raflidfh :
kadang memang masalahnya ada di situ. kita suka berharap pasangan ngerti apa yg kita rasain atau kita mau tanpa perlu dijelasin. apalagi pas awal-awal hubungan. waktu dia ngelakuin sesuatu yg sesuai sama yg kita harapin, kita jadi mikir kalau dia emang ngerti kita. lama-lama itu dianggap hal yg biasa dan tanpa sadar muncul expectation kalau dia bakal selalu tahu apa yg kita butuhin.
padahal kenyataannya belum tentu begitu. bisa aja dulu dia lebih banyak memperhatiin, lebih fokus, atau lebih aware sama hal-hal kecil tentang kita. bahkan kadang karena dia lagi ada di fase yg lebih attentive terhadap hubungan itu sendiri. makanya waktu hubungan udah berjalan lebih lama, baru muncul pertanyaan, "kok sekarang ga ngerti ya?"
menurut gue, banyak orang tanpa sadar nyampurin antara understanding, empathy, dan mind reading. kalau pasangan kita memahami dan berempati sama kita, itu mungkin. tapi kalau berharap dia selalu tahu isi kepala kita tanpa pernah dikasih tahu, that's a completely different story.
akhirnya yg sering terjadi, satu pihak kecewa karena merasa pasangannya harusnya tahu, sementara pihak satunya bingung karena ngerasa ga pernah dikasih tahu. yg satu ngerasa ga dimengerti, yg satu ngerasa dituntut ngerti sesuatu yg bahkan ga pernah diomongin. akhirnya malah terjadi miscommunication dan muncul unspoken expectations yg makin lama makin numpuk.
peka itu penting. tapi being sensitive is different from mind reading. sepeka apa pun seseorang, dia tetap ga bisa tahu isi kepala kita secara utuh. kadang hal yg menurut kita udah jelas banget, ternyata buat orang lain belum tentu jelas. karena apa yg ada di kepala kita belum tentu jadi common knowledge buat orang lain.
makanya komunikasi itu penting. bukan karena hubungan kurang dekat, justru karena sedekat apa pun hubungan kita sama seseorang, they don't live inside our head. ga semua perasaan, kebutuhan, atau harapan bisa dipahami hanya dari kode-kode atau asumsi
2026-06-14 22:21:53