@gods.orphanage1: Love is a therapy for all🫂🙏💞

Omah Lay💚
Omah Lay💚
Open In TikTok:
Region: UG
Wednesday 25 March 2026 19:58:03 GMT
2235
102
2
5

Music

Download

Comments

stopped8951
@stopped :
❤️❤️❤️
2026-03-25 23:13:44
1
estefania4910
Estefania 😘 :
🙌🏼🥰🥰
2026-03-26 00:11:27
1
To see more videos from user @gods.orphanage1, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Abah menyudahi ketegangan malam itu demi kebaikan bersama. Beliau meminta pertemuan diakhiri untuk sementara waktu, dan dilanjutkan kembali setelah shalat subuh nanti agar pikiran semua orang jernih setelah istirahat. Malam ini, aku bersama Ayah dan Bunda menginap di rumah tamu belakang ndalem. Dan di ruang tamu itu, aku dan Ayah masih tetap melanjutkan perde batan kami yang belum usai.
Abah menyudahi ketegangan malam itu demi kebaikan bersama. Beliau meminta pertemuan diakhiri untuk sementara waktu, dan dilanjutkan kembali setelah shalat subuh nanti agar pikiran semua orang jernih setelah istirahat. Malam ini, aku bersama Ayah dan Bunda menginap di rumah tamu belakang ndalem. Dan di ruang tamu itu, aku dan Ayah masih tetap melanjutkan perde batan kami yang belum usai. "Duduk dengan tenang, Kara. Kita perlu bicara serius," perintah Ayah saat aku baru selesai membersihkan diri. Aku melirik Bunda yang duduk di sofa panjang. Bunda kelihatan sangat lelah. "Aku capek, Ayah," keluhku. "Kamu pikir Ayah tidak capek, Kara? Ayah langsung membatalkan semua jadwal di Jakarta begitu mendengar anak perempuan Ayah tertimpa masalah," sahut Ayah cepat. Bunda menghela napas panjang. "Sudah, jangan berteng- kar lagi di rumah orang lain. Bunda pusing." "Aku tetap akan cari batu itu di sini, Ayah. Proyek dari Pangeran Timur Tengah ini nggak mungkin aku lepas. Tapi, aku juga nggak mau menikah sama Gus Awwal!" ujarku. Ayah menyilangkan kedua tangan. "Dan Ayah juga tetap kekeh pada keputusan Ayah. Kamu wajib ikut pulang ke Jakarta bersama Ayah dan Bunda besok pagi jika kamu tidak mau menerima saran pernikahan dari Abah. Tidak ada opsi kelonggaran, Kara." "Ayah kok e gois banget sih?!" "Ayah tidak e gois! Ayah hanya mengkhawatirkan kondisi kesehatanmu!" ben tak Ayah dengan emosi yang sama-sama tersulut. Bunda langsung memegang lengan Ayah dengan erat, mencoba meredam kemarahan suaminya. "Sabar, Yah, kasihan Ara lagi nggak fit." Aku bersandar, mengurut pelipis yang mendadak berdenyut. Rasanya sungguh lucu tapi sa kit. Di satu sisi aku merasa sangat dicintai oleh perlindungan dari Ayah dan kekhawatiran tulus Bunda, namun di sisi lain aku merasa mimpiku juga teran- cam. Tengah malam, saat suasana sudah sunyi senyap, ketenangan kami kembali terganggu. BRAK! BRAK! BRAK! Pintu depan rumah tamu dige dor dengan ka- sar. Bunyi itu begitu nyaring hingga membuatku langsung melonjak kaget dari posisi rebahan di sofa. "Ayah, siapa malam-malam begini?" bisikku dengan panik. Aku panik karena suara itu seperti orang yang hendak mela- brak, bukan bertamu dengan sopan. Bunda yang baru saja memejamkan mata langsung terbangun dengan wajah seputih kertas. "Ya Allah, Gusti... ada apa lagi ini? Tolong lindungi kami," doa langsung keluar dari mulut Bunda yang gemetar. Ayah memberikan isyarat dengan tangan agar aku dan Bunda tetap diam. Dengan langkah tegap tanpa rasa takut, Ayah berjalan menuju koridor depan dan langsung membuka pintu kayu tersebut dengan sekali sentakan kuat. Kosong. Angin malam yang dingin berembus masuk, namun tidak ada siapapun di halaman luar. Ayah melongokkan kepala ke arah semak-semak gelap, namun nihil. Pandangan Ayah kemudian turun ke lantai teras, ada sepucuk surat dengan amplop putih. Ayah mengambil surat itu, membukanya, lalu membacanya. "Apa isinya, Ayah?" tanyaku seraya mendekat, disusul oleh Bunda yang berjalan di sampingku. Ayah terdiam, lalu menyerahkan kertas putih itu kepadaku. Di atasnya tertulis sebaris kalimat pendek bernada anca- man nyata. 'Segera bawa anak dan istrimu pulang ke Jakarta kalau kalian masih mau selamat.' Bersambung... Baca lanjutannya di K B M yaaa 🙏 Judul: Dear Gus Awwal Penulis: AlfathAbhim #fyp #deargusawwal

About