@marionapujolmerino: Llevaba mucho tiempo queriendo hacer esto 😇🦑

Mariona Pujol Merino
Mariona Pujol Merino
Open In TikTok:
Region: ES
Friday 25 June 2021 18:02:05 GMT
3391990
383774
3224
4320

Music

Download

Comments

jonetlazo
Jonet Lazo :
La medusa: no van a creer lo que me pasó hoy
2021-06-25 19:57:23
55573
danielagonzalezre
Daniela Gonzalez Restrepo :
la medusa: ta potente😳😳😂😂
2021-06-25 23:37:28
20038
djfjcosmhxisksn
. :
el: no le des más vueltas al asunto yo:
2021-06-25 19:49:47
4991
h3c7or_09
Siu :
La medusa:no creeran lo q me fume hoy
2021-06-26 19:00:24
5358
dxniel.ss
. :
La medusa:Bajenme de esta licuadoraaaaa..
2021-06-26 23:06:19
7354
andienws
Andrea :
La medusa: estoy agarrando señal carnal
2021-06-26 01:48:00
24
nonsudunk
Nonsu Dunk :
jefe: porqe llega otra vez tarde? medusa: no creera lo que me paso jefe
2021-06-26 00:36:06
611
juanfer_loaiza
Juanfer Loaiza🐺 :
La medusa :🙂🙃🙂🙃🙂🙃🙂
2021-06-26 01:30:05
6
usedg649
usedg649 :
la medusa: cual fue el mal que yo hice? 😂
2021-06-25 22:31:43
44
merlia___2
merlia perez sanchez :
la medusa: aaaaaah khesta pazandoooo ._.
2021-06-26 04:34:07
42
selenaabunny
Selena bunny :
La medusa: CENTRIFUGADOOOOOOOO
2021-06-25 22:44:48
1294
marvel_w_s
marvel_w_s :
la medusa: ATRAPADAAA AY AYUDAA😂
2021-06-26 19:04:05
2228
voguee..cayeetanoo
🤍 :
X: no le des mas vueltas al asunto Yo :
2021-07-02 10:18:21
357
soydiegoangel_
soydiegoangel_ :
La medusa: pero cual fue el mal que te hice
2021-06-26 17:08:35
44
sarayortegatorre
Sarayortegatorres :
✨Mi pánico a las medusas✨
2021-06-25 22:48:06
461
lenota
Elen :
La medusa: UOOO FIESTA DEL HELADOOO 🍦🥳🥳
2021-06-25 23:41:35
161
bribri.true
🐉 :
medusa truco 🤙
2021-06-25 22:48:08
987
justinlupercio
Justin Lupercio :
La medusa: WOOOOW! ESO SI QUE ES OTRA ONDA!!
2021-06-25 21:05:12
435
jonquil686
René? :
hermoso pero me dan miedo
2021-06-25 19:10:36
108
kattt0097
Kattt :
La medusa: JAJA NO KAPASAO? JAJA NO KAPASAO
2021-06-25 22:33:28
168
diosaathenea
Athenea :
Gracias por vengar a todos los que nos a picado alguna vez😳
2021-06-26 18:20:35
13
kats4dani
𝘏𝘪𝘬𝘢𝘳𝘶 🩷 :
La medusa: Soñé que estaba en una montaña rusa
2021-06-25 22:35:46
12
samthare
Samthare :
Por un momento pensé que se comería la medusa 😳😳
2021-06-25 23:45:10
50
borjjaaa_
borjjaa_ :
deja a los animales tranquilos
2021-06-25 19:34:48
10
simiosenconcreto
SimiosEnConcreto :
“Los delfines golpean peces por diversion” Los humanos:
2021-06-26 17:33:36
14
To see more videos from user @marionapujolmerino, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Pernah dengar istilah quiet quitting? Bukan berarti karyawan diam-diam mengundurkan diri, melainkan mereka tetap bekerja, namun hanya sebatas yang tertulis di kontrak. Tak ada lagi lembur tanpa bayaran. Tak ada ambisi mengejar promosi yang penuh tekanan. Mereka bekerja seperlunya, lalu pulang. Fokus pada hidup di luar pekerjaan, bukan sekadar jadi roda yang terus berputar dalam mesin korporasi. Fenomena ini pertama kali populer di Amerika Serikat pada 2022. Tapi kini, tren serupa mulai menyebar ke Jepang dan negara-negara lain, termasuk Indonesia. Survei Mynavi di Jepang mencatat bahwa 45% pekerja, terutama generasi muda hanya menyelesaikan pekerjaan sesuai kebutuhan minimum. Tak lagi ingin naik jabatan jika harus mengorbankan waktu pribadi. Mereka lebih memilih menikmati hobi, berkumpul dengan keluarga, atau sekadar beristirahat. Alasan utama munculnya quiet quitting adalah karena banyak pekerja merasa tak dihargai. Gaji stagnan, beban kerja berat, dan penghargaan yang minim membuat mereka lelah secara mental. Terlebih lagi, hilangnya jaminan kerja seumur hidup, pemotongan tunjangan, serta bonus yang tak lagi sebanding dengan pengorbanan membuat loyalitas terhadap pekerjaan semakin memudar. Profesor Izumi Tsuji dari Universitas Tokyo menyebutkan bahwa tren ini bukan semata bentuk kemalasan, tapi respons alami terhadap sistem kerja yang terlalu menekan. Generasi muda Jepang lebih rasional. Mereka tahu bahwa pengorbanan besar tidak selalu dibayar setimpal. Mereka yang melakukan quiet quitting tetap profesional. Mereka tidak bolos kerja, tidak menyabotase tugas, atau lalai dalam tanggung jawab. Mereka hanya memilih untuk tidak memberi energi ekstra pada pekerjaan yang tidak memberi mereka makna atau imbalan yang sepadan. Mereka menarik batas, dan itu adalah bentuk perlindungan diri. Menurut penelitian dari Gallup, hanya 15% pekerja di seluruh dunia yang benar-benar terlibat secara aktif dalam pekerjaan mereka. Sisanya berada dalam zona abu-abu, bekerja karena harus, bukan karena cinta. Dan quiet quitting muncul dari kelompok yang lelah, tapi belum benar-benar menyerah. Meski belum ada survei nasional khusus, tanda-tanda quiet quitting di Indonesia mulai terasa. Di media sosial, istilah “kerja buat hidup, bukan hidup buat kerja” semakin populer. Banyak anak muda, terutama Gen Z berani menolak lembur tanpa bayaran, menolak komunikasi pekerjaan di luar jam kantor, dan mulai mencari makna di luar pencapaian karier. Salah satu bukti tren ini adalah meningkatnya minat pada pekerjaan remote dan freelance. Berdasarkan laporan dari Jobstreet Indonesia 2024, sekitar 43% pencari kerja Gen Z menyatakan bahwa fleksibilitas dan work-life balance lebih penting daripada gaji besar. Mereka tidak malas, mereka hanya ingin hidup yang lebih utuh. Sumei Kawakami, seorang jurnalis Jepang yang juga aktif memantau tren ketenagakerjaan, menyebut bahwa quiet quitting adalah gejala dari perubahan budaya kerja.Saat ini kita hidup di era pasca-pandemi. Banyak orang menyadari bahwa waktu bersama keluarga, kesehatan mental, dan kehidupan pribadi tidak bisa ditukar dengan lembur atau target yang tak pernah ada habisnya. Hal ini sejalan dengan pendekatan psikologi kerja modern, yang lebih menekankan pada kesejahteraan dan keberlanjutan karier. Psikolog industri-organisasi dari UI, Dr. Ratna Mulyani, menegaskan bahwa jika perusahaan tak segera menyesuaikan diri, mereka bisa kehilangan talenta terbaiknya. Anak muda sekarang lebih peka terhadap nilai-nilai kehidupan. Mereka tak hanya bekerja untuk uang, tapi juga untuk tujuan dan kebebasan. Perusahaan harus beradaptasi. Tidak semua orang termotivasi oleh promosi atau bonus. Bagi Gen Z, fleksibilitas, penghargaan, dan makna jauh lebih penting. Perusahaan perlu membangun budaya kerja yang mendengarkan, bukan hanya menuntut.  Sumber: • PecahTelur (facebook) #ceritabisnis
Pernah dengar istilah quiet quitting? Bukan berarti karyawan diam-diam mengundurkan diri, melainkan mereka tetap bekerja, namun hanya sebatas yang tertulis di kontrak. Tak ada lagi lembur tanpa bayaran. Tak ada ambisi mengejar promosi yang penuh tekanan. Mereka bekerja seperlunya, lalu pulang. Fokus pada hidup di luar pekerjaan, bukan sekadar jadi roda yang terus berputar dalam mesin korporasi. Fenomena ini pertama kali populer di Amerika Serikat pada 2022. Tapi kini, tren serupa mulai menyebar ke Jepang dan negara-negara lain, termasuk Indonesia. Survei Mynavi di Jepang mencatat bahwa 45% pekerja, terutama generasi muda hanya menyelesaikan pekerjaan sesuai kebutuhan minimum. Tak lagi ingin naik jabatan jika harus mengorbankan waktu pribadi. Mereka lebih memilih menikmati hobi, berkumpul dengan keluarga, atau sekadar beristirahat. Alasan utama munculnya quiet quitting adalah karena banyak pekerja merasa tak dihargai. Gaji stagnan, beban kerja berat, dan penghargaan yang minim membuat mereka lelah secara mental. Terlebih lagi, hilangnya jaminan kerja seumur hidup, pemotongan tunjangan, serta bonus yang tak lagi sebanding dengan pengorbanan membuat loyalitas terhadap pekerjaan semakin memudar. Profesor Izumi Tsuji dari Universitas Tokyo menyebutkan bahwa tren ini bukan semata bentuk kemalasan, tapi respons alami terhadap sistem kerja yang terlalu menekan. Generasi muda Jepang lebih rasional. Mereka tahu bahwa pengorbanan besar tidak selalu dibayar setimpal. Mereka yang melakukan quiet quitting tetap profesional. Mereka tidak bolos kerja, tidak menyabotase tugas, atau lalai dalam tanggung jawab. Mereka hanya memilih untuk tidak memberi energi ekstra pada pekerjaan yang tidak memberi mereka makna atau imbalan yang sepadan. Mereka menarik batas, dan itu adalah bentuk perlindungan diri. Menurut penelitian dari Gallup, hanya 15% pekerja di seluruh dunia yang benar-benar terlibat secara aktif dalam pekerjaan mereka. Sisanya berada dalam zona abu-abu, bekerja karena harus, bukan karena cinta. Dan quiet quitting muncul dari kelompok yang lelah, tapi belum benar-benar menyerah. Meski belum ada survei nasional khusus, tanda-tanda quiet quitting di Indonesia mulai terasa. Di media sosial, istilah “kerja buat hidup, bukan hidup buat kerja” semakin populer. Banyak anak muda, terutama Gen Z berani menolak lembur tanpa bayaran, menolak komunikasi pekerjaan di luar jam kantor, dan mulai mencari makna di luar pencapaian karier. Salah satu bukti tren ini adalah meningkatnya minat pada pekerjaan remote dan freelance. Berdasarkan laporan dari Jobstreet Indonesia 2024, sekitar 43% pencari kerja Gen Z menyatakan bahwa fleksibilitas dan work-life balance lebih penting daripada gaji besar. Mereka tidak malas, mereka hanya ingin hidup yang lebih utuh. Sumei Kawakami, seorang jurnalis Jepang yang juga aktif memantau tren ketenagakerjaan, menyebut bahwa quiet quitting adalah gejala dari perubahan budaya kerja.Saat ini kita hidup di era pasca-pandemi. Banyak orang menyadari bahwa waktu bersama keluarga, kesehatan mental, dan kehidupan pribadi tidak bisa ditukar dengan lembur atau target yang tak pernah ada habisnya. Hal ini sejalan dengan pendekatan psikologi kerja modern, yang lebih menekankan pada kesejahteraan dan keberlanjutan karier. Psikolog industri-organisasi dari UI, Dr. Ratna Mulyani, menegaskan bahwa jika perusahaan tak segera menyesuaikan diri, mereka bisa kehilangan talenta terbaiknya. Anak muda sekarang lebih peka terhadap nilai-nilai kehidupan. Mereka tak hanya bekerja untuk uang, tapi juga untuk tujuan dan kebebasan. Perusahaan harus beradaptasi. Tidak semua orang termotivasi oleh promosi atau bonus. Bagi Gen Z, fleksibilitas, penghargaan, dan makna jauh lebih penting. Perusahaan perlu membangun budaya kerja yang mendengarkan, bukan hanya menuntut. Sumber: • PecahTelur (facebook) #ceritabisnis

About