@alemdabalancasheila: Esse vídeo é de antes de eu iniciar o tratamento contra a obesidade. Por fora, eu estava sorrindo e dançando. Mas por dentro, meu corpo já dava sinais de que precisava de ajuda. A disposição era pouca, o cansaço chegava rápido e até os momentos de diversão exigiam um esforço enorme. Mesmo assim, eu não deixava de viver e de aproveitar os momentos que podia. Hoje, olhando para esse vídeo, vejo o quanto já decidi mudar a minha história. A caminhada está apenas começando, mas tenho certeza de que cada passo vale a pena. Em breve, vou mostrar toda essa transformação. E espero que ela inspire outras pessoas a acreditarem que sempre é possível recomeçar. ❤️💪 #Obesidade #TratamentoDaObesidade #Recomeço #Superação #VidaSaudável

Além da balança
Além da balança
Open In TikTok:
Region: BR
Wednesday 05 August 2026 17:50:37 GMT
2209601
203091
2681
21569

Music

Download

Comments

chupasseios00
Chu Passeios :
link da cadeira
2026-08-07 13:09:43
9188
cylennesilva
cileny :
o povo filma a mulher como se fosse uma aberração
2026-08-06 12:57:13
33023
keirycampos4371
Keiry Magalhães :
nao vi nada de diferente, e uma mulher como qualquer outra, e feliz 🥰🥰
2026-08-06 09:38:16
5185
lolosc14
lolo :
Tadinha tão felizinha fazendo as coisas dela, e o povo filmando para julgar ela
2026-08-07 18:54:07
42347
bruninha7silva
Bruna Souza 🎀 :
A mulher tão feliz , e o povo criticando
2026-08-08 00:11:44
7862
v.sillvas0
🧜🏾‍♀️🐬 :
que a nossa amizade seja mais forte que essa cadeira 😂😳😅😅
2026-08-09 21:23:20
25
rosimar20_
rosimaralves565 :
ainda bem que ela não se importa com o que os outros falam...
2026-08-06 09:37:56
982
maxx_fernandes
Maxx Fernandes :
A felicidade incomoda muita gente, nunca se esqueçam disso.
2026-08-08 02:29:37
1472
victor.silva902
Namorado da Lívia🤍 :
ela sendo mais feliz doq as magrinha que estavam julgando ela
2026-08-08 01:41:37
70
my.lady333
୨ৎ Loh :
Não devemos normalizar a obesidade, mas vocês chamarem ela de imensa e fazer piadas não vai tá ajudando em nada
2026-08-08 01:34:04
35
evelynaar
Evelyn Araújo :
coitada deixa elaa curtir, ela ver e tem gente filmando ela.. , ela é gente tbm meu deus.
2026-08-08 00:40:42
50
thami.jac
thamiresjacinto91 :
o que importa é estar feliz e tomar um guaraná 🫰🏻
2026-08-07 20:12:05
13
sirlania.martins1
Sirlania Martins dos Santos :
o importante é ser feliz igual ela está sendo
2026-08-06 00:55:20
319
lene.bsb
Lene Bsb :
Os incomodados que se lasque. Tô pesada So mudar de parceira simples assim 😅😅😅😅😅😅 Tá certa felicidade não depende de peso e sim de espírito livre.
2026-08-07 13:41:50
25
240323j
Ana Paula America @ :
Deixa a mulher ser feliz 💃🏽🥰
2026-08-07 20:30:03
5
juh2472219.gerenc
Juh Silva Santos :
é sobre gente feliz 🥰
2026-08-06 13:00:12
176
To see more videos from user @alemdabalancasheila, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Seumur hidup kita sibuk mengumpulkan banyak hal. Mengumpulkan harta. Mengumpulkan jabatan. Mengumpulkan penghargaan. Mengumpulkan pujian. Mengumpulkan nama baik. Bahkan kita rela mengorbankan waktu, tenaga, dan ketenangan demi sesuatu yang kita sebut milikku. Rumahku. Mobilku. Perusahaanku. Jabatanku. Keluargaku. Hartaku. Namun pernahkah kita berhenti sejenak untuk bertanya Benarkah semua itu benar-benar milik kita? Jika memang milik kita, mengapa suatu hari nanti kita harus meninggalkannya? Jika memang milik kita, mengapa usia mampu memisahkan kita darinya? Jika memang milik kita, mengapa kematian datang tanpa meminta izin kepada semua yang telah kita kumpulkan? Hidup mengajarkan bahwa manusia sering keliru membedakan antara titipan dan kepemilikan. Kita menggenggam titipan seolah-olah itu akan abadi. Padahal sejak awal, Tuhan hanya sedang mempercayakannya kepada kita untuk sementara. Harta hanyalah titipan. Kesehatan hanyalah titipan. Pasangan adalah titipan. Anak-anak adalah titipan. Jabatan adalah titipan. Bahkan tubuh yang setiap hari kita rawat pun hanyalah titipan yang suatu saat akan kembali kepada Pemiliknya. Dan mungkin inilah tamparan paling sunyi bagi jiwa: Selama hidup, kita sibuk mengumpulkan apa yang akan kita tinggalkan, tetapi lalai mengumpulkan apa yang akan ikut bersama kita. Betapa banyak manusia rela kehilangan kejujuran demi harta yang akhirnya diwariskan. Rela kehilangan harga diri demi kedudukan yang akhirnya digantikan. Rela kehilangan waktu bersama keluarga demi pekerjaan yang kelak akan diteruskan orang lain. Taubat ditunda. Sedekah ditunda. Meminta maaf ditunda. Bersyukur ditunda. Seolah-olah kita memiliki jaminan bahwa esok masih akan menjadi milik kita. Padahal yang dijanjikan kepada manusia bukanlah hari esok. Yang dijanjikan hanyalah bahwa setiap amal akan diperhitungkan. Dunia akan semakin pandai membuat manusia merasa memiliki. Teknologi akan membuat semuanya terasa berada dalam genggaman. Kekayaan akan semakin mudah dipamerkan. Popularitas akan semakin mudah diraih. Namun pada saat napas terakhir dihembuskan, semua itu berhenti di ambang pintu kematian. Rekening tidak ikut masuk ke liang lahad. Gelar tidak menemani kesendirian di alam kubur. Popularitas tidak menjawab pertanyaan di hadapan Tuhan. Yang tetap tinggal bersama kita hanyalah jejak kehidupan yang pernah kita pilih. “Berapa banyak yang berhasil kukumpulkan?” Lalu mulai bertanya, “Berapa banyak yang benar-benar akan kubawa pulang?” Karena sesungguhnya setiap hari kita sedang menulis dua catatan. Catatan amal. Dan catatan dosa. Dua catatan itulah yang benar-benar melekat pada diri kita. Tidak bisa diwariskan. Tidak bisa dipindahkan. Tidak bisa dibeli. Tidak bisa ditukar. Jika engkau berbuat baik, engkaulah yang akan memetik cahayanya. Jika engkau menzalimi orang lain, engkaulah yang akan memikul bebannya. Tidak ada seorang pun yang mampu menggantikan. Maka sebelum mengejar sesuatu yang hanya akan tinggal di dunia, kejarlah sesuatu yang akan tetap hidup setelah dunia meninggalkanmu. Tebarkan kebaikan meski tidak dipuji. Bersedekahlah meski tidak diketahui. Maafkan meski tidak diminta. Beribadahlah meski tidak dilihat manusia. Karena segala sesuatu yang dilakukan dengan tulus akan tetap hidup, bahkan ketika nama kita telah lama dilupakan. Pada akhirnya, dunia hanya meminjamkan. Tidak ada satu pun yang benar-benar dapat kita miliki selamanya. Rumah akan berganti penghuni. Harta akan berganti pemilik. Jabatan akan berganti nama. Tubuh akan kembali menjadi tanah. Namun amal akan tetap bercahaya. Dan dosa akan tetap meminta pertanggungjawaban. Maka jangan terlalu bangga dengan apa yang hari ini ada di tanganmu. Lebih baik sibuk memperindah apa yang kelak akan berada di dalam timbangan amalmu. Karena ketika seluruh dunia berhasil lepas dari genggamanmu, masih ada satu hal yang tidak akan pernah meninggalkanmu. Yaitu setiap amal yang pernah kau ikhlaskan, dan setiap dosa yang belum sempat kau sesali. ~ @The Feri Purwo  #fyp #feripurwo #selfreminder #muhasabahdiri #jumatberkah
Seumur hidup kita sibuk mengumpulkan banyak hal. Mengumpulkan harta. Mengumpulkan jabatan. Mengumpulkan penghargaan. Mengumpulkan pujian. Mengumpulkan nama baik. Bahkan kita rela mengorbankan waktu, tenaga, dan ketenangan demi sesuatu yang kita sebut milikku. Rumahku. Mobilku. Perusahaanku. Jabatanku. Keluargaku. Hartaku. Namun pernahkah kita berhenti sejenak untuk bertanya Benarkah semua itu benar-benar milik kita? Jika memang milik kita, mengapa suatu hari nanti kita harus meninggalkannya? Jika memang milik kita, mengapa usia mampu memisahkan kita darinya? Jika memang milik kita, mengapa kematian datang tanpa meminta izin kepada semua yang telah kita kumpulkan? Hidup mengajarkan bahwa manusia sering keliru membedakan antara titipan dan kepemilikan. Kita menggenggam titipan seolah-olah itu akan abadi. Padahal sejak awal, Tuhan hanya sedang mempercayakannya kepada kita untuk sementara. Harta hanyalah titipan. Kesehatan hanyalah titipan. Pasangan adalah titipan. Anak-anak adalah titipan. Jabatan adalah titipan. Bahkan tubuh yang setiap hari kita rawat pun hanyalah titipan yang suatu saat akan kembali kepada Pemiliknya. Dan mungkin inilah tamparan paling sunyi bagi jiwa: Selama hidup, kita sibuk mengumpulkan apa yang akan kita tinggalkan, tetapi lalai mengumpulkan apa yang akan ikut bersama kita. Betapa banyak manusia rela kehilangan kejujuran demi harta yang akhirnya diwariskan. Rela kehilangan harga diri demi kedudukan yang akhirnya digantikan. Rela kehilangan waktu bersama keluarga demi pekerjaan yang kelak akan diteruskan orang lain. Taubat ditunda. Sedekah ditunda. Meminta maaf ditunda. Bersyukur ditunda. Seolah-olah kita memiliki jaminan bahwa esok masih akan menjadi milik kita. Padahal yang dijanjikan kepada manusia bukanlah hari esok. Yang dijanjikan hanyalah bahwa setiap amal akan diperhitungkan. Dunia akan semakin pandai membuat manusia merasa memiliki. Teknologi akan membuat semuanya terasa berada dalam genggaman. Kekayaan akan semakin mudah dipamerkan. Popularitas akan semakin mudah diraih. Namun pada saat napas terakhir dihembuskan, semua itu berhenti di ambang pintu kematian. Rekening tidak ikut masuk ke liang lahad. Gelar tidak menemani kesendirian di alam kubur. Popularitas tidak menjawab pertanyaan di hadapan Tuhan. Yang tetap tinggal bersama kita hanyalah jejak kehidupan yang pernah kita pilih. “Berapa banyak yang berhasil kukumpulkan?” Lalu mulai bertanya, “Berapa banyak yang benar-benar akan kubawa pulang?” Karena sesungguhnya setiap hari kita sedang menulis dua catatan. Catatan amal. Dan catatan dosa. Dua catatan itulah yang benar-benar melekat pada diri kita. Tidak bisa diwariskan. Tidak bisa dipindahkan. Tidak bisa dibeli. Tidak bisa ditukar. Jika engkau berbuat baik, engkaulah yang akan memetik cahayanya. Jika engkau menzalimi orang lain, engkaulah yang akan memikul bebannya. Tidak ada seorang pun yang mampu menggantikan. Maka sebelum mengejar sesuatu yang hanya akan tinggal di dunia, kejarlah sesuatu yang akan tetap hidup setelah dunia meninggalkanmu. Tebarkan kebaikan meski tidak dipuji. Bersedekahlah meski tidak diketahui. Maafkan meski tidak diminta. Beribadahlah meski tidak dilihat manusia. Karena segala sesuatu yang dilakukan dengan tulus akan tetap hidup, bahkan ketika nama kita telah lama dilupakan. Pada akhirnya, dunia hanya meminjamkan. Tidak ada satu pun yang benar-benar dapat kita miliki selamanya. Rumah akan berganti penghuni. Harta akan berganti pemilik. Jabatan akan berganti nama. Tubuh akan kembali menjadi tanah. Namun amal akan tetap bercahaya. Dan dosa akan tetap meminta pertanggungjawaban. Maka jangan terlalu bangga dengan apa yang hari ini ada di tanganmu. Lebih baik sibuk memperindah apa yang kelak akan berada di dalam timbangan amalmu. Karena ketika seluruh dunia berhasil lepas dari genggamanmu, masih ada satu hal yang tidak akan pernah meninggalkanmu. Yaitu setiap amal yang pernah kau ikhlaskan, dan setiap dosa yang belum sempat kau sesali. ~ @The Feri Purwo #fyp #feripurwo #selfreminder #muhasabahdiri #jumatberkah

About