@itsm3ariana:

ARIANA💕
ARIANA💕
Open In TikTok:
Region: GB
Friday 27 February 2026 04:14:14 GMT
20672
2025
29
41

Music

Download

Comments

sednaw
sedna :
زندگی منه ها
2026-02-27 12:51:41
6
awmir.sam23
Awmir.am :
چقدر خشگلهههه😭
2026-02-27 13:46:08
2
sajad0291
Sajad :
2026-02-27 09:16:51
2
amir2pak
AmirFun :
2026-04-21 11:55:48
1
arghavan.10
🎀🧸 :
قشنگگ
2026-02-27 05:08:22
1
sharmii_1387
Sharmiii :
خوشگله 🤍🫶🏻
2026-02-27 21:24:06
1
sarvi_89
Sarvenaz :
وای مردم
2026-02-27 09:09:57
1
neusha00
NAUSEA 🎀 :
زندگیممم
2026-02-27 06:28:22
2
neusha00
NAUSEA 🎀 :
نفسممم
2026-02-27 06:28:16
2
kasra9203
Kasra :
عشقم موشعلی😂💀
2026-03-20 22:45:42
1
asxxali
ASAL :
اندامو🔥🔥
2026-02-27 10:37:05
1
neusha00
NAUSEA 🎀 :
ای من فدای توو بشممم
2026-02-27 06:28:06
2
ghazal13998
𝐆𝐇𝐀𝐙𝐀𝐋💕 :
تتو میبینمممم👀
2026-02-27 08:31:57
1
nilxlixn
Nil :
2026-05-20 12:46:38
0
niyayeshafshar
niya :
💚🤍❤️🦁
2026-02-27 08:30:57
2
rh.parnian
parnian :
🔥🔥🔥
2026-02-27 12:15:03
2
neusha00
NAUSEA 🎀 :
💗💗
2026-02-27 06:28:24
1
melimoon42
Melika :
😍❤️
2026-02-27 06:36:06
1
payamdm85
𝐏𝐚𝐲𝐚𝐦 :
❤️
2026-02-27 05:11:43
1
To see more videos from user @itsm3ariana, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Langit sore memantulkan warna keemasan di atas desa kecil yang dipeluk perbukitan.  Udara dipenuhi aroma tanah basah, bunga kamboja, dan masakan dari rumah-rumah penduduk.  Di desa itu, suara azan dan denting lonceng kuil bukanlah sesuatu yang diperdebatkan.  Keduanya tumbuh berdampingan selama puluhan tahun. Anak-anak bermain tanpa peduli siapa yang pergi ke masjid dan siapa yang menuju kuil.  Di seberang rumah tua milik nenek Haechan berdiri sebuah kuil kecil yang rindang.  Mobil berhenti tepat di depan pagar kayu. Haechan menghela napas panjang.
Langit sore memantulkan warna keemasan di atas desa kecil yang dipeluk perbukitan. Udara dipenuhi aroma tanah basah, bunga kamboja, dan masakan dari rumah-rumah penduduk. Di desa itu, suara azan dan denting lonceng kuil bukanlah sesuatu yang diperdebatkan. Keduanya tumbuh berdampingan selama puluhan tahun. Anak-anak bermain tanpa peduli siapa yang pergi ke masjid dan siapa yang menuju kuil. Di seberang rumah tua milik nenek Haechan berdiri sebuah kuil kecil yang rindang. Mobil berhenti tepat di depan pagar kayu. Haechan menghela napas panjang. "Rumah Nenek..." Sudah hampir delapan tahun ia tidak pulang. Sejak kuliah, bekerja, hingga menetap di kota, waktu seolah berlalu begitu saja. Belum sempat ia mengetuk pagar, matanya menangkap sesuatu. Di halaman kuil... Seorang gadis sedang menari. Gerakannya begitu lembut. Setiap langkah kakinya ringan, setiap putaran tubuhnya seperti mengikuti irama angin. Selendang berwarna krem berayun perlahan mengikuti putaran tubuhnya. Rok panjangnya ikut bergoyang, sementara rambut hitam panjang yang dikepang dihiasi bunga-bunga melati kecil. Ia tersenyum. Bukan senyum lebar. Melainkan senyum kecil yang begitu damai. Tatapan Haechan membeku. "..." Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia lupa berkedip. Bukan hanya karena wajah gadis itu cantik. Melainkan... Ia terlihat seperti seseorang yang benar-benar menikmati apa yang sedang dilakukannya. Angin meniup beberapa helai rambutnya. Tangannya bergerak anggun. Jari-jarinya lentik. Seolah sedang menceritakan sebuah kisah tanpa satu kata pun. "Haechan?" Suara lembut membuyarkan lamunannya. "Nenek." Seorang wanita berhijab dengan senyum hangat berdiri di ambang pintu. Meski rambutnya mulai memutih, wajahnya masih begitu teduh. Namun yang membuat Haechan malu... Nenek sedang tersenyum jahil. "Dari tadi lihat siapa?" Haechan langsung salah tingkah. "Nggak... cuma lihat-lihat." "Oh ya?" Nenek terkekeh. "Kalau cuma lihat-lihat, kenapa sampai koper masih di jalan?" Haechan baru sadar kopernya benar-benar masih di tengah halaman. "..." Ia batuk kecil. Nenek mengikuti arah pandang cucunya. "Oh... itu Kaleela." "Kaleela?" "Iya." "Dia hampir setiap sore latihan menari di kuil." "Dia memang suka menari sejak kecil." "Nenek belum pernah lihat ada yang menari seindah dia." Haechan masih menatap gadis itu. "Nek..." "Iya?" "Dia..." "Cantik?" Nenek tertawa pelan. "Iya." Haechan tidak menyangkal. "Sangat." Sayangnya... Saat Haechan kembali menoleh... Halaman kuil sudah kosong. "Kok hilang..." "Nanti juga datang lagi." - Keesokan sorenya... Bukannya membantu nenek menyiram tanaman... Haechan malah duduk di bangku depan kuil. Lima menit. Sepuluh menit. Tiga puluh menit. "Belum datang..." Tiba-tiba... Langkah pelan terdengar. Haechan menoleh. Dan... Jantungnya kembali dibuat tidak tenang. Kaleela. Hari ini ia memakai rok putih panjang dengan selendang biru muda. Bunga melati masih terselip di kepangnya. Saat melihat Haechan, gadis itu sedikit terkejut. Lalu... Ia tersenyum kecil. Haechan memberanikan diri berdiri. "Hai." Kaleela mengangguk ramah. "Aku Haechan." "Baru datang dari kota." "Boleh kenalan?" Kaleela menatapnya beberapa detik. Lalu mengangkat kedua tangannya. Tangannya mulai bergerak. Cepat. Lembut. Indah. Namun... Haechan hanya berkedip bingung. "..." "..." "Eh..." "Aku..." "Gak ngerti." Kaleela berhenti. Bukannya sedih... Ia justru tertawa kecil tanpa suara. Seolah sudah sangat terbiasa dengan reaksi seperti itu. Ia membuka tas kain kecilnya. Mengambil buku mungil. Lalu mulai menulis. "Maaf." "Aku tidak bisa berbicara." Haechan membaca perlahan. Matanya membulat. Kaleela kembali menulis. "Aku masih bisa mendengar." "Dulu waktu kecil mengalami kecelakaan." "Sejak itu aku kehilangan suara." "Jadi aku biasanya memakai bahasa isyarat atau menulis." --- lanjut dikomen... #haechan #nct #pov #povstories #fyp

About