Language
English
عربي
Tiếng Việt
русский
français
español
日本語
한글
Deutsch
हिन्दी
简体中文
繁體中文
API
Home
How To Use
Language
English
عربي
Tiếng Việt
русский
français
español
日本語
한글
Deutsch
हिन्दी
简体中文
繁體中文
Home
Detail
@itsmebethc: The perfect soft summer sweater #summersweater #arachandcloz #dealsforyoudays #summerwins #tiktokshopcreatorpicks
itsmebethc
Open In TikTok:
Region: US
Wednesday 17 June 2026 22:48:48 GMT
415
5
0
0
Music
Download
No Watermark .mp4 (
6.86MB
)
No Watermark(HD) .mp4 (
5.23MB
)
Watermark .mp4 (
6.06MB
)
Music .mp3
Comments
There are no more comments for this video.
To see more videos from user @itsmebethc, please go to the Tikwm homepage.
Other Videos
Đầu tiên trong lịch sử Anime isekai Light novel đạt điểm số tuyệt đối 10/10 trên IMDb chính là Re:Zero − Starting Life in Another World (Bắt đầu lại ở thế giới khác). Thành tích vô tiền khoáng hậu này được thiết lập bởi Tập 11 thuộc Mùa 4 ( phát sóng vào ngày 17/6/2026). Re:ZERO Mùa 4 Tập 11 đã có một màn ra mắt không thể tin được, đạt được điểm đánh giá 10/10 hoàn hảo trên IMDb từ hơn 18.000 phiếu bầu. Với thành tích này, tập phim đã trở thành: * Tập phim truyền hình được đánh giá cao nhất trên IMDb. * Isekai đầu tiên và chuyển thể light novel-to-anime để đạt được xếp hạng 10/10 hoàn hảo. * Tập TV đầu tiên trong 9 năm đạt điểm 10/10 trên IMDb. Một cột mốc lịch sử cho những người hâm mộ hoạt hình và nhượng quyền Re:ZERO và trong nghành Anime isekai trên toàn thế giới. #rezero#anime#subaru#emilia#fyp
POV : Kewajibanmu sebagai dokter adalah segalanya sekarang—atau setidaknya, itulah satu-satunya peran yang diizinkan Papamu untuk kamu jalani. Beberapa hari setelah resmi bekerja di rumah sakit pusat kota, jadwalmu terasa padat dan mencekik. Kamu baru saja menyelesaikan makan siang singkat yang hambar saat seorang suster menghampirimu di koridor. "Dokter, pasien untuk jadwal jam satu sudah menunggu di dalam," ucap suster itu sambil memberikan map rekam medis. Kamu mengangguk singkat, merapikan jas putihmu yang kaku, lalu bergegas memasuki ruangan. Namun, begitu pintu terbuka, udara di dalam sana seolah mendadak hilang. Di sana, di kursi pasien, duduk Juhoon. Di sampingnya berdiri James, yang tampak sedang memberikan wejangan dengan nada protektif. "Pokoknya kalau ada masalah yang nyulitin lo akhir-akhir ini, atau kalau dada lo sesak lagi, bilang aja semuanya ke dokternya. Jangan dipendem sendiri," ucap James, tanpa menyadari siapa yang baru saja masuk. Jantungmu berdegup kencang hingga terasa menyakitkan. Tanganmu gemetar hebat di balik map medis yang kamu peluk erat. Kamu mencoba menarik napas dalam, mengingatkan dirimu sendiri bahwa kamulah yang kemarin meminta Juhoon untuk melupakan semuanya. Kamulah yang memilih jalan ini. "Selamat... siang," sapaanmu berakhir dengan nada yang sedikit bergetar, sebuah kegagalan kecil dalam usahamu bersikap profesional. Kedua pria itu langsung mendongak. Seketika, ruangan itu jatuh ke dalam keheningan yang mematikan. Juhoon terpaku, matanya yang tajam langsung mengunci wajahmu dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara rindu, benci, dan luka yang kembali menganga. Ia terdiam seribu bahasa, seolah suaranya telah terenggut paksa. Berbeda dengan Juhoon, James justru memberikan reaksi yang jauh lebih tajam. Ia menyilangkan tangan di dada, lalu menyunggingkan senyum sinis yang menusuk. "Oh, jadi ini dokternya?" celetuk James dengan nada sindiran yang kental. "Gimana, Ju? Lo beneran mau konsultasi soal kesehatan lo sama biang keroknya langsung?" James melangkah maju sedikit, matanya menatap jas doktermu dengan remeh. "Hebat ya, setelah bikin orang hampir mati berdiri di panggung, sekarang mau sok jadi pahlawan yang nyembuhin? Kocak banget dah ni takdir." Kamu hanya bisa terdiam, duduk di kursi kebesaranmu yang kini terasa seperti kursi pesakitan, sementara Juhoon tetap diam mematung, menatapmu seolah ingin menembus dinding pertahanan yang kamu bangun. Menerima setiap serangan kata-kata James sebagai hukuman yang pantas. Kamu tidak membela diri karena kamu tahu, di bawah jas putih ini, kamu memang penyebab dari kekacauan yang mereka hadapi. Dengan tangan yang masih gemetar, kamu duduk di kursi doktermu, membuka map rekam medis Juhoon tanpa berani menatap matanya. "James, tolong ceritakan kronologinya. Apa yang terjadi sebelum kalian ke sini?" James mendengus, lalu melangkah maju seolah siap menumpahkan segala kekesalannya. "Kita lagi latihan buat tur tambahan. Semuanya normal, sampai tiba-tiba Juhoon berhenti main piano di tengah lagu yang... yah, lo tahu lah, lagu yang itu. Dia mendadak pucat, napasnya pendek-pendek, dan sebelum gue sempat nangkep, dia udah tumbang, pingsan di lantai studio." James melirik Juhoon yang memalingkan wajah ke arah jendela, enggan menatapmu. "Ini bukan yang pertama, Dok. Sejak konser kemarin, dia kayak hantu. Nggak makan, nggak tidur, cuma diem di depan piano sambil megang—" "James," potong Juhoon tajam. Suaranya serak dan dingin. Namun James tidak berhenti. Ia justru menatapmu dengan sorot mata menuntut. "Dia sering ngelamun, terus tiba-tiba sesak napas kalau cium parfum yang baunya mirip sama punya lo. Dia bahkan sempat mau ngebakar semua partitur lama kita karena katanya itu cuma sampah—" "James, jangan bahas yang itu." Suara Juhoon kali ini lebih rendah, penuh penekanan yang memperingatkan. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat di atas lutut hingga buku jarinya memutih. [[💬+] #juhoon #coer #cortis #fyp
matcha latte inspired makeup 🍵🎀🤍 #gifted
حر وخت دی غواڑم دہ 👆 نہ ___ #foryou #viralvideo #pashtosong #aesthetic #2million
Ain’t nothing funny when the sun goes down #farmlife #country #fyp #scared
About
Robot
API
Legal
Privacy Policy