalu datanglah Oktober 1965. Gerwani kemudian dikaitkan dengan peristiwa di Lubang Buaya. Muncul pemberitaan mengenai penyiksaan para jenderal dan cerita tentang “Tari Harum Bunga”. Narasi tersebut kemudian ikut membentuk citra Gerwani sebagai organisasi perempuan yang kejam dan tidak bermoral. Sejumlah penelitian kemudian mempertanyakan kebenaran cerita tersebut dan menunjukkan bagaimana narasi itu berkembang melalui pemberitaan dan propaganda politik. Setelah 1965, Gerwani dibubarkan. Banyak anggotanya ditangkap dan menjadi tahanan politik. Label “Gerwani” dan “PKI” juga kemudian melekat pada keluarga mereka. Jadi, bagaimana sebenarnya kita harus melihat Gerwani? Gerwani bukan sekadar cerita tentang Lubang Buaya.Mereka punya sejarah perjuangan perempuan yang panjang. Tetapi mereka juga memang semakin terlibat dalam politik dan memiliki hubungan yang semakin dekat dengan PKI. Sumber: Hikmah Diniah, Gerwani Bukan PKI (2007) Tirto – Fitnah dalam Sejarah Tari Harum Bunga #NgulikSejarah #Gerwani #PKI #SejarahIndonesia #g30spki
Kalau mendengar nama Gerwani, banyak orang mungkin langsung teringat pada cerita tentang perempuan yang menari, menyiksa para jenderal, dan melakukan tindakan keji di Lubang Buaya. Gambaran itu memang sangat kuat dalam ingatan masyarakat Indonesia. Salah satunya dibentuk lewat pemberitaan setelah peristiwa 1965 dan kemudian diperkuat melalui berbagai narasi pada masa Orde Baru, termasuk film Pengkhianatan G30S/PKI. Tapi kalau kita mundur beberapa tahun, sejarah Gerwani ternyata jauh lebih panjang. Sebelum bernama Gerwani, organisasi ini adalah Gerwis (Gerakan Wanita Sedar) yang berdiri di Semarang pada 4 Juni 1950. Mereka bergerak dalam persoalan pendidikan, pemberantasan buta huruf, hak perempuan, perkawinan, anti-poligami, dan berbagai persoalan sosial. Dalam perkembangannya, Gerwis berubah menjadi Gerwani pada 1954. Organisasi ini kemudian berkembang menjadi gerakan perempuan dengan basis massa yang besar dan semakin aktif memasuki politik nasional. Di sinilah hubungan Gerwani dengan PKI mulai menjadi bagian penting dalam sejarahnya. Gerwani memang semakin dekat dengan PKI. Banyak agenda politik keduanya beririsan, terutama soal anti-imperialisme, reforma agraria, buruh dan tani. Namun, menyebut Gerwani sebagai organisasi PKI sejak awal juga terlalu sederhana. Menurut Saskia E. Wieringa, Gerwani mendefinisikan dirinya sebagai organisasi politik nonpartai dari 1954 hingga 1965. Baru pada Januari 1965 muncul keputusan untuk menyiapkan afiliasi dengan PKI. Keputusan tersebut masih harus disahkan melalui kongres yang direncanakan pada Desember 1965. Kongres itu tidak pernah terlaksana. Lalu datanglah Oktober 1965. Gerwani kemudian dikaitkan dengan peristiwa di Lubang Buaya. Muncul pemberitaan mengenai penyiksaan para jenderal dan cerita tentang “Tari Harum Bunga”. Narasi tersebut kemudian ikut membentuk citra Gerwani sebagai organisasi perempuan yang kejam dan tidak bermoral. Sejumlah penelitian kemudian mempertanyakan kebenaran cerita tersebut dan menunjukkan bagaimana narasi itu berkembang melalui pemberitaan dan propaganda politik. Setelah 1965, Gerwani dibubarkan. Banyak anggotanya ditangkap dan menjadi tahanan politik. Label “Gerwani” dan “PKI” juga kemudian melekat pada keluarga mereka. Jadi, bagaimana sebenarnya kita harus melihat Gerwani? Gerwani bukan sekadar cerita tentang Lubang Buaya.Mereka punya sejarah perjuangan perempuan yang panjang. Tetapi mereka juga memang semakin terlibat dalam politik dan memiliki hubungan yang semakin dekat dengan PKI. Sumber: Hikmah Diniah, Gerwani Bukan PKI (2007) Tirto – Fitnah dalam Sejarah Tari Harum Bunga #NgulikSejarah #Gerwani #PKI #SejarahIndonesia #g30spki

About