@hamza.01988:

𝓗𝓪𝓶𝔃𝓪
𝓗𝓪𝓶𝔃𝓪
Open In TikTok:
Region: EG
Thursday 16 July 2026 04:50:24 GMT
2
0
0
3

Music

Download

Comments

There are no more comments for this video.
To see more videos from user @hamza.01988, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Banyak orang memahami bahwa shalat adalah tiang agama. Kalimat itu begitu sering didengar hingga kadang diterima begitu saja tanpa dipikirkan lebih dalam. Padahal jika direnungkan, sebuah tiang tidak mungkin berdiri sendiri. Tiang yang tinggi dan kuat tetap membutuhkan pondasi yang tertanam jauh di dalam tanah. Tanpa pondasi, bangunan hanya menunggu waktu untuk roboh. Maka pertanyaan yang layak diajukan bukan hanya bagaimana cara menegakkan tiang, tetapi juga bagaimana cara memperkuat pondasi yang menopangnya. Mungkin pondasi itu adalah keyakinan yang hidup di dalam hati. Sebab seseorang bisa saja melaksanakan shalat setiap hari, tetapi jika hatinya dipenuhi kesombongan, kebencian, atau merasa dirinya lebih baik dari orang lain, maka ada sesuatu yang perlu diperiksa kembali. Ibadah yang kokoh tidak lahir dari gerakan tubuh semata, melainkan dari hati yang mengenal Tuhannya, merasa kecil di hadapan-Nya, dan sadar bahwa dirinya selalu membutuhkan petunjuk. Dari sanalah keikhlasan, ketundukan, dan rasa takut sekaligus cinta kepada Tuhan mulai tumbuh. Karena itu, mencari hakikat agama sering kali bukan tentang menambah apa yang tampak di luar, melainkan memperbaiki apa yang tersembunyi di dalam. Sebab bangunan yang indah tidak ditentukan oleh tingginya tiang yang terlihat, tetapi oleh kuatnya pondasi yang tidak terlihat. Dan mungkin, semakin dalam seseorang menggali pondasi itu, semakin ia sadar bahwa agama bukan hanya tentang apa yang dikerjakan oleh tangan dan kaki, tetapi juga tentang apa yang hidup dan berakar di dalam hati.
Banyak orang memahami bahwa shalat adalah tiang agama. Kalimat itu begitu sering didengar hingga kadang diterima begitu saja tanpa dipikirkan lebih dalam. Padahal jika direnungkan, sebuah tiang tidak mungkin berdiri sendiri. Tiang yang tinggi dan kuat tetap membutuhkan pondasi yang tertanam jauh di dalam tanah. Tanpa pondasi, bangunan hanya menunggu waktu untuk roboh. Maka pertanyaan yang layak diajukan bukan hanya bagaimana cara menegakkan tiang, tetapi juga bagaimana cara memperkuat pondasi yang menopangnya. Mungkin pondasi itu adalah keyakinan yang hidup di dalam hati. Sebab seseorang bisa saja melaksanakan shalat setiap hari, tetapi jika hatinya dipenuhi kesombongan, kebencian, atau merasa dirinya lebih baik dari orang lain, maka ada sesuatu yang perlu diperiksa kembali. Ibadah yang kokoh tidak lahir dari gerakan tubuh semata, melainkan dari hati yang mengenal Tuhannya, merasa kecil di hadapan-Nya, dan sadar bahwa dirinya selalu membutuhkan petunjuk. Dari sanalah keikhlasan, ketundukan, dan rasa takut sekaligus cinta kepada Tuhan mulai tumbuh. Karena itu, mencari hakikat agama sering kali bukan tentang menambah apa yang tampak di luar, melainkan memperbaiki apa yang tersembunyi di dalam. Sebab bangunan yang indah tidak ditentukan oleh tingginya tiang yang terlihat, tetapi oleh kuatnya pondasi yang tidak terlihat. Dan mungkin, semakin dalam seseorang menggali pondasi itu, semakin ia sadar bahwa agama bukan hanya tentang apa yang dikerjakan oleh tangan dan kaki, tetapi juga tentang apa yang hidup dan berakar di dalam hati.

About