@nic_marg: GOKU & VEGETA Double Edit 🔥⚡ Collab edit me and @dicey ✌🏻👀 Hope you enjoy it! lemme know wdyt think in the comments #edit #dbz #vegeta #meandbro #goku

𝐍𝐈𝐂
𝐍𝐈𝐂
Open In TikTok:
Region: MA
Saturday 13 June 2026 19:30:27 GMT
369625
66744
1022
9596

Music

Download

Comments

nahiwin190
CCGoku :
The edit fused
2026-06-14 20:25:13
3009
ink.tempest
𝐓𝐞𝐦𝐩 | 𝑰𝒏𝒌 :
Make one where they turn into gogeta nvm
2026-06-14 13:01:56
302
shyam.ashok2
Shyam Ashok :
triple edit ?
2026-06-14 06:45:25
2324
babooner007
Babooner :
Insanely creative edit my days
2026-06-14 08:32:00
1039
intelllcores
Xeno Goku :
U missed ONE SINGULAR THING and u could've genuinely GONE VIRAL ONE SINGULAR THING
2026-06-15 18:11:20
11
ahmedwaleedmohamed991
Ahmed Waleed :
How is this not viral????
2026-06-14 19:04:54
71
w_antony_w1
Antonio :
"Dad who is Nic"
2026-06-14 11:32:59
131
horror_edits98
HÕRRÖR :
make on where they turn vegito
2026-06-21 11:31:44
0
mxstg_
Mxstg_ :
This edit is so gogegoaaatttttt
2026-06-15 17:59:28
5
tolno990
Obidara :
The creator
2026-06-16 13:45:35
9
darkness_and_1ight
Darkness And Light :
is that a peak transition I see?? I found that fire is hot, peak is cold, your edit shines like a diamond, but is pure as gold
2026-06-19 03:05:06
6
.ggwin3
femtanyl :
You might have just started a trend
2026-06-15 18:23:11
17
To see more videos from user @nic_marg, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Panglima Jilah mengatakan masyarakat adat memiliki mekanisme pengawasan ketika membuka lahan untuk berladang. Ia menegaskan, masyarakat tidak sembarangan membakar lahan dan melakukan pemantauan langsung di lokasi ladang. “Kita masyarakat adat itu memang selalu monitoring. Kalau kita membakar, di mana lahan ladang kita dibakar, di situlah kita yang akan monitoring,” kata Panglima Jilah. Menurut dia, tradisi berladang masyarakat Dayak telah berlangsung sejak lama, jauh sebelum perkebunan berkembang di Kalimantan. Namun, ia menyebut kebakaran besar seperti yang terjadi belakangan ini tidak identik dengan aktivitas berladang masyarakat adat. “Sebelum adanya perkebunan, di Kalimantan itu sudah ada namanya berladang, dari zaman dulu, ribuan tahun yang lalu bahkan. Dan tidak pernah kita melihat kejadian-kejadian seperti ini,” ujarnya. Panglima Jilah kembali menegaskan bahwa masyarakat Dayak tidak melakukan aktivitas berladang di lahan gambut. “Karena orang Dayak tidak berladang di lahan gambut. Gambut-gambut itu tebal soalnya, Pak,” katanya. Ia mengatakan masyarakat adat juga terus melakukan sosialisasi melalui tokoh-tokoh adat agar warga tidak melakukan pembakaran secara sembarangan. “Masyarakat adat bersosialisasi lewat tokoh-tokoh adat agar tidak sembarangan membakar hutan,” tuturnya. Menurut Panglima Jilah, menjaga lingkungan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat adat. Hubungan masyarakat adat dengan alam, kata dia, telah berlangsung secara turun-temurun. “Masyarakat adat itu identik dengan dekat dengan alam. Tentunya tidak ada alam, tidak ada masyarakat adat. Begitu, kita menjaga,” kata Panglima Jilah.
Panglima Jilah mengatakan masyarakat adat memiliki mekanisme pengawasan ketika membuka lahan untuk berladang. Ia menegaskan, masyarakat tidak sembarangan membakar lahan dan melakukan pemantauan langsung di lokasi ladang. “Kita masyarakat adat itu memang selalu monitoring. Kalau kita membakar, di mana lahan ladang kita dibakar, di situlah kita yang akan monitoring,” kata Panglima Jilah. Menurut dia, tradisi berladang masyarakat Dayak telah berlangsung sejak lama, jauh sebelum perkebunan berkembang di Kalimantan. Namun, ia menyebut kebakaran besar seperti yang terjadi belakangan ini tidak identik dengan aktivitas berladang masyarakat adat. “Sebelum adanya perkebunan, di Kalimantan itu sudah ada namanya berladang, dari zaman dulu, ribuan tahun yang lalu bahkan. Dan tidak pernah kita melihat kejadian-kejadian seperti ini,” ujarnya. Panglima Jilah kembali menegaskan bahwa masyarakat Dayak tidak melakukan aktivitas berladang di lahan gambut. “Karena orang Dayak tidak berladang di lahan gambut. Gambut-gambut itu tebal soalnya, Pak,” katanya. Ia mengatakan masyarakat adat juga terus melakukan sosialisasi melalui tokoh-tokoh adat agar warga tidak melakukan pembakaran secara sembarangan. “Masyarakat adat bersosialisasi lewat tokoh-tokoh adat agar tidak sembarangan membakar hutan,” tuturnya. Menurut Panglima Jilah, menjaga lingkungan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat adat. Hubungan masyarakat adat dengan alam, kata dia, telah berlangsung secara turun-temurun. “Masyarakat adat itu identik dengan dekat dengan alam. Tentunya tidak ada alam, tidak ada masyarakat adat. Begitu, kita menjaga,” kata Panglima Jilah.

About