@ali_.baloch.007: 🙌🏻Hayeee Sainnn🫀❤️‍🩹

🔥جاگیراڻي🔥
🔥جاگیراڻي🔥
Open In TikTok:
Region: PK
Saturday 30 May 2026 19:47:26 GMT
116574
17733
1301
386

Music

Download

Comments

sagar.khan546
S🅰️G🅰️R.🗿MARI🏴‍☠️ :
عزيز تون آ ۽ يزيز مان آهيان
2026-05-31 09:40:06
12
muskanbalouch2026
|▼MUSKAN▼|👑 :
haye sain 🥺
2026-05-30 19:54:56
21
aloch195
..🫀.. :
🙌🙌یاحیسن✌️
2026-06-14 07:07:32
0
meer_amaan_baloch43
⚜️𝙱𝚊𝚕𝚘𝚌𝚑⚜️ :
𝐭𝐮𝐦 𝐥𝐚𝐫𝐤𝐞 𝐡𝐨 𝐲𝐚 𝐥𝐚𝐫𝐤𝐚 𝐩𝐥𝐳 𝐛𝐚𝐭𝐢𝐨
2026-06-09 04:46:53
0
official_s_150
ش🍷 :
HaQ 🥰
2026-05-30 20:42:46
4
sartajjunejo4
⚜️..SARTAJ..⚜️ :
Hayee 💔
2026-05-30 20:48:17
12
shameer.ali0767
Shameer Ali :
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
2026-05-30 20:49:39
3
____5t3
.👑.$ohail // 5T3.☠️. :
hayee ❤️
2026-05-31 19:05:32
1
zubair.alibaloch25
🕊️زبير.صاحب⚜️ :
such haa 😥😥😥
2026-05-31 12:37:46
1
allahali289
💀zero gaming 💀 :
2026-05-30 20:30:51
2
baghishersher
baghi sher :
Hi 🥰🥰
2026-05-30 21:36:01
2
userbilawalalijaee
Ali jee ☺️😇 :
Very nice
2026-05-30 20:19:46
2
wajjadalibh
Wajad Ali :
hayee
2026-05-30 22:18:12
1
kumail.ali52
kumail Ali :
2026-05-30 20:02:14
2
abdulrazzaqja63
𝘼𝙗𝙙𝙪𝙡 𝙍𝙖𝙯𝙖 222x 👑✈️ :
Haq 😎❤️
2026-05-31 09:27:27
1
ahmed.shaikh162
🥷SHAIKH🥷 :
hayee 🥰
2026-05-30 19:52:39
3
hassnainqazi1
HassnainQazi :
Nice 😇
2026-05-30 20:12:18
2
__s___junejo__3334
(👑) S...Junejo (👑) :
right
2026-05-30 20:42:11
1
farazalijatoi39
🥀FS❤️‍🩹JATOI😎SAHAB :
Hayeee.🥹
2026-05-30 20:38:35
1
mr.atif336
AK🔥 khan😎 :
hakikat aa bro
2026-05-30 22:25:05
1
sabir_marii110
Marii Baloch 🦅 :
Waky ❤⚡
2026-05-31 02:50:44
1
yaseenbhutto03
▄︻デY̷a̷s̷e̷e̷n̷══━一 :
1k like
2026-05-30 20:32:33
1
waris_ali_soomro1
𝘽𝙖𝙂𝙃𝙞 𝘾𝙝𝙤𝙠𝙧𝙤 ❤️ :
Hyeeeeeeeee SaiN 🥺🌺
2026-05-31 07:44:03
4
To see more videos from user @ali_.baloch.007, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

SPMB TULUNGAGUNG DAN MISTERI “JALUR KELIMA”, SAAT TITIPAN DISEBUT LEBIH SAKTI DARI SISTEM Tulungagung - Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026 di Kabupaten Tulungagung untuk jenjang SMP, SMA, dan SMK diklaim semakin ketat, digital, transparan, serta berbasis aturan. Namun di lapangan, publik justru ramai membicarakan satu hal yang dianggap tak pernah benar-benar hilang: jalur titipan. Masyarakat mulai mempertanyakan, apakah sistem benar-benar murni seleksi, atau hanya terlihat rapi di layar monitor sementara praktik intervensi tetap bermain di belakang meja. Di tingkat SMP yang menjadi kewenangan Pemkab Tulungagung, persaingan jalur domisili dan prestasi semakin brutal. Banyak orang tua mengeluh karena anak yang rumahnya dekat sekolah justru tersingkir. Ironisnya, setelah pengumuman selesai, selalu muncul cerita lama: siswa yang sebelumnya tidak lolos mendadak bisa masuk. Sementara di jenjang SMA dan SMK di bawah kewenangan Pemprov Jawa Timur, aturan SPMB tahun ini lebih keras. Jalur domisili bahkan tidak lagi sekadar mengandalkan jarak rumah, tetapi juga mempertimbangkan nilai Tes Kemampuan Akademik (TKA) saat kuota membludak. Namun pertanyaannya sederhana: seketat apa pun sistem dibuat, apakah benar mampu menutup “jalur belakang”? Publik menilai ada “jalur kelima” yang tidak pernah tertulis dalam juknis resmi. Bukan jalur domisili, afirmasi, mutasi, atau prestasi, melainkan jalur intervensi. Jalur ini diduga dimainkan lewat relasi kuasa, telepon pejabat, tekanan oknum tertentu, hingga titipan dari pihak yang merasa punya pengaruh. Mulai oknum birokrasi, organisasi, sampai pihak yang membawa nama aparat disebut-sebut masih menjadi momok bagi sekolah. Kepala sekolah pun sering berada di posisi serba salah. Mau menolak titipan, takut dianggap melawan kekuasaan. Mau menerima, melanggar rasa keadilan bagi siswa lain. Akibatnya, aturan kuota yang seharusnya menjadi pagar seleksi justru rawan jebol setelah pengumuman resmi selesai. Praktik penambahan rombongan belajar (rombel) pun kerap menjadi sorotan karena dianggap membuka ruang masuknya siswa “siluman”. Fakta ini sebenarnya bukan cerita baru. Ombudsman RI sebelumnya pernah menemukan adanya indikasi siswa titipan, manipulasi data, hingga intervensi dalam penerimaan siswa di berbagai daerah. Namun sampai hari ini, praktik tersebut dinilai belum pernah benar-benar diberantas. Yang paling dirugikan tentu masyarakat kecil. Anak-anak yang mengikuti proses secara jujur justru kalah oleh mereka yang punya akses kekuasaan. Sementara orang tua yang tidak punya “orang dalam” hanya bisa pasrah melihat sekolah negeri favorit perlahan berubah seperti arena rebutan koneksi. Ironisnya, jargon transparansi selalu dikumandangkan setiap tahun. Sistem digital dipamerkan, aplikasi diperbaiki, sosialisasi digencarkan. Tetapi jika keputusan akhir tetap bisa digeser lewat tekanan dan titipan, maka teknologi hanya menjadi kosmetik administrasi. Publik kini menunggu keberanian pemerintah daerah, cabang dinas pendidikan, hingga aparat pengawas untuk membuktikan bahwa SPMB bukan sekadar formalitas tahunan. Sebab jika praktik jalur belakang masih dipelihara, maka pendidikan bukan lagi soal kemampuan dan hak siswa, melainkan soal siapa yang paling kuat bermain pengaruh. #spmb2026 #fyp #viral #dinaspendidikan #dinasprovinsijawatimur
SPMB TULUNGAGUNG DAN MISTERI “JALUR KELIMA”, SAAT TITIPAN DISEBUT LEBIH SAKTI DARI SISTEM Tulungagung - Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026 di Kabupaten Tulungagung untuk jenjang SMP, SMA, dan SMK diklaim semakin ketat, digital, transparan, serta berbasis aturan. Namun di lapangan, publik justru ramai membicarakan satu hal yang dianggap tak pernah benar-benar hilang: jalur titipan. Masyarakat mulai mempertanyakan, apakah sistem benar-benar murni seleksi, atau hanya terlihat rapi di layar monitor sementara praktik intervensi tetap bermain di belakang meja. Di tingkat SMP yang menjadi kewenangan Pemkab Tulungagung, persaingan jalur domisili dan prestasi semakin brutal. Banyak orang tua mengeluh karena anak yang rumahnya dekat sekolah justru tersingkir. Ironisnya, setelah pengumuman selesai, selalu muncul cerita lama: siswa yang sebelumnya tidak lolos mendadak bisa masuk. Sementara di jenjang SMA dan SMK di bawah kewenangan Pemprov Jawa Timur, aturan SPMB tahun ini lebih keras. Jalur domisili bahkan tidak lagi sekadar mengandalkan jarak rumah, tetapi juga mempertimbangkan nilai Tes Kemampuan Akademik (TKA) saat kuota membludak. Namun pertanyaannya sederhana: seketat apa pun sistem dibuat, apakah benar mampu menutup “jalur belakang”? Publik menilai ada “jalur kelima” yang tidak pernah tertulis dalam juknis resmi. Bukan jalur domisili, afirmasi, mutasi, atau prestasi, melainkan jalur intervensi. Jalur ini diduga dimainkan lewat relasi kuasa, telepon pejabat, tekanan oknum tertentu, hingga titipan dari pihak yang merasa punya pengaruh. Mulai oknum birokrasi, organisasi, sampai pihak yang membawa nama aparat disebut-sebut masih menjadi momok bagi sekolah. Kepala sekolah pun sering berada di posisi serba salah. Mau menolak titipan, takut dianggap melawan kekuasaan. Mau menerima, melanggar rasa keadilan bagi siswa lain. Akibatnya, aturan kuota yang seharusnya menjadi pagar seleksi justru rawan jebol setelah pengumuman resmi selesai. Praktik penambahan rombongan belajar (rombel) pun kerap menjadi sorotan karena dianggap membuka ruang masuknya siswa “siluman”. Fakta ini sebenarnya bukan cerita baru. Ombudsman RI sebelumnya pernah menemukan adanya indikasi siswa titipan, manipulasi data, hingga intervensi dalam penerimaan siswa di berbagai daerah. Namun sampai hari ini, praktik tersebut dinilai belum pernah benar-benar diberantas. Yang paling dirugikan tentu masyarakat kecil. Anak-anak yang mengikuti proses secara jujur justru kalah oleh mereka yang punya akses kekuasaan. Sementara orang tua yang tidak punya “orang dalam” hanya bisa pasrah melihat sekolah negeri favorit perlahan berubah seperti arena rebutan koneksi. Ironisnya, jargon transparansi selalu dikumandangkan setiap tahun. Sistem digital dipamerkan, aplikasi diperbaiki, sosialisasi digencarkan. Tetapi jika keputusan akhir tetap bisa digeser lewat tekanan dan titipan, maka teknologi hanya menjadi kosmetik administrasi. Publik kini menunggu keberanian pemerintah daerah, cabang dinas pendidikan, hingga aparat pengawas untuk membuktikan bahwa SPMB bukan sekadar formalitas tahunan. Sebab jika praktik jalur belakang masih dipelihara, maka pendidikan bukan lagi soal kemampuan dan hak siswa, melainkan soal siapa yang paling kuat bermain pengaruh. #spmb2026 #fyp #viral #dinaspendidikan #dinasprovinsijawatimur

About