@_heri03: Dios x delante❤️ #parati #ponmeenparati #music #hermanosespinoza #29:11

_heri03
_heri03
Open In TikTok:
Region: MX
Sunday 09 August 2026 04:50:47 GMT
87121
14532
4
758

Music

Download

Comments

cecyclzd
✊C 🫰Calzaditha♥️🫩 :
ponlo para descargar xfis
2026-08-25 16:17:29
0
marierodriguez168
Marie Flores Rodrìgu :
ame
2026-08-13 17:01:26
4
brayan68014
brayan 🪶💯 :
🥰🥰🥰
2026-08-25 02:24:33
2
angel.alfaro847
💘biejiyo :
🙏🙏❤️‍🩹❤️‍🩹🫂🫂👌🏻👌🏻🥰👌🏻👌🏻👌🏻👌🏻👌🏻🥰🥰🥰
2026-08-25 16:10:15
0
To see more videos from user @_heri03, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Malam itu udara Makkah terasa lebih dingin dari biasanya. Angin gurun berembus pelan melewati celah-celah rumah sederhana milik Rasulullah. Tak ada suara. Tak ada tawa. Tak ada percakapan panjang seperti hari-hari sebelumnya. Yang terdengar hanyalah helaan napas yang semakin pelan dari seorang wanita yang telah menghabiskan seluruh hidupnya untuk Islam, Sayyidah Khadijah.  Wanita yang selama 25 tahun menjadi tempat Rasulullah pulang. Wanita yang selalu ada ketika dunia meninggalkannya. Malam itu tubuhnya terbaring lemah. Sangat lemah. Sementara Rasulullah ﷺ duduk di sampingnya. Tak beranjak sedikit pun. Sesekali ia menggenggam tangan istrinya. Tangan yang dulu menyerahkan seluruh hartanya demi dakwah.  Tangan yang dulu mengusap tubuh beliau saat pulang dari Gua Hira dalam keadaan gemetar. Kini tangan itu mulai terasa dingin. Dan Rasulullah ﷺ menyadarinya. Mungkin saat itu hati ia mulai memahami sesuatu yang tidak ingin beliau terima. Bahwa perpisahan itu semakin dekat. Sangat dekat. Perlahan Sayyidah Khadijah membuka matanya. Ia memandang Fatimah yang duduk tak jauh darinya. Dengan suara yang hampir tak terdengar, ia berbisik,
Malam itu udara Makkah terasa lebih dingin dari biasanya. Angin gurun berembus pelan melewati celah-celah rumah sederhana milik Rasulullah. Tak ada suara. Tak ada tawa. Tak ada percakapan panjang seperti hari-hari sebelumnya. Yang terdengar hanyalah helaan napas yang semakin pelan dari seorang wanita yang telah menghabiskan seluruh hidupnya untuk Islam, Sayyidah Khadijah. Wanita yang selama 25 tahun menjadi tempat Rasulullah pulang. Wanita yang selalu ada ketika dunia meninggalkannya. Malam itu tubuhnya terbaring lemah. Sangat lemah. Sementara Rasulullah ﷺ duduk di sampingnya. Tak beranjak sedikit pun. Sesekali ia menggenggam tangan istrinya. Tangan yang dulu menyerahkan seluruh hartanya demi dakwah. Tangan yang dulu mengusap tubuh beliau saat pulang dari Gua Hira dalam keadaan gemetar. Kini tangan itu mulai terasa dingin. Dan Rasulullah ﷺ menyadarinya. Mungkin saat itu hati ia mulai memahami sesuatu yang tidak ingin beliau terima. Bahwa perpisahan itu semakin dekat. Sangat dekat. Perlahan Sayyidah Khadijah membuka matanya. Ia memandang Fatimah yang duduk tak jauh darinya. Dengan suara yang hampir tak terdengar, ia berbisik, "Fatimah putriku..." Sayyidah Fatimah segera mendekat. Lalu Sayyidah Khadijah berkata, "Aku merasa ajalku sudah dekat." Kalimat itu membuat dunia seakan berhenti sesaat. Air mata Fatimah langsung menggenang. Namun kalimat berikutnya jauh lebih menghancurkan hati. "Tolong mintakan kepada ayahmu sorban yang biasa beliau gunakan saat menerima wahyu. Aku ingin itu menjadi kain kafanku." Fatimah menunduk. Dadanya terasa sesak. Karena ia tahu siapa wanita yang sedang berbicara di hadapannya. Ini adalah Khadijah. Wanita yang pernah memiliki begitu banyak harta. Wanita yang menghabiskan seluruh kekayaannya untuk Islam hingga nyaris tak menyisakan apa pun bagi dirinya sendiri. Namun di penghujung hidupnya, ia hanya meminta sehelai sorban. Hanya sehelai sorban. Bukan rumah. Bukan emas. Bukan balasan atas seluruh pengorbanannya. Seolah dunia memang tidak pernah berarti baginya. Seolah satu-satunya yang ingin ia bawa menuju kuburnya adalah kenangan tentang lelaki yang dicintainya karena Allah. Ketika permintaan itu sampai kepada Rasulullah, kepala beliau tertunduk. Tak ada yang tahu betapa sesaknya dadanya saat itu. Di hadapannya terbaring wanita yang selalu percaya ketika seluruh manusia meragukan. Wanita yang menghibur ketika seluruh manusia menyakiti. Wanita yang memberi ketika yang lain menahan. Namun wanita sebesar itu, tidak meminta apa-apa selain sehelai sorban. Lalu Rasulullah mendekat. Suaranya bergetar. "Wahai Khadijah... Allah mengirimkan salam untukmu." Khadijah tersenyum. Senyum yang sangat tipis. Namun cukup untuk membuat semua yang ada di ruangan itu menangis. Karena mereka tahu, tak lama lagi senyum itu akan menjadi kenangan. "Dan Allah telah menyiapkan surga untukmu." Air mata mulai jatuh dari wajah Fatimah. Ruangan itu semakin sunyi. Begitu sunyi. Sampai-sampai suara napas Khadijah yang semakin pelan terdengar jelas. Kemudian dengan kepala yang berada di dekat Rasulullah, dengan tangan yang masih berada dalam genggaman Rasul, Sayyidah Khadijah mengembuskan napas terakhirnya. Perlahan. Tenang. Seolah seorang musafir yang akhirnya tiba di rumah setelah perjalanan yang sangat panjang. Saat itu tak ada yang sanggup berkata-kata. Fatimah menangis. Orang-orang di rumah itu menangis. Dan Rasulullah, ia hanya memeluk jasad Khadijah erat-erat. Sangat erat. Seakan berharap waktu berhenti bergerak. Seakan berharap kematian membatalkan keputusannya. Namun waktu terus berjalan. Dan wanita yang menemani beliau selama seperempat abad itu benar-benar telah pergi untuk selamanya. Ia memandang wajah Khadijah untuk terakhir kalinya. Wajah yang dulu menyambutnya setiap kali pulang. Wajah yang dulu berkata, "Aku percaya kepadamu." Lalu dengan suara yang dipenuhi tangis, Rasulullah ﷺ berkata, "Wahai Khadijah, demi Allah aku tidak akan pernah mendapatkan wanita sepertimu."

About