@mehakkhan2023:

Mehak Khan Official
Mehak Khan Official
Open In TikTok:
Region: PK
Wednesday 24 June 2026 15:54:32 GMT
6179
1303
116
33

Music

Download

Comments

bilalsagar025
✧Bェل@ل Khaن✧ :
Bisham
2026-06-24 20:56:52
0
shakirullah7813
shakirkhan :
mashallah cute ❤️
2026-06-24 18:24:20
0
user669605664
👑AJmal.. afriai🦂🫵🥀 :
2026-06-24 18:21:56
1
phoolourkanti8
💔 (زیھنی مریض) 💔 :
love you❤❤❤😘😘😘😘
2026-06-24 16:43:32
0
phoolourkanti8
💔 (زیھنی مریض) 💔 :
love you❤❤❤😘😘😘🤟🤟🤟🤟
2026-06-24 16:43:41
0
attalafridi.1122
🏴‍☠️آتل۔ᗩᖴᖇIᗪI🇨🇭 :
Qurban Qurban ❤️❤️
2026-06-24 16:42:19
0
sajjad.khan46743
Sajjad Khan :
🥰🥰🥰
2026-06-24 20:54:37
0
khan.skt995
Khan Skt :
🥰🥰🥰
2026-06-24 20:13:47
0
abdullah.abdullah1555
Abdullah Abdullah :
@🥰🥰🥰🥰🥰🥰
2026-06-24 19:44:23
0
zeshan.khan.salar
Zeshan Khan Salarxi :
🥰🥰🥰
2026-06-24 19:30:27
0
affzaallkhan8
Affzaall khan :
💕💕💕
2026-06-24 19:13:47
0
altaf__officail
𝐇𝐊 𝐁𝐫𝐚𝐧𝐝 😎 :
❤️❤️❤️
2026-06-24 19:17:53
0
attaullahkhan5481
Attaullah Niyaze Official :
😁😁😁
2026-06-24 19:12:49
0
habibulmarsaleen1
Habib ulmar saleen 💞 :
💔💔💔
2026-06-24 19:08:19
0
useradilkhan91
adilkhan91 :
🥰🥰🥰
2026-06-24 19:07:12
0
haroonkhan7086
Haroon Khan :
🥰🥰🥰
2026-06-24 15:56:18
0
To see more videos from user @mehakkhan2023, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

lonceng Pagi di Pinggiran Bengawan: Hikayat Kandang Sapi Djebres.Ki bagus sujiwo menterjemahkan dari tulisan dari Belanda. ​Pada penghujung abad ke-19, wilayah timur Surakarta hanyalah hamparan lahan luas yang berdekatan dengan aliran Sungai Bengawan Solo. Namun, di bawah pemerintahan Sri Susuhunan Pakubuwono X, wajah kawasan ini berubah total. Sang Raja yang dikenal sebagai
lonceng Pagi di Pinggiran Bengawan: Hikayat Kandang Sapi Djebres.Ki bagus sujiwo menterjemahkan dari tulisan dari Belanda. ​Pada penghujung abad ke-19, wilayah timur Surakarta hanyalah hamparan lahan luas yang berdekatan dengan aliran Sungai Bengawan Solo. Namun, di bawah pemerintahan Sri Susuhunan Pakubuwono X, wajah kawasan ini berubah total. Sang Raja yang dikenal sebagai "Raja Modernis" ingin membawa gaya hidup sehat dan kemajuan industri ke dalam tembok keraton dan masyarakatnya. ​Kedatangan Sang Meneer ​Suatu hari, seorang pengusaha Belanda yang ambisius, Victor J. Pressen, menginjakkan kakinya di sana. Ia melihat potensi lahan yang subur untuk pakan ternak. Dengan izin dari Keraton, ia membangun sebuah imperium susu yang megah. Masyarakat saat itu belum terbiasa melihat sapi-sapi besar jenis Australia atau Frisian Holstein yang dibawa masuk ke Solo. ​Warga lokal yang bekerja di sana kerap memanggil sang majikan dengan sebutan "Tuan Jepresen". Karena lidah Jawa yang mencari praktisnya saja, perlahan sebutan itu menyusut. ​"Kowe arep neng endi?" (Kamu mau ke mana?) "Neng nggone Jepres." (Ke tempatnya Pressen.) Hingga akhirnya, seluruh kawasan itu pun baptis oleh waktu menjadi Djebres. ​Simfoni Susu dan Keju ​Setiap subuh, kawasan Kandang Sapi adalah pusat kesibukan yang luar biasa. Ratusan sapi diperah menggunakan teknik yang paling modern pada masanya. Udara pagi yang dingin di Solo kala itu bercampur dengan aroma susu segar yang sedang dipanaskan (pasteurisasi). ​Kandang Sapi bukan sekadar tempat ternak, melainkan sebuah pabrik pengolahan. Di sini diproduksi: ​Susu Segar: Yang didistribusikan menggunakan botol kaca ke rumah-rumah pejabat Belanda di kawasan Gladag dan Manahan. ​Keju dan Mentega: Yang menjadi menu wajib sarapan para bangsawan dan keluarga Keraton Surakarta. ​Jejak yang Tak Terhapus ​Memasuki tahun 1900-an, Kandang Sapi Djebres menjadi simbol kemakmuran. Lokasinya sangat strategis karena tidak jauh dari Stasiun Jebres, memudahkan pengiriman produk keluar kota melalui jalur kereta api yang baru saja dibangun oleh Staatspoorwegen. ​Kini, sapi-sapi itu telah lama pergi. Padang rumputnya telah berubah menjadi pemukiman padat dan rumah sakit besar (RS Dr. Oen). Namun, sejarah tak benar-benar hilang. Nama "Kandang Sapi" tetap hidup sebagai nama perempatan jalan yang legendaris, dan nama "Jebres" telah abadi menjadi nama kecamatan besar di Solo. ​Setiap kali orang menyebut "Jebres", secara tidak sadar mereka sedang merayakan warisan dari seorang pengusaha Belanda bernama Pressen dan visi besar seorang Pakubuwono X di masa lalu.

About