@coti.aguerreche:

𝓒𝓸𝓷𝓼𝓽𝓪𝓷𝔃𝓪 🎀
𝓒𝓸𝓷𝓼𝓽𝓪𝓷𝔃𝓪 🎀
Open In TikTok:
Region: AR
Tuesday 14 July 2026 03:58:56 GMT
799
52
0
6

Music

Download

Comments

There are no more comments for this video.
To see more videos from user @coti.aguerreche, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Tulisan dalam sampul termasuk dalam pembahasan berat: Ana - Anta - Huwa. Kalau nggak hati-hati, bisa nyasar ke paham “manunggaling kawulo gusti” yang keliru. Aku jelasin pelan-pelan biar nggak salah paham: 1. Maksud “Laa Maujudun Illallah” dalam Bahasa Ahli Hakikat. Para sufi pakai kalimat ini bukan untuk bilang “kita semua adalah Allah”.  Maksudnya:   “Tidak ada wujud yang berdiri sendiri kecuali Allah.” Semua makhluk itu ‘wujud pinjaman’. Kayak bayangan. Bayangan ada karena ada badan yang bikin bayangan.   Kalau badannya hilang, bayangannya juga hilang. Contoh gelas kosong yang kamu pakai: Kosongnya ada, tapi ada karena ada gelas. Kalau gelasnya hancur, kosongnya juga selesai.   Yang mutlak ada itu cuma Allah. Makhluk ada, tapi wujudnya bergantung penuh pada Allah setiap detik. Ini namanya Tauhid Rububiyyah & Tauhid Asma’ wa Sifat : Allah satu-satunya yang Maha Ada, Maha Hidup, Maha Berdiri Sendiri. 2. “Aku - Engkau - Dia” Itu Dhamir Pinjaman. Contohnya.   Kamu bisa bilang “Aku Ahmad”, orang lain juga bisa bilang “Aku Budi”.   Kata “Aku” itu berpindah-pindah.  Itu bukti “Aku” makhluk bukan hakiki. Karena yang hakiki nggak berubah, nggak mati, nggak bisa dipinjam orang lain. Maka para arif bilah _“Kullu man ‘alaiha faan, wa yabqa wajhu rabbika dzul jalali wal ikram”_ > Semua yang di bumi akan fana. Yang kekal hanya wajah Tuhanmu yang punya kebesaran dan kemuliaan *QS. Ar-Rahman: 26-27* 4. Jadi Buahnya Apa? Kalau kamu bener-bener paham “Aku ini pinjaman”, hasilnya cuma 1: Hancur keakuan. Hilang sombong. Orang yang ngerti ini: - Nggak gila pujian. Karena yang dipuji itu Allah yang ngasih nikmat. - Nggak takut hinaan. Karena yang hina juga cuma jasad pinjaman. - Nggak sombong ilmu, jabatan, harta. Karena semua itu titipan yang besok ditarik. Makanya tasawuf, tauhid, makrifat ujungnya bukan debat “Aku Allah atau bukan”. Ujungnya: merendah, malu sama Allah, dan habis di depan Allah. 5. Praktiknya Biar Nggak Cuma Teori. Coba 1 latihan dari ahli hakikat: Dzikir “Huwa - Huwa - Huwa” sambil inget: “Yang ada cuma Dia. Aku ini nggak ada tanpa Dia.” Lama-lama rasa “aku” yang besar itu menciut. Gantinya rasa malu, rasa butuh, rasa cinta ke Allah. Itu namanya fana’. Fana’ dari rasa “aku”. Bukan fana’ jadi Allah. catatan nya : Tujuan ngomongin “Ana Anta Huwa” bukan biar kamu merasa jadi Tuhan Tapi biar kamu berhenti merasa jadi siapa-siapa di depan Tuhan. Pertanyaan buat direnungin: Kalau besok Allah cabut “Aku” yang kamu bangga-banggakan, apa yang tersisa dari dirimu?" width="135" height="240">
Tulisan dalam sampul termasuk dalam pembahasan berat: Ana - Anta - Huwa. Kalau nggak hati-hati, bisa nyasar ke paham “manunggaling kawulo gusti” yang keliru. Aku jelasin pelan-pelan biar nggak salah paham: 1. Maksud “Laa Maujudun Illallah” dalam Bahasa Ahli Hakikat. Para sufi pakai kalimat ini bukan untuk bilang “kita semua adalah Allah”. Maksudnya: “Tidak ada wujud yang berdiri sendiri kecuali Allah.” Semua makhluk itu ‘wujud pinjaman’. Kayak bayangan. Bayangan ada karena ada badan yang bikin bayangan. Kalau badannya hilang, bayangannya juga hilang. Contoh gelas kosong yang kamu pakai: Kosongnya ada, tapi ada karena ada gelas. Kalau gelasnya hancur, kosongnya juga selesai. Yang mutlak ada itu cuma Allah. Makhluk ada, tapi wujudnya bergantung penuh pada Allah setiap detik. Ini namanya Tauhid Rububiyyah & Tauhid Asma’ wa Sifat : Allah satu-satunya yang Maha Ada, Maha Hidup, Maha Berdiri Sendiri. 2. “Aku - Engkau - Dia” Itu Dhamir Pinjaman. Contohnya. Kamu bisa bilang “Aku Ahmad”, orang lain juga bisa bilang “Aku Budi”. Kata “Aku” itu berpindah-pindah. Itu bukti “Aku” makhluk bukan hakiki. Karena yang hakiki nggak berubah, nggak mati, nggak bisa dipinjam orang lain. Maka para arif bilah "Wali wali Allah" bilang: “Aku” yang bener-bener hidup dan nggak mati itu cuma Allah. “Ana” dalam “Laa Ilaaha Illa Ana” itu Aku-nya Allah. “Engkau” yang kekal itu Anta-nya Allah. “Dia” yang kekal itu Huwa-nya Allah. Tujuannya bukan nyatuin diri dengan Allah, tapi ngerontokin keakuan makhluk. Biar kamu nggak lagi bilang “Aku hebat, aku kaya, aku pejabat” dengan sombong. Karena “Aku” yang kamu banggakan itu besok mati. Yang tinggal cuma “Aku”-nya Allah. 3. Hati-hati: Ini Bukan Paham Wahdatul Wujud. Ada 2 versi paham “segala sesuatu adalah Dia”: 1. Wahdatul Wujud Sesat/Hulul / Ittihad: Bilang “Aku ini Allah, kamu itu Allah”. Ini kufur. Ini yang ditolak ulama Ahlus Sunnah. Karena menyamakan makhluk dengan Khaliq. 2. Wahdatus Syuhud: “Aku lihat semua ini fana, yang Baqa cuma Allah.” Ini yang dimaksud para sufi mu’tabar. Bukan makhluk jadi Allah, tapi makhluk sadar dirinya nggak ada apa-apanya tanpa Allah. Kalimat “Aku - Engkau - Dia itu Allah” dalam tulisan di atas harus dibaca versi ke-2. Kalau dibaca versi ke-1, rusak aqidah kita. Dalilnya jelas: > _“Kullu man ‘alaiha faan, wa yabqa wajhu rabbika dzul jalali wal ikram”_ > Semua yang di bumi akan fana. Yang kekal hanya wajah Tuhanmu yang punya kebesaran dan kemuliaan *QS. Ar-Rahman: 26-27* 4. Jadi Buahnya Apa? Kalau kamu bener-bener paham “Aku ini pinjaman”, hasilnya cuma 1: Hancur keakuan. Hilang sombong. Orang yang ngerti ini: - Nggak gila pujian. Karena yang dipuji itu Allah yang ngasih nikmat. - Nggak takut hinaan. Karena yang hina juga cuma jasad pinjaman. - Nggak sombong ilmu, jabatan, harta. Karena semua itu titipan yang besok ditarik. Makanya tasawuf, tauhid, makrifat ujungnya bukan debat “Aku Allah atau bukan”. Ujungnya: merendah, malu sama Allah, dan habis di depan Allah. 5. Praktiknya Biar Nggak Cuma Teori. Coba 1 latihan dari ahli hakikat: Dzikir “Huwa - Huwa - Huwa” sambil inget: “Yang ada cuma Dia. Aku ini nggak ada tanpa Dia.” Lama-lama rasa “aku” yang besar itu menciut. Gantinya rasa malu, rasa butuh, rasa cinta ke Allah. Itu namanya fana’. Fana’ dari rasa “aku”. Bukan fana’ jadi Allah. catatan nya : Tujuan ngomongin “Ana Anta Huwa” bukan biar kamu merasa jadi Tuhan Tapi biar kamu berhenti merasa jadi siapa-siapa di depan Tuhan. Pertanyaan buat direnungin: Kalau besok Allah cabut “Aku” yang kamu bangga-banggakan, apa yang tersisa dari dirimu?

About