@sharifhd:

SHARIF HD 🇨🇦 🇨🇦
SHARIF HD 🇨🇦 🇨🇦
Open In TikTok:
Region: UG
Wednesday 19 August 2026 15:59:41 GMT
55570
1589
81
287

Music

Download

Comments

user402801412
John :
it was written in the old Testament Jesus Christ came to die for our sins. roughly 500 to 1000 years before it happened. (read with understanding)
2026-08-22 00:27:55
0
ksrska
ksrska :
Imagine…. I could have bargained for waaaaaay more there… 🤣😂
2026-08-22 18:31:13
0
tshepiso.magomane
Tshepiso Magomane :
it was enough to buy a whole farm worth millions today.
2026-08-22 09:09:54
0
enya_sophia
Enya Sophia 🥀 :
because if you read the gnostic texts, Jesus asked him to
2026-08-22 19:56:11
0
ocen.hotizejulius
forgotten :
money first
2026-08-23 10:33:07
0
impress506
impress :
🤣🤣🤣🤣im telling you
2026-08-21 23:13:42
0
tododaniel409
Daniel junior :
they could have built the best wineries in the world
2026-08-19 17:43:12
10
udhduhdjebehbejndunbh21
User765* :
I didn’t see that coming up you are so right about it 👏👏👏👏👏👏
2026-08-19 23:38:20
0
josettlawes4
josett :
right when him could ask him to make him a millionaire 🤔
2026-08-19 17:29:08
3
user6215531922062
user6215531922062 :
where do u get those words😅😅
2026-08-19 16:28:19
4
mindand48
mindand48 :
Juda lost huge revenue of bad decisions 😁
2026-08-19 18:33:32
4
godblesschoosen45
godbless45 :
Maybe he wouldnt agree to open liquor store and judas needed rent money
2026-08-19 21:05:05
5
jameskorir9748
reaper :
that was a good business idea gone to waste
2026-08-19 16:47:17
4
mugoirene
Mugo Irene :
I swear Judas disappointed me🫣
2026-08-19 16:40:07
3
emmanuelokello869
𝘽𝙊𝙍𝙉 𝙋 :
Instead of telling him to change one piece into more 😂😂😂😂😂😂😂😂😂 Juda was really real madman 😂😂😂😂😂😂
2026-08-19 16:07:36
5
user9884529517925
Precious :
imagine to lose such friend coz of greed for money
2026-08-20 08:29:08
1
123nanaclancy
Nana clancy :
I'm telling you
2026-08-20 05:00:44
1
josephokurboth909
Josen278 :
indeed that was bad really y would Juda do that instead he would have told him to turn leaves into money 😅😅😅😅😅😅😅
2026-08-19 16:05:58
2
user1572988339418
user1572988339418 :
imagine 🤣🤣🤣
2026-08-19 17:34:42
1
zeenabocas
zeenabocas :
I have to agree 👍🏽
2026-08-19 16:35:24
1
ifd424
IFD :
2026-08-21 16:13:07
0
austinomondi251
AUSTIN ANDREW OMONDI :
hahaha
2026-08-22 11:06:35
0
rickeythomas753
rickeythomas753 :
Acts 1:16, John 13:1-7, Luke 22:38, and Matthew 27:3-5
2026-08-21 16:19:28
0
To see more videos from user @sharifhd, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

KH. Abdurrahim bin KH. Keming Rawalini Teluknaga Tangerang Banten. KH. Abdurrahim bin KH. Keming Lahir pada tahun 1890 Di Rawalini Teluknaga Tangerang Banten dan wafat pada tahun 1994. Rawalini, daerah yang berada Di Wilayah Teluknaga Tangerang Utara, sejak tahun 1890 an pendidikan Islam disini cukup terkenal. Tokoh kampungnya berperan aktif dalam mengajarkan kajian islam kepada masyarakat yang berlatar belakang jawara dan  akulturasi budaya Betawi dan Cina Benteng. Ini terlihat dari pola kondangan di acara pernikahan sarat hubungannya dengan budaya Cina Benteng. Namun kultur jawara yang identik dengan kekerasan dan kultur budaya Cina Benteng terus terkikis keberadaannya sejak awal abad 19.  Rawalini dikenal sebagai teladan  kegigihan dalam melawan penjajah,  berbeda dengan daerah sekitarnya yang masih didominasi para jawara yang identik dengan kesaktian dan kekerasan, dan dipengaruhi budaya Toinghoa. Kehidupan sosial dan budaya jawara yang dahulu erat dengan ciri-ciri fisik, seperti halnya selalu membawa golok kemana-mana, memakai peci dan pakaian serba hitam sudah tidak               dipergunakan lagi. Bukti empirik akan kuatnya kultur Jawara sekitar Rawalini adalah  pada tahun 1925 an, KH. Keming bin Muhayar mengadakan pesta pernikahan puteranya KH. Abdurrahim dan Hj Rohadah, Rawalini akan diserang para jawara sekitar. Tetapi KH. Keming mengundang sahabatnya sosok  jawara santri yang bernama H. Pukara bin Pulung. jawara santri berkuda dari Bugel Tigaraksa ini  membuat para jawara di sekitar Rawalini segan dan mengurungkan niatnya untuk menyerang kampung tersebut. Hingga demi mempererat  silaturahmi, Hj. Maryam binti H.Pukara bin Pulung dijodohkan dengan keponakan KH. Keming yang bernama H. Samirin bin Khadijah binti Mari'ah binti Muhayyar. Bukti empirik kedua bahwa Rawalini memiliki kultur yang berbeda dari daerah sekitarnya yaitu, ketika Tubagus Musa asal Ciruas Serang sampai ke Rawalini dari pengejaran kolonial Belanda,  diterima dengan baik oleh KH. Keming dan H. Damiri. Sampi akhirnya Tubagus Musa menikah dengan orang Rawalini dan menetap sampai akhir hayatnya. KH. Keming dan H. damiri adalah pejuang kemerdekaan Indonesia. Bersama Kiyai Banten lainya memandang hina pemerintah kolonial karena mereka telah merebut kekuasaan orang-orang islam. Dan hukumnya wajib diperangi. Hal tersebut mendapat dukungan penuh termasuk dari elit-elit sosial, bangsawan, dan para jawara. Hingga saat ini Rawalini dikenal sebagai pusat pengembangan  Islam. Proses ini dimulai sejak tahun 1900 an oleh KH. Keming dengan cara mengirim anaknya KH. Abrurrahim pada tahun 1914 untuk menuntut ilmu Di Mekkah tepat ketika terjadinya peralihan kekuasaan dari Gubernur Syarif Husain Kerajaan Turki Usmani ke Kerajaan Bani Sa’ud (Saudi Arabia) Kepulangan Abdurrahim dari Mekkah sangat diharapkan ayahnya agar ia mengamalkan ilmunya  sesuai dengan kultur dan budaya masyarakat Teluknaga.    KH. Abudurrahim memiliki banyak santri. Dari sekian banyak santri,  terdapat satu murid yang mencuri perhatiannya yaitu Ujang. Nama Kecil KH. Muhammad Hasan, anak dari keluarga yang tidak mampu asal Rawa Jambe. tapi Ketekunan dan semangat Ujang dalam mengaji menjadikan sang guru dan  masyarakat Rawalini bergotong royong memberikan beasiswa agar anak ini bisa melanjutkan ke jenjang pesantren yang lebih tinggi dengan harapan agar dapat mentransfer ilmu yang di dapat untuk masyarakat sekitar. Dinarasikan dari berbagai sumber  #ulama #ulamaindonesia #tangerang  #kiyai #abuya
KH. Abdurrahim bin KH. Keming Rawalini Teluknaga Tangerang Banten. KH. Abdurrahim bin KH. Keming Lahir pada tahun 1890 Di Rawalini Teluknaga Tangerang Banten dan wafat pada tahun 1994. Rawalini, daerah yang berada Di Wilayah Teluknaga Tangerang Utara, sejak tahun 1890 an pendidikan Islam disini cukup terkenal. Tokoh kampungnya berperan aktif dalam mengajarkan kajian islam kepada masyarakat yang berlatar belakang jawara dan akulturasi budaya Betawi dan Cina Benteng. Ini terlihat dari pola kondangan di acara pernikahan sarat hubungannya dengan budaya Cina Benteng. Namun kultur jawara yang identik dengan kekerasan dan kultur budaya Cina Benteng terus terkikis keberadaannya sejak awal abad 19. Rawalini dikenal sebagai teladan kegigihan dalam melawan penjajah, berbeda dengan daerah sekitarnya yang masih didominasi para jawara yang identik dengan kesaktian dan kekerasan, dan dipengaruhi budaya Toinghoa. Kehidupan sosial dan budaya jawara yang dahulu erat dengan ciri-ciri fisik, seperti halnya selalu membawa golok kemana-mana, memakai peci dan pakaian serba hitam sudah tidak dipergunakan lagi. Bukti empirik akan kuatnya kultur Jawara sekitar Rawalini adalah pada tahun 1925 an, KH. Keming bin Muhayar mengadakan pesta pernikahan puteranya KH. Abdurrahim dan Hj Rohadah, Rawalini akan diserang para jawara sekitar. Tetapi KH. Keming mengundang sahabatnya sosok jawara santri yang bernama H. Pukara bin Pulung. jawara santri berkuda dari Bugel Tigaraksa ini membuat para jawara di sekitar Rawalini segan dan mengurungkan niatnya untuk menyerang kampung tersebut. Hingga demi mempererat silaturahmi, Hj. Maryam binti H.Pukara bin Pulung dijodohkan dengan keponakan KH. Keming yang bernama H. Samirin bin Khadijah binti Mari'ah binti Muhayyar. Bukti empirik kedua bahwa Rawalini memiliki kultur yang berbeda dari daerah sekitarnya yaitu, ketika Tubagus Musa asal Ciruas Serang sampai ke Rawalini dari pengejaran kolonial Belanda, diterima dengan baik oleh KH. Keming dan H. Damiri. Sampi akhirnya Tubagus Musa menikah dengan orang Rawalini dan menetap sampai akhir hayatnya. KH. Keming dan H. damiri adalah pejuang kemerdekaan Indonesia. Bersama Kiyai Banten lainya memandang hina pemerintah kolonial karena mereka telah merebut kekuasaan orang-orang islam. Dan hukumnya wajib diperangi. Hal tersebut mendapat dukungan penuh termasuk dari elit-elit sosial, bangsawan, dan para jawara. Hingga saat ini Rawalini dikenal sebagai pusat pengembangan Islam. Proses ini dimulai sejak tahun 1900 an oleh KH. Keming dengan cara mengirim anaknya KH. Abrurrahim pada tahun 1914 untuk menuntut ilmu Di Mekkah tepat ketika terjadinya peralihan kekuasaan dari Gubernur Syarif Husain Kerajaan Turki Usmani ke Kerajaan Bani Sa’ud (Saudi Arabia) Kepulangan Abdurrahim dari Mekkah sangat diharapkan ayahnya agar ia mengamalkan ilmunya sesuai dengan kultur dan budaya masyarakat Teluknaga. KH. Abudurrahim memiliki banyak santri. Dari sekian banyak santri, terdapat satu murid yang mencuri perhatiannya yaitu Ujang. Nama Kecil KH. Muhammad Hasan, anak dari keluarga yang tidak mampu asal Rawa Jambe. tapi Ketekunan dan semangat Ujang dalam mengaji menjadikan sang guru dan masyarakat Rawalini bergotong royong memberikan beasiswa agar anak ini bisa melanjutkan ke jenjang pesantren yang lebih tinggi dengan harapan agar dapat mentransfer ilmu yang di dapat untuk masyarakat sekitar. Dinarasikan dari berbagai sumber #ulama #ulamaindonesia #tangerang #kiyai #abuya

About