@futboollkolik: Acun Ilıcalı Dünya Kupası Finali’nde! 1998 Dünya Kupası için Fransa’da olan Acun Ilıcalı, Fransa-Brezilya maçı öncesi ve sonrasında Paris’ten görüntüleri paylaşıyor. #acunılıcalı #acunilicali #worldcup #futbolkolik #tb

Futbolkolik
Futbolkolik
Open In TikTok:
Region: TR
Friday 14 November 2025 13:49:07 GMT
129697
895
7
38

Music

Download

Comments

280.m4
280 :
o adamların altındaki arabalar hepsi Türkiye de şuan
2025-11-14 17:48:12
68
vusal5037
Vusal :
acunun əsgi qoyan vaxtlari
2025-11-15 10:58:10
5
01cudi73
memet sezek :
ozaman Paris Adana gibidi
2025-11-16 09:07:22
12
romikoo90
Romikoo :
acunun otobusle gittiyi zamnlar
2025-11-17 00:49:56
2
aslan.beyy.adanal
ASLAN BEYY🦁38/01⚡⚡⚡ :
Acun'un sefil yılları 😂
2025-12-01 01:14:37
1
To see more videos from user @futboollkolik, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

POV: Hubunganmu dengan Jay kini kedapatan khalayak. Bila dulu status pasutri disembunyikan demi profesionalitas, sekarang tidak ada lagi upaya menutupinya. Kondisi fisikmu yang tengah memangku benih kehidupan mengubah tempat kamu mengemban pendidikan sebelumnya menjadi ajek pemeriksaan antenatal. Fase kehamilan menginjak trimester kedua kala masa residen tuntas. Seluruh tenaga medis yang mengenalmu berburu mengucapkan selamat sekaligus keterkejutan lantaran kamu istri seorang kepala bedah paling terpandang. Beberapa dokter muda dan residen awal turut menyelamati dengan malu-malu. “Sudah ketahuan jenis kelaminnya, Dokter?”  Kamu menolehkan kepala ketika satu perawat yang kamu kenal membuka topik pembicaraan. Beberapa menit lalu kamu baru menyelesaikan kontrol rutin. Mengingat Jay akan pulang sore ini, sekalian saja kamu menunggunya di area gedung bedah sentral. “Harusnya sudah. Cuma tadi aku sengaja nggak minta dilihatin. Nanti aja kalau sama Dokter Jay,” jawabmu yang mengundang seruan gemas. Terkaan seorang putri ataupun putra sontak memicu kubu mendadak. Orang-orang di sekeliling mulai bertaruh dengan dugaannya. “Ada apa ini? Kenapa semua kumpul di sini?” Atensi tenaga medis dan tenaga kesehatan yang mengerumunimu beralih seketika pada sumber suara. Jay tampak berjalan tegap mengenakan snelli-nya. Aroma tubuhnya menguar wangi. Kamu yakin suamimu baru membersihkan diri dari peluh tindakan di ruangan operasi.  “Selamat sore, Dokter Jay,” sapamu tersenyum kecil. Mata Jay sontak membulat mendapati istrinya tiba-tiba di tempat kerja. “Lho, Sayang? Kenapa saya nggak tahu kalau kamu di sini,” balas Jay mendekatimu. Ia merengkuh pinggangmu dan mengecup dahi pelan, membuat atmosfer mesra menjadi keirian.  Perlahan-lahan, kerumunan mulai mundur guna memberi ruang bagi kalian berdua. Kamu menatap Jay dengan binar bahagia. Wajahmu tergerak maju mendongak mencium pipinya.  “Habis dari obgyn, Om. Hari ini jadwal kontrol rutin,” ujarmu yang membuat Jay kembali membulatkan mata. Ia lupa. “Astaga, (Y/N). Maafkan saya. Kenapa kemarin nggak kasih tahu?” tanya Jay dengan intonasi sesal. Ia bersalah tidak menemanimu. Kamu menggelengkan kepala cepat, tetap tersenyum padanya. “Om kan ada jadwal operasi banyak. Aku nggak mau bikin susah. Lagian kaki aku masih kuat buat jalan sendirian,” jawabmu yang membuat hati Jay berdesir hangat. Terhitung dua kali ia lengah tidak memperhatikan jadwal pemeriksaanmu. Kamu tahu betul betapa padat jam kerjanya apalagi posisi yang Jay emban dibutuhkan banyak orang. Dalam hubungan ini, tidak boleh ada ego yang harus dimenangkan. Jay tersenyum lembut mengusap pipimu. Ia mengecup singkat sebelum mengajakmu pulang bersama. Jiwanya kerap tidak nyaman mengumbar kemesraan di publik bila terlalu lama. Terlebih citra yang ia bentuk adalah dokter tegas nan kejam, kecuali padamu tentunya. “Oh, iya, Om. Hari ini jenis kelamin adek udah bisa dilihat,” katamu ketika berjalan bersama Jay di lorong rumah sakit.  “Dokter bilang apa? Laki-laki atau perempuan, Sayang?” Kamu menyipitkan mata menggoda. “Umm… rahasia?” Jay sontak mencubit ujung hidungmu gemas. “Usil sekali. Pasti kamu belum tahu,” todong Jay tepat sasaran.  “Kok Om tahu kalau aku belum tahu?” tanyamu balik yang disuguhi senyum manis Jay. Tentu saja pria itu hafal betul kebiasaanmu yang selalu melibatkannya di setiap aktivitas. “Karena saya tahu bagaimana sifat istri saya ini,” jawab Jay menggamit dagumu jahil.  “Emangnya apa?” tanyamu penasaran, tetapi Jay mendadak mencium cepat bibirmu lantaran gemas yang meratap. Entah mengapa setiap kamu mengajukan pertanyaan padanya, parasmu kian memesona. Mungkin aura ibu hamil yang membuat beda. “Rahasia,” balas Jay menirukan lagakmu sebelumnya. Kamu langsung memukul lengannya. “Om, ngeselin!” gerutumu bersedekap. Namun Jay yang tidak betah melihatmu marah padanya mulai membujuk. Lisannya mengeluarkan banyak kalimat puji yang membuatmu salah tingkah. Pipimu merona merah. “Cantik seperti ini sayang kalau nggak saya cium berkali-kali.” (+(1-3)) #jay #enhypen
POV: Hubunganmu dengan Jay kini kedapatan khalayak. Bila dulu status pasutri disembunyikan demi profesionalitas, sekarang tidak ada lagi upaya menutupinya. Kondisi fisikmu yang tengah memangku benih kehidupan mengubah tempat kamu mengemban pendidikan sebelumnya menjadi ajek pemeriksaan antenatal. Fase kehamilan menginjak trimester kedua kala masa residen tuntas. Seluruh tenaga medis yang mengenalmu berburu mengucapkan selamat sekaligus keterkejutan lantaran kamu istri seorang kepala bedah paling terpandang. Beberapa dokter muda dan residen awal turut menyelamati dengan malu-malu. “Sudah ketahuan jenis kelaminnya, Dokter?” Kamu menolehkan kepala ketika satu perawat yang kamu kenal membuka topik pembicaraan. Beberapa menit lalu kamu baru menyelesaikan kontrol rutin. Mengingat Jay akan pulang sore ini, sekalian saja kamu menunggunya di area gedung bedah sentral. “Harusnya sudah. Cuma tadi aku sengaja nggak minta dilihatin. Nanti aja kalau sama Dokter Jay,” jawabmu yang mengundang seruan gemas. Terkaan seorang putri ataupun putra sontak memicu kubu mendadak. Orang-orang di sekeliling mulai bertaruh dengan dugaannya. “Ada apa ini? Kenapa semua kumpul di sini?” Atensi tenaga medis dan tenaga kesehatan yang mengerumunimu beralih seketika pada sumber suara. Jay tampak berjalan tegap mengenakan snelli-nya. Aroma tubuhnya menguar wangi. Kamu yakin suamimu baru membersihkan diri dari peluh tindakan di ruangan operasi. “Selamat sore, Dokter Jay,” sapamu tersenyum kecil. Mata Jay sontak membulat mendapati istrinya tiba-tiba di tempat kerja. “Lho, Sayang? Kenapa saya nggak tahu kalau kamu di sini,” balas Jay mendekatimu. Ia merengkuh pinggangmu dan mengecup dahi pelan, membuat atmosfer mesra menjadi keirian. Perlahan-lahan, kerumunan mulai mundur guna memberi ruang bagi kalian berdua. Kamu menatap Jay dengan binar bahagia. Wajahmu tergerak maju mendongak mencium pipinya. “Habis dari obgyn, Om. Hari ini jadwal kontrol rutin,” ujarmu yang membuat Jay kembali membulatkan mata. Ia lupa. “Astaga, (Y/N). Maafkan saya. Kenapa kemarin nggak kasih tahu?” tanya Jay dengan intonasi sesal. Ia bersalah tidak menemanimu. Kamu menggelengkan kepala cepat, tetap tersenyum padanya. “Om kan ada jadwal operasi banyak. Aku nggak mau bikin susah. Lagian kaki aku masih kuat buat jalan sendirian,” jawabmu yang membuat hati Jay berdesir hangat. Terhitung dua kali ia lengah tidak memperhatikan jadwal pemeriksaanmu. Kamu tahu betul betapa padat jam kerjanya apalagi posisi yang Jay emban dibutuhkan banyak orang. Dalam hubungan ini, tidak boleh ada ego yang harus dimenangkan. Jay tersenyum lembut mengusap pipimu. Ia mengecup singkat sebelum mengajakmu pulang bersama. Jiwanya kerap tidak nyaman mengumbar kemesraan di publik bila terlalu lama. Terlebih citra yang ia bentuk adalah dokter tegas nan kejam, kecuali padamu tentunya. “Oh, iya, Om. Hari ini jenis kelamin adek udah bisa dilihat,” katamu ketika berjalan bersama Jay di lorong rumah sakit. “Dokter bilang apa? Laki-laki atau perempuan, Sayang?” Kamu menyipitkan mata menggoda. “Umm… rahasia?” Jay sontak mencubit ujung hidungmu gemas. “Usil sekali. Pasti kamu belum tahu,” todong Jay tepat sasaran. “Kok Om tahu kalau aku belum tahu?” tanyamu balik yang disuguhi senyum manis Jay. Tentu saja pria itu hafal betul kebiasaanmu yang selalu melibatkannya di setiap aktivitas. “Karena saya tahu bagaimana sifat istri saya ini,” jawab Jay menggamit dagumu jahil. “Emangnya apa?” tanyamu penasaran, tetapi Jay mendadak mencium cepat bibirmu lantaran gemas yang meratap. Entah mengapa setiap kamu mengajukan pertanyaan padanya, parasmu kian memesona. Mungkin aura ibu hamil yang membuat beda. “Rahasia,” balas Jay menirukan lagakmu sebelumnya. Kamu langsung memukul lengannya. “Om, ngeselin!” gerutumu bersedekap. Namun Jay yang tidak betah melihatmu marah padanya mulai membujuk. Lisannya mengeluarkan banyak kalimat puji yang membuatmu salah tingkah. Pipimu merona merah. “Cantik seperti ini sayang kalau nggak saya cium berkali-kali.” (+(1-3)) #jay #enhypen

About