@lyric.yung: He thought he could break up with me 😂#fyp

Lyr!c yung🙈
Lyr!c yung🙈
Open In TikTok:
Region: CA
Thursday 14 September 2023 01:58:19 GMT
74478
1416
8
10

Music

Download

Comments

jakeblades2
jake blades :
she's a keeper
2023-09-14 15:12:27
5
user8841477113946
user8841477113946 :
He needs to think things over!
2023-09-21 04:59:19
1
knock_n_boots
knock_n_boots :
Cute share, thanks so much
2023-09-17 12:23:10
3
siimpshadyy
SiimpShady :
😂
2023-09-14 02:39:24
2
ronheath1956
RonHeath1956 Ronnie :
😂
2023-09-21 17:12:50
1
______alexandrarebecca
Alexandra Rebecca :
😍😘😍
2023-09-14 09:19:28
3
mu796_gh
J House :
Yes Miss Lyric! Understood and I’m not breaking up with you…I was only messing 🙈😉❤️
2023-09-14 03:01:40
2
westracing71
Westracing71 :
clearly hasn't learnt what a door is yet😜
2023-10-22 08:12:12
1
To see more videos from user @lyric.yung, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Ketidakadilan tidak selalu tumbuh karena kekuatan para penindas, tetapi sering kali karena diamnya orang-orang yang mengetahui kebenaran. Banyak orang mengira bahwa dengan tidak ikut terlibat, mereka telah bersikap netral. Padahal dalam situasi ketika hak seseorang dirampas, ketika kebohongan dijadikan alat kekuasaan, atau ketika yang lemah dipaksa menanggung beban yang bukan miliknya, diam bukanlah sikap yang bebas nilai. Diam memberi ruang bagi ketidakadilan untuk terus berlangsung. Ia menjadi bentuk persetujuan yang tidak diucapkan, tetapi dampaknya nyata dirasakan oleh mereka yang menjadi korban. Sejarah menunjukkan bahwa banyak kezaliman bertahan bukan karena pelakunya terlalu kuat, melainkan karena terlalu sedikit orang yang berani bersuara. Rasa takut kehilangan kenyamanan, kedudukan, atau penerimaan sosial sering membuat manusia memilih menundukkan kepala ketika nuraninya memerintahkan untuk berdiri. Mereka tahu ada yang salah, tetapi berharap orang lain yang bertindak. Mereka menyadari ada yang perlu dibela, tetapi memilih menunggu orang lain yang memulai. Akibatnya, keburukan memperoleh kemenangan bukan karena ia benar, melainkan karena kebenaran kehilangan pembelanya. Karena itu, keberanian moral menjadi salah satu ukuran penting kemanusiaan. Membela keadilan tidak selalu berarti melakukan hal-hal besar, tetapi setidaknya tidak membiarkan hati terbiasa menerima ketidakadilan sebagai sesuatu yang wajar. Sebab ketika seseorang memilih diam demi menyelamatkan dirinya sendiri, sementara orang lain sedang dirugikan atau ditindas, sesungguhnya ia sedang membantu menjaga sistem yang menindas itu tetap hidup. Dan pada akhirnya, dunia tidak hanya rusak oleh tindakan orang-orang jahat, tetapi juga oleh diamnya mereka yang tahu mana yang benar namun memilih tidak melakukan apa-apa.
Ketidakadilan tidak selalu tumbuh karena kekuatan para penindas, tetapi sering kali karena diamnya orang-orang yang mengetahui kebenaran. Banyak orang mengira bahwa dengan tidak ikut terlibat, mereka telah bersikap netral. Padahal dalam situasi ketika hak seseorang dirampas, ketika kebohongan dijadikan alat kekuasaan, atau ketika yang lemah dipaksa menanggung beban yang bukan miliknya, diam bukanlah sikap yang bebas nilai. Diam memberi ruang bagi ketidakadilan untuk terus berlangsung. Ia menjadi bentuk persetujuan yang tidak diucapkan, tetapi dampaknya nyata dirasakan oleh mereka yang menjadi korban. Sejarah menunjukkan bahwa banyak kezaliman bertahan bukan karena pelakunya terlalu kuat, melainkan karena terlalu sedikit orang yang berani bersuara. Rasa takut kehilangan kenyamanan, kedudukan, atau penerimaan sosial sering membuat manusia memilih menundukkan kepala ketika nuraninya memerintahkan untuk berdiri. Mereka tahu ada yang salah, tetapi berharap orang lain yang bertindak. Mereka menyadari ada yang perlu dibela, tetapi memilih menunggu orang lain yang memulai. Akibatnya, keburukan memperoleh kemenangan bukan karena ia benar, melainkan karena kebenaran kehilangan pembelanya. Karena itu, keberanian moral menjadi salah satu ukuran penting kemanusiaan. Membela keadilan tidak selalu berarti melakukan hal-hal besar, tetapi setidaknya tidak membiarkan hati terbiasa menerima ketidakadilan sebagai sesuatu yang wajar. Sebab ketika seseorang memilih diam demi menyelamatkan dirinya sendiri, sementara orang lain sedang dirugikan atau ditindas, sesungguhnya ia sedang membantu menjaga sistem yang menindas itu tetap hidup. Dan pada akhirnya, dunia tidak hanya rusak oleh tindakan orang-orang jahat, tetapi juga oleh diamnya mereka yang tahu mana yang benar namun memilih tidak melakukan apa-apa.

About