@myhealthydish: Save and Share how to make Sago in Mango Sago. It’s actually called tapioca pearls and the process in cooking them has a few steps. First you simmer on low heat for ten minutes and occasionally stir to avoid clumping. Next turn off the heat and cover with a lid for 15 minutes to finish cooking. Lastly rinse and strain to remove excess gel. To make the Mango Sago you need champagne mangoes, coconut jelly, sago, evaporated milk, coconut milk and condensed milk. Mix it all together and refrigerate for at 3-4 hours, but over night is best. #mangosago #sago

My Nguyen
My Nguyen
Open In TikTok:
Region: US
Monday 13 April 2026 00:11:53 GMT
1830922
135729
495
16999

Music

Download

Comments

gabrielamarcano82
Gabriela 🌷 :
But your sago is still undercooked! 👀 shouldn't it be clear all the way?
2026-04-13 20:49:21
5278
wiromarion
Soemarjon :
the white dots means is not cook well enough🙃
2026-04-13 19:53:05
3349
meaumeaumeaumeau
༺ meaurry ༻ :
Suddenly everyone in the comments are sago experts lmaooo
2026-04-17 12:29:46
1134
mamakekaida
keilah☀️💛 :
The tapioca pearls are supposed to be fully transparent, they weren’t cooked enough lmao
2026-04-13 19:48:42
1147
cookiecatsss8
cookiecatsss8 :
It’s undercooked, look at the white dot that’s still in the middle
2026-04-13 19:40:34
404
aar.dolly
DoLLy⭐AAR :
we pronounce it differently in the Caribbean/WestIndies. (Say Go)
2026-04-13 15:46:36
335
jaycexy
JayceXY :
It’s 3am and I’m dehydrated..
2026-04-13 13:24:28
93
aimnicole19
Aimée :
Saaa - go?? 🤨
2026-04-13 19:34:55
204
solacewhitaker
Solace :
it's pronounced sa-gó, not suh-gow
2026-04-23 15:22:08
47
vivacxqodwo
Victoria :
I blend chopped mango with the coconut milk and sweetened condensed milk and vanilla bean paste. I don’t use the evaporated milk. Then I mix in the tapioca and coconut jelly. I top each serving with fresh cut mango.
2026-04-28 05:09:23
7
thaaprettiest_.dee
Destinyyy._🧸🍯. :
Why do yall think when yall open the comments and CLEARLY see someone already said it’s not done that yall need to say the same shi over and over again
2026-04-20 16:46:26
102
t.t.t18
T.T :
What does the jelly taste like ? And consistency what’s it like?
2026-07-30 20:17:33
0
therachco
The Rach Co :
LOOKS SO GOOD, OMGG
2026-04-13 00:36:26
87
user295271728
passion.devotion.art :
im not vietnamese but arnt the tapioca perls a little raw still, which would make their center hard to bite into?
2026-04-18 18:46:38
5
johnbacolod48
Joemar :
Peeling ripe yellow mango with a peeler!!!! 🫣🫣🫣🫣
2026-04-15 03:27:27
7
anniecanihearyou_
Annie :
"Say - go" and can this be made with real sago from the sago palm, tapioca is not sago
2026-04-16 05:09:13
23
bluizbby
bluizbby :
Tapioca is undercooked
2026-04-17 04:58:51
15
eisssaaa._
˚✧⁎depakote,depakene⁺˳✧༚ :
Sa-goh not sa-gow 😃
2026-04-13 09:20:25
13
chelseagramberg
chelsea🦋gibson :
Oh my, this looks incredible
2026-04-18 15:23:09
6
rosemaridnb
Antonia DND :
This looks so good
2026-04-19 04:11:34
6
cielcina26
Sadey :
boil the water first before putting the SUH-GO not saa-gow then let it simmer until the water becomes slimey, remove from fire, cover and let it cool. This will remove the white spots.
2026-04-14 02:40:57
45
scarlettmonroe__
scar :
omg i would be in texture HEAVEN
2026-04-17 05:08:55
6
nicole_elizabeth_95
nicole_elizabeth_95 :
Why does all the good looking stuff have coconut in it? 🥺 -from someone allergic to coconut.
2026-04-26 02:36:53
5
thegodmother12
Sophia :
I learned that couscous (especially Parmesan) and tapioca are VERY different the first time I made this
2026-05-01 17:13:00
8
imbobbymuddda
Bobbi Mahda :
I live in New Zealand, and fresh mangos are around $7 ($4 usd) per mango. I’m trying to work out if it’s worth it 😂
2026-04-13 00:24:22
18
To see more videos from user @myhealthydish, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Ia tidak pernah lulus sekolah dasar. Puluhan tahun kemudian, dua universitas memberinya gelar doktor kehormatan. 7 Maret 1908. Wayne County, Mississippi. Tak lama kemudian, keluarganya menetap di Hattiesburg. Oseola McCarty dibesarkan oleh ibunya, neneknya, dan bibinya. Mereka mencari nafkah dengan mencuci pakaian milik keluarga lain. Di rumah sederhana itu, setiap sen punya arti. Saat anak-anak lain menghabiskan uang receh, Oseola justru menyimpannya. Uang pertamanya, sepuluh sen, ia masukkan ke dalam kereta dorong boneka yang tidak pernah berisi boneka. Itulah celengan pertamanya. Di sekolah, ia bercita-cita menjadi perawat. Namun saat masih duduk di kelas enam, bibinya jatuh sakit. Ibunya tetap harus bekerja. Neneknya tetap harus bekerja. Tidak ada yang merawat bibinya. Oseola berhenti sekolah. Setiap pagi, seragam sekolahnya masih tergantung. Tetapi ia tidak lagi berjalan ke kelas. Ia mengganti kain kompres. Menyiapkan makanan. Menemani bibinya. Ketika bibinya akhirnya pulih, Oseola tidak pernah kembali ke sekolah. Ia mengambil alih pekerjaan keluarganya. Mencuci pakaian. Air dipanaskan dalam panci besi. Pakaian digosok di atas papan cuci. Tangannya berulang kali masuk ke air panas. Lalu pakaian dijemur di bawah matahari. Hari demi hari. Tahun demi tahun. Lebih dari tujuh puluh tahun. Saat mesin cuci mulai digunakan, ia sempat membelinya. Mesin itu hanya dipakai sekali. Menurutnya, hasilnya tidak sebersih cuci tangannya. Mesin itu diberikan kepada orang lain. Ia kembali ke papan cuci. Ia tidak pernah menikah. Tidak memiliki anak. Setelah ibu, nenek, dan bibinya meninggal, Oseola tinggal sendiri di rumah kecil peninggalan keluarganya. Setiap minggu, sekitar setengah penghasilannya ditabung. Ia tidak memasang pendingin ruangan. Lebih sering berjalan kaki. Barang-barangnya dipakai hingga benar-benar tidak layak. Puluhan tahun berlalu. Tahun 1994, radang sendi membuatnya berhenti bekerja. Usianya 86 tahun. Saat petugas bank Paul Laughlin dan pengacara Jimmy Patterson membantu mengurus keuangannya, mereka menemukan sesuatu yang tidak pernah diduga. Tabungannya sekitar 280.000 dolar. Saat ditanya akan digunakan untuk apa, ia membaginya. Sebagian untuk keluarga. Sebagian untuk gereja. Sisanya, sekitar 150.000 dolar, ia sumbangkan kepada University of Southern Mississippi. Kampus itu pernah menolak mahasiswa kulit hitam. Oseola tidak menyimpan dendam. Ia hanya mengajukan satu syarat. Beasiswa itu harus diberikan kepada mahasiswa yang tidak mampu. Tidak boleh ada anak lain kehilangan kesempatan bersekolah seperti dirinya. Tahun 1995, Amerika terkejut. Donatur itu bukan pengusaha. Bukan miliarder. Melainkan seorang buruh cuci yang bahkan tidak pernah menyelesaikan sekolah dasar. Ia menerima Presidential Citizens Medal. Menjadi pembawa obor Olimpiade Atlanta. Menerima gelar doktor kehormatan dari University of Southern Mississippi dan Harvard. Ketika ditanya mengapa ia menyumbangkan hampir seluruh hartanya, ia hanya berkata,
Ia tidak pernah lulus sekolah dasar. Puluhan tahun kemudian, dua universitas memberinya gelar doktor kehormatan. 7 Maret 1908. Wayne County, Mississippi. Tak lama kemudian, keluarganya menetap di Hattiesburg. Oseola McCarty dibesarkan oleh ibunya, neneknya, dan bibinya. Mereka mencari nafkah dengan mencuci pakaian milik keluarga lain. Di rumah sederhana itu, setiap sen punya arti. Saat anak-anak lain menghabiskan uang receh, Oseola justru menyimpannya. Uang pertamanya, sepuluh sen, ia masukkan ke dalam kereta dorong boneka yang tidak pernah berisi boneka. Itulah celengan pertamanya. Di sekolah, ia bercita-cita menjadi perawat. Namun saat masih duduk di kelas enam, bibinya jatuh sakit. Ibunya tetap harus bekerja. Neneknya tetap harus bekerja. Tidak ada yang merawat bibinya. Oseola berhenti sekolah. Setiap pagi, seragam sekolahnya masih tergantung. Tetapi ia tidak lagi berjalan ke kelas. Ia mengganti kain kompres. Menyiapkan makanan. Menemani bibinya. Ketika bibinya akhirnya pulih, Oseola tidak pernah kembali ke sekolah. Ia mengambil alih pekerjaan keluarganya. Mencuci pakaian. Air dipanaskan dalam panci besi. Pakaian digosok di atas papan cuci. Tangannya berulang kali masuk ke air panas. Lalu pakaian dijemur di bawah matahari. Hari demi hari. Tahun demi tahun. Lebih dari tujuh puluh tahun. Saat mesin cuci mulai digunakan, ia sempat membelinya. Mesin itu hanya dipakai sekali. Menurutnya, hasilnya tidak sebersih cuci tangannya. Mesin itu diberikan kepada orang lain. Ia kembali ke papan cuci. Ia tidak pernah menikah. Tidak memiliki anak. Setelah ibu, nenek, dan bibinya meninggal, Oseola tinggal sendiri di rumah kecil peninggalan keluarganya. Setiap minggu, sekitar setengah penghasilannya ditabung. Ia tidak memasang pendingin ruangan. Lebih sering berjalan kaki. Barang-barangnya dipakai hingga benar-benar tidak layak. Puluhan tahun berlalu. Tahun 1994, radang sendi membuatnya berhenti bekerja. Usianya 86 tahun. Saat petugas bank Paul Laughlin dan pengacara Jimmy Patterson membantu mengurus keuangannya, mereka menemukan sesuatu yang tidak pernah diduga. Tabungannya sekitar 280.000 dolar. Saat ditanya akan digunakan untuk apa, ia membaginya. Sebagian untuk keluarga. Sebagian untuk gereja. Sisanya, sekitar 150.000 dolar, ia sumbangkan kepada University of Southern Mississippi. Kampus itu pernah menolak mahasiswa kulit hitam. Oseola tidak menyimpan dendam. Ia hanya mengajukan satu syarat. Beasiswa itu harus diberikan kepada mahasiswa yang tidak mampu. Tidak boleh ada anak lain kehilangan kesempatan bersekolah seperti dirinya. Tahun 1995, Amerika terkejut. Donatur itu bukan pengusaha. Bukan miliarder. Melainkan seorang buruh cuci yang bahkan tidak pernah menyelesaikan sekolah dasar. Ia menerima Presidential Citizens Medal. Menjadi pembawa obor Olimpiade Atlanta. Menerima gelar doktor kehormatan dari University of Southern Mississippi dan Harvard. Ketika ditanya mengapa ia menyumbangkan hampir seluruh hartanya, ia hanya berkata, "Saya hanya melakukan apa yang menurut saya benar." Oseola McCarty meninggal dunia 26 September 1999. Dana beasiswanya terus bertambah. Membantu ratusan mahasiswa. Sekolah sempat berhenti untuk dirinya. Kesempatan sekolah untuk orang lain tidak. #dosen #universitas #cerdas #sejarah

About