@hima.do: Hihi

hima.do
hima.do
Open In TikTok:
Region: VN
Friday 23 May 2025 13:30:06 GMT
398
28
0
0

Music

Download

Comments

There are no more comments for this video.
To see more videos from user @hima.do, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Ada sesuatu tentang bulan September yang bikin banyak orang merasa lebih emosional. Buat sebagian orang, September adalah momen peralihan musim. Buat yang lain, bulan ini justru mengingatkan pada kehilangan, perpisahan, atau kenangan yang sulit dilupakan. Green Day menangkap semua itu lewat salah satu lagu paling emosional mereka: Wake Me Up When September Ends. Dirilis tahun 2004 di album American Idiot, lagu ini seakan jadi soundtrack universal untuk rasa kehilangan. Lagu ini bukan sekadar lagu tentang bulan, Wake Me Up When September Ends adalah kisah pribadi Billie Joe Armstrong, sang vokalis, tentang duka karena ditinggal ayahnya untuk selamanya. Di bait awal, Green Day menyanyikan: “Summer has come and passed, the innocent can never last…” Ada rasa kehilangan yang mendalam. Masa-masa indah (summer) sudah berlalu, dan sesuatu yang polos, tulus, atau bahkan orang yang kita cintai — tak bisa selamanya bertahan. Lirik selanjutnya: “Like my father’s come to pass, 20 years has gone so fast…” Ini pengakuan jujur dari Billie Joe tentang betapa cepat waktu berlalu sejak ayahnya meninggal. Namun luka itu tetap membekas, seakan-akan waktu tidak benar-benar menyembuhkan. Bagian chorus “Wake me up when September ends” bisa dimaknai sebagai keinginan untuk melewati rasa sakit dengan cepat, untuk bisa tidur dan bangun ketika semua sudah berlalu. Tapi kenyataannya, hidup tidak pernah sesederhana itu. Yang menarik, meskipun berangkat dari kisah pribadi Billie Joe, lagu ini justru jadi penghiburan untuk jutaan orang yang merasakan hal serupa. Banyak fans menghubungkannya dengan kehilangan orang tua, pasangan, atau bahkan tragedi besar seperti perang dan bencana. Dam setiap kali September datang, lagu ini kembali viral, diputar ulang di playlist, dibicarakan di media sosial. Bukan karena trend semata, tapi karena ada kebutuhan emosional untuk menemukan teman dalam rasa kehilangan. Lagu ini hadir sebagai pelukan musik,sederhana tapi begitu tulus. Gimana menurut kalian? #musiknisme #greenday #wakemeupwhenseptemberends
Ada sesuatu tentang bulan September yang bikin banyak orang merasa lebih emosional. Buat sebagian orang, September adalah momen peralihan musim. Buat yang lain, bulan ini justru mengingatkan pada kehilangan, perpisahan, atau kenangan yang sulit dilupakan. Green Day menangkap semua itu lewat salah satu lagu paling emosional mereka: Wake Me Up When September Ends. Dirilis tahun 2004 di album American Idiot, lagu ini seakan jadi soundtrack universal untuk rasa kehilangan. Lagu ini bukan sekadar lagu tentang bulan, Wake Me Up When September Ends adalah kisah pribadi Billie Joe Armstrong, sang vokalis, tentang duka karena ditinggal ayahnya untuk selamanya. Di bait awal, Green Day menyanyikan: “Summer has come and passed, the innocent can never last…” Ada rasa kehilangan yang mendalam. Masa-masa indah (summer) sudah berlalu, dan sesuatu yang polos, tulus, atau bahkan orang yang kita cintai — tak bisa selamanya bertahan. Lirik selanjutnya: “Like my father’s come to pass, 20 years has gone so fast…” Ini pengakuan jujur dari Billie Joe tentang betapa cepat waktu berlalu sejak ayahnya meninggal. Namun luka itu tetap membekas, seakan-akan waktu tidak benar-benar menyembuhkan. Bagian chorus “Wake me up when September ends” bisa dimaknai sebagai keinginan untuk melewati rasa sakit dengan cepat, untuk bisa tidur dan bangun ketika semua sudah berlalu. Tapi kenyataannya, hidup tidak pernah sesederhana itu. Yang menarik, meskipun berangkat dari kisah pribadi Billie Joe, lagu ini justru jadi penghiburan untuk jutaan orang yang merasakan hal serupa. Banyak fans menghubungkannya dengan kehilangan orang tua, pasangan, atau bahkan tragedi besar seperti perang dan bencana. Dam setiap kali September datang, lagu ini kembali viral, diputar ulang di playlist, dibicarakan di media sosial. Bukan karena trend semata, tapi karena ada kebutuhan emosional untuk menemukan teman dalam rasa kehilangan. Lagu ini hadir sebagai pelukan musik,sederhana tapi begitu tulus. Gimana menurut kalian? #musiknisme #greenday #wakemeupwhenseptemberends

About