@janeshia533: #jesussaves #jesusislord #jesuschrist

Janeshia
Janeshia
Open In TikTok:
Region: US
Tuesday 23 June 2026 16:00:44 GMT
321
44
11
24

Music

Download

Comments

sheisme5555
She is me 🦋555🌻 :
Amen 🙏🏽
2026-06-23 16:21:01
1
stanleythesmartest1
Denerious2007 :
Help Me Lord
2026-06-24 21:47:25
0
tristaweller2019
Trista weller :
Following the lord Jesus Christ amen 🙏
2026-06-23 16:15:12
0
kingsfa18
Kevondreking1234❤️❤️ :
Amen 🙏🏾
2026-06-24 16:42:31
0
udontknowwho_jay
ninjago and Ninja turtles fan :
amen
2026-06-23 16:24:18
0
kimiya547
ITS PRETTYFACEMIYA💓✨ :
Amen🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏
2026-06-24 21:44:05
0
carine.uwimpuhwe0
Ilovebillie Eilish🤭💋🤪 :
Amen
2026-06-23 16:39:39
0
keithgreen431
keithgreen431 :
follow always the Lord Jesus. the way the truth and the life.
2026-06-23 16:12:22
0
tislandboe
💥☠️le kea on top☠️💥 :
🥰🥰🥰
2026-06-23 16:19:02
0
nikkisixxgirllover
NEVAEHSIXX :
Amen and Amen and Amen and Amen 🙏🏻 ❤️
2026-06-23 16:20:15
0
To see more videos from user @janeshia533, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Pernikahan adalah institusi sosial yang berkembang untuk mengatur keturunan, harta, hubungan keluarga, dan kekuasaan. Dan mungkin itulah hal paling menarik tentang pernikahan modern: setelah ratusan ribu tahun sejarah manusia, kita semakin punya kesempatan untuk mengubahnya dari sekadar KEWAJIBAN menjadi sebuah PILIHAN. Cinta kemudian datang sebagai garam dalam narasi kehidupan: membuat hubungan terasa indah, bermakna, dan layak diperjuangkan. Tetapi cinta bukanlah alasan historis mengapa institusi pernikahan diciptakan. Dan kalau melihat penelitian psikologi modern, gambarnya semakin menarik. Sejumlah studi menemukan bahwa perempuan lajang dapat memiliki tingkat kepuasan hidup yang tinggi karena mereka cenderung membangun jaringan pertemanan dan dukungan sosial yang lebih luas, tanpa pasangan laki-laki. Sementara itu, laki-laki lebih sering menjadikan pasangan romantis sebagai sumber utama dukungan emosional. Dalam banyak hubungan heteroseksual, perempuan juga masih menanggung porsi pekerjaan domestik dan emotional labor yang lebih besar. Karena itu, bagi sebagian perempuan, hidup tanpa pasangan justru dapat berarti lebih sedikit beban domestik dan lebih banyak kendali atas hidupnya. Sebaliknya, pernikahan sering memberikan keuntungan kesehatan dan dukungan sosial yang lebih besar bagi laki-laki. Pasangan dapat menjadi sumber kedekatan emosional, regulasi stres, dan dukungan sehari-hari yang mungkin tidak mereka dapatkan dari jaringan sosial lain. Source: 1.Hoan & MacDonald — Social Psychological and Personality Science (2025) Ini sumber paling pas untuk klaimmu tentang perempuan lajang. Studi terhadap 5.941 orang menemukan bahwa perempuan lajang, rata-rata, melaporkan kepuasan terhadap status lajang, kepuasan hidup, dan kepuasan seksual yang lebih tinggi, serta keinginan memiliki pasangan yang lebih rendah dibanding laki-laki lajang. Jurnal: “Sisters Are Doin’ It for Themselves”  https://journals.sagepub.com/doi/10.1177/19485506241287960 2.Hoan & MacDonald — penelitian lanjutan pada perempuan dan laki-laki lajang di China (2026) Ini bahkan memperkuat temuan sebelumnya. Pada 1.629 orang yang belum pernah menikah, perempuan kembali menunjukkan kepuasan hidup lebih tinggi, kepuasan terhadap status lajang lebih tinggi, serta keinginan dan ketakutan terhadap kesendirian yang lebih rendah dibanding laki-laki. https://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/pere.70063 3.Ervin et al. — BMC Public Health (2020) Penelitian lintas negara menggunakan data 32.881 laki-laki dan 26.915 perempuan dari Jerman, Italia, Spanyol, Inggris, dan Amerika Serikat. Mereka menemukan adanya perbedaan pembagian waktu berdasarkan gender. Perempuan cenderung menanggung lebih banyak pekerjaan domestik dan pengasuhan, sementara waktu yang lebih banyak dihabiskan untuk pekerjaan rumah tangga berkaitan dengan kesehatan yang lebih buruk, terutama pada perempuan https://link.springer.com/article/10.1186/s12889-020-09306-z Penelitian PLOS ONE terhadap 8.528 orang di China, Jepang, Taiwan, dan Korea Selatan menemukan bahwa efek pernikahan terhadap kesehatan sangat bergantung pada kepuasan pernikahan dan konteks budaya. Pernikahan yang tidak bahagia justru dapat berkaitan dengan kesehatan yang lebih buruk. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC4521890/ #pernikahan #homosapiens #trend2026
Pernikahan adalah institusi sosial yang berkembang untuk mengatur keturunan, harta, hubungan keluarga, dan kekuasaan. Dan mungkin itulah hal paling menarik tentang pernikahan modern: setelah ratusan ribu tahun sejarah manusia, kita semakin punya kesempatan untuk mengubahnya dari sekadar KEWAJIBAN menjadi sebuah PILIHAN. Cinta kemudian datang sebagai garam dalam narasi kehidupan: membuat hubungan terasa indah, bermakna, dan layak diperjuangkan. Tetapi cinta bukanlah alasan historis mengapa institusi pernikahan diciptakan. Dan kalau melihat penelitian psikologi modern, gambarnya semakin menarik. Sejumlah studi menemukan bahwa perempuan lajang dapat memiliki tingkat kepuasan hidup yang tinggi karena mereka cenderung membangun jaringan pertemanan dan dukungan sosial yang lebih luas, tanpa pasangan laki-laki. Sementara itu, laki-laki lebih sering menjadikan pasangan romantis sebagai sumber utama dukungan emosional. Dalam banyak hubungan heteroseksual, perempuan juga masih menanggung porsi pekerjaan domestik dan emotional labor yang lebih besar. Karena itu, bagi sebagian perempuan, hidup tanpa pasangan justru dapat berarti lebih sedikit beban domestik dan lebih banyak kendali atas hidupnya. Sebaliknya, pernikahan sering memberikan keuntungan kesehatan dan dukungan sosial yang lebih besar bagi laki-laki. Pasangan dapat menjadi sumber kedekatan emosional, regulasi stres, dan dukungan sehari-hari yang mungkin tidak mereka dapatkan dari jaringan sosial lain. Source: 1.Hoan & MacDonald — Social Psychological and Personality Science (2025) Ini sumber paling pas untuk klaimmu tentang perempuan lajang. Studi terhadap 5.941 orang menemukan bahwa perempuan lajang, rata-rata, melaporkan kepuasan terhadap status lajang, kepuasan hidup, dan kepuasan seksual yang lebih tinggi, serta keinginan memiliki pasangan yang lebih rendah dibanding laki-laki lajang. Jurnal: “Sisters Are Doin’ It for Themselves” https://journals.sagepub.com/doi/10.1177/19485506241287960 2.Hoan & MacDonald — penelitian lanjutan pada perempuan dan laki-laki lajang di China (2026) Ini bahkan memperkuat temuan sebelumnya. Pada 1.629 orang yang belum pernah menikah, perempuan kembali menunjukkan kepuasan hidup lebih tinggi, kepuasan terhadap status lajang lebih tinggi, serta keinginan dan ketakutan terhadap kesendirian yang lebih rendah dibanding laki-laki. https://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/pere.70063 3.Ervin et al. — BMC Public Health (2020) Penelitian lintas negara menggunakan data 32.881 laki-laki dan 26.915 perempuan dari Jerman, Italia, Spanyol, Inggris, dan Amerika Serikat. Mereka menemukan adanya perbedaan pembagian waktu berdasarkan gender. Perempuan cenderung menanggung lebih banyak pekerjaan domestik dan pengasuhan, sementara waktu yang lebih banyak dihabiskan untuk pekerjaan rumah tangga berkaitan dengan kesehatan yang lebih buruk, terutama pada perempuan https://link.springer.com/article/10.1186/s12889-020-09306-z Penelitian PLOS ONE terhadap 8.528 orang di China, Jepang, Taiwan, dan Korea Selatan menemukan bahwa efek pernikahan terhadap kesehatan sangat bergantung pada kepuasan pernikahan dan konteks budaya. Pernikahan yang tidak bahagia justru dapat berkaitan dengan kesehatan yang lebih buruk. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC4521890/ #pernikahan #homosapiens #trend2026

About