@peace.ambassadors35:

Peace Ambassadors
Peace Ambassadors
Open In TikTok:
Region: SS
Monday 29 June 2026 18:22:44 GMT
3708
246
46
9

Music

Download

Comments

nakadi09
Kadi Na Pojulu 💚 :
My favorite people
2026-06-29 21:59:35
1
gilian.1998
LADY GILIAN :
Someone inbox me the full song
2026-07-03 13:33:59
0
mainakarumi335
Maina Karumi :
one from Uganda,,,,,
2026-07-16 05:19:49
0
charity.aggrey99
Charity Aggrey99 :
🥰🥰🥰us 😁
2026-06-30 05:41:53
1
peace.ambassadors35
Peace Ambassadors :
During the Thanksgiving prayers for Wonduruba community peace ambassador ❤️❤️❤️
2026-06-29 18:23:52
0
elunaila7
Nelson mandela :
🥰🥰🥰
2026-06-30 11:32:27
1
princess.ta.kuc
ℙ𝕣𝕚𝕟𝕔𝕖𝕤𝕤 ❤🧡💜 :
🥰🥰🥰
2026-06-30 13:32:05
0
mercyalberto3
Mercy Alberto Ben :
♥️♥️♥️♥️🥰🥰🥰🌹🌹🌹
2026-06-30 05:41:50
0
esther.keji5
Esther Keji :
💕💕💕
2026-07-03 17:49:04
0
kidenssd
kiden ssd :
🥰🥰🥰
2026-07-01 14:00:07
0
use163218
mum 🌹 🇸🇸🇺🇬♥️♥️ :
😘😘😘
2026-06-29 21:28:54
0
madinggaak
Mading Gääk :
🙏🙏🙏
2026-07-03 12:27:09
0
nakiden85
Nakiden :
👌👌👌
2026-06-30 12:54:45
1
stella.keji5
Stella Keji :
🥰🥰🥰
2026-06-30 10:25:08
0
sweet.joice4
sweet Joice ❤️❤️❤️ :
🥰🥰🥰
2026-06-30 09:18:30
0
joyice.awate
Joyice Awate :
🥰🥰🥰
2026-06-30 08:04:27
0
pisa.single.dan
däĺĺåś pïśå :
🥰🥰🥰
2026-07-03 16:35:00
0
boyk.de.champion
boyk de champion :
🥰🥰
2026-07-04 10:25:32
0
sarah.banisto0
Sarah Banisto :
🥰🥰🥰
2026-06-29 21:08:36
0
user9446597342659
user9446597342659 :
🥰🥰🥰
2026-06-29 20:29:52
0
peace.ambassadors35
Peace Ambassadors :
🥰🥰🥰
2026-06-29 18:23:27
0
danny.john46
Danny john :
🥰🥰🥰
2026-07-12 07:37:17
0
To see more videos from user @peace.ambassadors35, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

POV: Rebo Wekasan menjadi tradisi turun temurun yang diwariskan masyarakat di tanah Jawa. Ketika surya tenggelam tepat pada hari Selasa, garis waktu resmi memasuki malam Rabu Pungkasan—hari Rabu terakhir di bulan Safar penanggalan Jawa. Ini menandai momen yang diyakini sakral guna memohon keselamatan lantaran malam ini waktu diturunkannya ratusan ribu penyakit atau bala ke muka bumi.  Keraton Surakarta mengundang Evan untuk bergabung pada acara sedekah bumi, mengingat kadipatennya masih di bawah kekuasaan keraton induk. Acara tersebut diselenggarakan dengan doa bersama di halaman keraton. Masyarakat beserta abdi dalem berkumpul menjadi satu. Usai merapalkan doa, khalayak mulai makan bersama di ruang terbuka sebagai wujud penolakan bala. “Sayang, mau saya ambilkan apa lagi?” “Eh, tidak usah, Mas Evan. Ini sudah cukup,” tolakmu lembut ketika Evan beralih duduk di sebelahmu. Ia mengulurkan piring rotan anyam yang memuat nasi gurih di atasnya.  “Buka mulutnya atau saya cium kamu di depan orang-orang,” titah Evan terbesit ancaman saat kepalamu menggeleng tolak terhadap uluran tangannya yang siap memberi suapan.  “Selalu saja ancamannya begitu,” gerutumu sebal sebelum membuka mulut terpaksa. Pria itu tersenyum manis kala kamu menerima suapannya. Evan menggamit singkat satu bulir nasi yang tertinggal di ujung bibir kanan.  Kedua alismu terangkat singkat merasakan rasa makanan yang mewah. “Enak lho, Mas. Mas Evan tidak makan sekalian?” tanyamu memperhatikannya.  Blangkon Evan tampak sedikit miring. Kamu tergerak guna merapikan sesaat, mengingat tangan Evan sendiri kotor akibat makanan. Pria itu terlihat senang akan perhatianmu sekarang. Sehingga benaknya tergugah untuk memberi kecupan kilat pada pipi kanan. “Nanti saja setelah royok gunungan,” ucapnya dengan senyum jahil. Kamu memukul lutut kirinya yang menekuk sila. Wajahmu berubah padam sebab malu menjadi buah bibir masyarakat. Banyak kaum hawa yang berseru lucu melihat tingkah seorang Kanjeng Gusti tengah kecintaan. “Mas, jangan cium-cium di sini,” bisikmu tegas pada Evan. Namun pria itu seolah tak mengindahkan ujaranmu barusan. Kepalanya merunduk dengan alis bertaut. “Kenapa, Sayang? Ingin Mas cium lagi? Nanti saja ya setelah acara.” Evan berucap sedikit meninggikan suara, sengaja agar pasang telinga lain mendengar bagaimana ia menggoda istrinya. “Ih, Mas! Dasar Kanjeng Gusti budek.” Orang-orang refleks menutup mulut mereka menahan tawa akibat cemoohanmu barusan. Evan hampir saja membalas, tetapi langsung urung ketika mulutmu terbuka menuntut suapan selanjutnya. Ia hanya bisa menggelengkan kepala dan tersenyum gemas. “Manis sekali istri saya satu ini.” Kamu refleks mencubit lengan kiri Evan. Sejujurnya kamu salah tingkah. Setiap pujian yang Evan lontarkan tidak pernah absen menciptakan semburat kemerahan. “Jangan gombal terus, Mas. Saya malu…” “Mau saya peluk?” Kamu menggeleng cepat. Namun Evan sedikit memundurkan kepala dengan raut wajah heran. “Lho? Bukannya biasanya kalau malu ingin saya peluk?” Wajahmu berpaling singkat, pipimu terasa panas mendengar lontaran fakta dari Evan. Kedua tanganmu meremas ujung kebaya akibat debar di balik dada. “Y-ya tidak di depan umum begini, Mas… itu nanti bisa di kamar…” gumammu malu-malu. Evan terkekeh manis. “Saya tagih ucapan kamu ini nanti, (Y/N). Habis saya suapin langsung ke kamar, jangan mampir ke mana-mana.” “Iya, Mas.” Kamu mengangguk patuh dengan dawuhnya. Sudah sering kamu menerima permintaan Evan tanpa setitik penolakan. Entah kenapa juga kamu tidak pernah merasa berat dengan apa yang ia minta.  Usai makan bersama warga desa, kamu pergi terlebih dahulu meninggalkan Evan yang masih mengikuti rangkaian adat gunungan. Tujuanmu tentu saja beristirahat di dalam kamar. Namun ketika melintasi selasar, netramu tak sengaja menangkap anak muda berdiri di depan sumur keramat. “Dek! Ayo masuk ke rumah!” ajakmu saat keberadaan Nala, putri abdi dalem yang kamu kenal, melambaikan tangan antusias. “Aku ingin minum air, Gusti!” (+(1-3)) #EVAN #HEESEUNG
POV: Rebo Wekasan menjadi tradisi turun temurun yang diwariskan masyarakat di tanah Jawa. Ketika surya tenggelam tepat pada hari Selasa, garis waktu resmi memasuki malam Rabu Pungkasan—hari Rabu terakhir di bulan Safar penanggalan Jawa. Ini menandai momen yang diyakini sakral guna memohon keselamatan lantaran malam ini waktu diturunkannya ratusan ribu penyakit atau bala ke muka bumi. Keraton Surakarta mengundang Evan untuk bergabung pada acara sedekah bumi, mengingat kadipatennya masih di bawah kekuasaan keraton induk. Acara tersebut diselenggarakan dengan doa bersama di halaman keraton. Masyarakat beserta abdi dalem berkumpul menjadi satu. Usai merapalkan doa, khalayak mulai makan bersama di ruang terbuka sebagai wujud penolakan bala. “Sayang, mau saya ambilkan apa lagi?” “Eh, tidak usah, Mas Evan. Ini sudah cukup,” tolakmu lembut ketika Evan beralih duduk di sebelahmu. Ia mengulurkan piring rotan anyam yang memuat nasi gurih di atasnya. “Buka mulutnya atau saya cium kamu di depan orang-orang,” titah Evan terbesit ancaman saat kepalamu menggeleng tolak terhadap uluran tangannya yang siap memberi suapan. “Selalu saja ancamannya begitu,” gerutumu sebal sebelum membuka mulut terpaksa. Pria itu tersenyum manis kala kamu menerima suapannya. Evan menggamit singkat satu bulir nasi yang tertinggal di ujung bibir kanan. Kedua alismu terangkat singkat merasakan rasa makanan yang mewah. “Enak lho, Mas. Mas Evan tidak makan sekalian?” tanyamu memperhatikannya. Blangkon Evan tampak sedikit miring. Kamu tergerak guna merapikan sesaat, mengingat tangan Evan sendiri kotor akibat makanan. Pria itu terlihat senang akan perhatianmu sekarang. Sehingga benaknya tergugah untuk memberi kecupan kilat pada pipi kanan. “Nanti saja setelah royok gunungan,” ucapnya dengan senyum jahil. Kamu memukul lutut kirinya yang menekuk sila. Wajahmu berubah padam sebab malu menjadi buah bibir masyarakat. Banyak kaum hawa yang berseru lucu melihat tingkah seorang Kanjeng Gusti tengah kecintaan. “Mas, jangan cium-cium di sini,” bisikmu tegas pada Evan. Namun pria itu seolah tak mengindahkan ujaranmu barusan. Kepalanya merunduk dengan alis bertaut. “Kenapa, Sayang? Ingin Mas cium lagi? Nanti saja ya setelah acara.” Evan berucap sedikit meninggikan suara, sengaja agar pasang telinga lain mendengar bagaimana ia menggoda istrinya. “Ih, Mas! Dasar Kanjeng Gusti budek.” Orang-orang refleks menutup mulut mereka menahan tawa akibat cemoohanmu barusan. Evan hampir saja membalas, tetapi langsung urung ketika mulutmu terbuka menuntut suapan selanjutnya. Ia hanya bisa menggelengkan kepala dan tersenyum gemas. “Manis sekali istri saya satu ini.” Kamu refleks mencubit lengan kiri Evan. Sejujurnya kamu salah tingkah. Setiap pujian yang Evan lontarkan tidak pernah absen menciptakan semburat kemerahan. “Jangan gombal terus, Mas. Saya malu…” “Mau saya peluk?” Kamu menggeleng cepat. Namun Evan sedikit memundurkan kepala dengan raut wajah heran. “Lho? Bukannya biasanya kalau malu ingin saya peluk?” Wajahmu berpaling singkat, pipimu terasa panas mendengar lontaran fakta dari Evan. Kedua tanganmu meremas ujung kebaya akibat debar di balik dada. “Y-ya tidak di depan umum begini, Mas… itu nanti bisa di kamar…” gumammu malu-malu. Evan terkekeh manis. “Saya tagih ucapan kamu ini nanti, (Y/N). Habis saya suapin langsung ke kamar, jangan mampir ke mana-mana.” “Iya, Mas.” Kamu mengangguk patuh dengan dawuhnya. Sudah sering kamu menerima permintaan Evan tanpa setitik penolakan. Entah kenapa juga kamu tidak pernah merasa berat dengan apa yang ia minta. Usai makan bersama warga desa, kamu pergi terlebih dahulu meninggalkan Evan yang masih mengikuti rangkaian adat gunungan. Tujuanmu tentu saja beristirahat di dalam kamar. Namun ketika melintasi selasar, netramu tak sengaja menangkap anak muda berdiri di depan sumur keramat. “Dek! Ayo masuk ke rumah!” ajakmu saat keberadaan Nala, putri abdi dalem yang kamu kenal, melambaikan tangan antusias. “Aku ingin minum air, Gusti!” (+(1-3)) #EVAN #HEESEUNG

About