@kimngan.skin: Dầu gội Clear hỗ trợ giảm gàu #ClearScalpceuticals #sachgauvuottroi #HợptáccùngUnilever #ClearVN #Ecomobi

Góc làm đẹp của Ngân 🍀
Góc làm đẹp của Ngân 🍀
Open In TikTok:
Region: VN
Friday 19 June 2026 08:43:57 GMT
33
0
0
0

Music

Download

Comments

There are no more comments for this video.
To see more videos from user @kimngan.skin, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Di perbukitan Kojai, Nagari Tungkar, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, tersembunyi sebuah situs prasejarah bernama Goa Lidah Air, yang juga dikenal sebagai Lida Ajer (Bahasa Belanda). Goa ini terletak sekitar 20 kilometer dari Kota Payakumbuh, berada di lereng Bukit Sidayu pada ketinggian kurang lebih 700 meter di atas permukaan laut. Dikelilingi perbukitan kapur dan hutan tropis yang lebat, mulut gua menghadap ke arah timur dan hanya dapat dicapai melalui jalur darat yang dilanjutkan dengan berjalan kaki menembus medan berbukit. Secara geografis, kawasan ini menjadi bagian dari bentang alam karst yang kaya akan rongga dan lorong alami — sebuah lingkungan yang sejak puluhan ribu tahun lalu telah menjadi tempat berlindung manusia purba. Pada akhir abad ke-19, ilmuwan Belanda Eugene Dubois menemukan fosil gigi di lokasi ini. Penelitian modern yang dipublikasikan di jurnal Nature kemudian memastikan bahwa gigi tersebut milik Homo sapiens, dengan usia sekitar 73.000–63.000 tahun. Temuan ini mengubah pemahaman dunia: manusia modern ternyata sudah mampu hidup dan beradaptasi di hutan hujan tropis Sumatra jauh lebih awal dari perkiraan sebelumnya. Mereka tidak hanya menghuni wilayah pesisir, tetapi juga menembus pedalaman hutan yang lebat dan kompleks. Selain fosil, di dalam gua ditemukan lukisan manusia purba yang menjadi bukti adanya ekspresi budaya dan simbolik. Artinya, manusia masa itu bukan sekadar bertahan hidup — mereka juga berpikir, berkreasi, dan meninggalkan jejak makna. Untuk menentukan usianya, para ilmuwan menggunakan kombinasi metode ilmiah seperti Uranium-Series Dating pada batuan gua, Electron Spin Resonance (ESR) pada email gigi, Luminescence Dating pada sedimen, serta analisis stratigrafi lapisan tanah. Gabungan teknik ini menghasilkan penanggalan yang saling menguatkan dan memberikan kepastian kronologi yang lebih akurat. Goa Lidah Air bukan sekadar rongga batu di perbukitan Sumatra. Ia adalah saksi bisu perjalanan panjang manusia modern — bukti bahwa lebih dari 70.000 tahun lalu, nenek moyang kita telah menjelajah, beradaptasi, dan membangun kehidupan di jantung hutan tropis Nusantara. #GoaLidahAir #WisataAlamSumbar #Minangkabau #infonogori  #fyp
Di perbukitan Kojai, Nagari Tungkar, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, tersembunyi sebuah situs prasejarah bernama Goa Lidah Air, yang juga dikenal sebagai Lida Ajer (Bahasa Belanda). Goa ini terletak sekitar 20 kilometer dari Kota Payakumbuh, berada di lereng Bukit Sidayu pada ketinggian kurang lebih 700 meter di atas permukaan laut. Dikelilingi perbukitan kapur dan hutan tropis yang lebat, mulut gua menghadap ke arah timur dan hanya dapat dicapai melalui jalur darat yang dilanjutkan dengan berjalan kaki menembus medan berbukit. Secara geografis, kawasan ini menjadi bagian dari bentang alam karst yang kaya akan rongga dan lorong alami — sebuah lingkungan yang sejak puluhan ribu tahun lalu telah menjadi tempat berlindung manusia purba. Pada akhir abad ke-19, ilmuwan Belanda Eugene Dubois menemukan fosil gigi di lokasi ini. Penelitian modern yang dipublikasikan di jurnal Nature kemudian memastikan bahwa gigi tersebut milik Homo sapiens, dengan usia sekitar 73.000–63.000 tahun. Temuan ini mengubah pemahaman dunia: manusia modern ternyata sudah mampu hidup dan beradaptasi di hutan hujan tropis Sumatra jauh lebih awal dari perkiraan sebelumnya. Mereka tidak hanya menghuni wilayah pesisir, tetapi juga menembus pedalaman hutan yang lebat dan kompleks. Selain fosil, di dalam gua ditemukan lukisan manusia purba yang menjadi bukti adanya ekspresi budaya dan simbolik. Artinya, manusia masa itu bukan sekadar bertahan hidup — mereka juga berpikir, berkreasi, dan meninggalkan jejak makna. Untuk menentukan usianya, para ilmuwan menggunakan kombinasi metode ilmiah seperti Uranium-Series Dating pada batuan gua, Electron Spin Resonance (ESR) pada email gigi, Luminescence Dating pada sedimen, serta analisis stratigrafi lapisan tanah. Gabungan teknik ini menghasilkan penanggalan yang saling menguatkan dan memberikan kepastian kronologi yang lebih akurat. Goa Lidah Air bukan sekadar rongga batu di perbukitan Sumatra. Ia adalah saksi bisu perjalanan panjang manusia modern — bukti bahwa lebih dari 70.000 tahun lalu, nenek moyang kita telah menjelajah, beradaptasi, dan membangun kehidupan di jantung hutan tropis Nusantara. #GoaLidahAir #WisataAlamSumbar #Minangkabau #infonogori #fyp

About