@epic.gardening1: #newsupdate #karens #crazy #police #fyp

jano_writes7
jano_writes7
Open In TikTok:
Region: US
Tuesday 01 September 2026 12:36:38 GMT
283
19
4
0

Music

Download

Comments

paymemine
paymemine :
dude in the dark car is pissed 🤣
2026-09-03 02:33:18
0
americannative152
joe :
🤣🤣🤣
2026-09-03 00:28:04
0
To see more videos from user @epic.gardening1, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Pulau Rubiah di Kota Sabang, Provinsi Aceh, menjadi salah satu tempat bersejarah bagi umat muslim khususnya karena menjadi pusat karantina jemaah haji pertama di Indonesia sejak era kolonial. Kini tempat karantina tersebut hanya menjadi saksi sejarah, bangunan tua yang begitu mewah pada masanya kini terbengkalai tanpa ada perhatian. Gedung ini terletak di tengah pulau Rubiah, Sabang. Lokasinya tidak jauh dari dermaga pulau Rubiah yang merupakan surga snorkeling bagi wisatawan. Bangunan haji di ujung barat Indonesia ini telah berdiri sejak masa kolonial pada tahun 1920 silam. Pada saat itu ada beberapa gedung yang dibangun di atas lahan seluas 10 hektar pada pulau tersebut. Namun, saat ini hanya tersisa dua bangunan tua yang sudah tidak terawat, sedangkan bangunan lainnya telah lapuk oleh usia serta telah melewati berbagai fenomena. Di masa Hindia Belanda, jemaah haji yang akan berangkat dan pulang dari Makkah akan menetap dulu di pusat karantina selama lebih kurang 1 bulan. Berdasarkan berbagai rujukan, ada dua lokasi karantina haji di masa itu, yaitu Rubiah dan Pulau Onrust, Kepulauan Seribu yang saat ini masuk dalam wilayah Provinsi DKI Jakarta. Pulau Rubiah menjadi pusat karantina bagi jamaah haji Aceh dan daerah lainnya di Sumatera. Sedangkan Onrust, menampung jamaah haji di pulau Jawa. Pendiri Sabang Heritage Society (SHS), Albina Ar Rahman mengatakan,  pemerintah kolonial Belanda mendirikan pusat karantina haji untuk kepentingan ekonomi dan politik. Gedung karantina haji dibangun untuk menarik simpati masyarakat Aceh. Ia menuturkan, Belanda tidak mau ambil pusing, seluruh jamaah haji yang baru pulang diwajibkan karantina hingga ditetapkan statusnya terbebas dari wabah penyakit. Sebab pada masa itu belum ada vaksin. Seiring berjalannya waktu, saat Jepang datang, Belanda terpaksa angkat kaki dari Sabang. Gedung karantina haji berubah menjadi barak tentara dan karantina haji di Aceh akhirnya terhenti. Baru pada tahun 1944, Belanda kembali dan terjadi pertempuran dengan tentara Jepang sehingga beberapa bangunan pusat karantina haji hancur dihantam peluru Belanda. Sejak saat itu, pulau Rubiah tidak lagi menjadi pusat karantina haji. Namun kota Sabang masih menjadi jalur pemberangkatan jamaah haji ke tanah suci hingga tahun 70-an melalui kampung haji. [] . Sumber Teks : Kanwil Kemenag Aceh
Pulau Rubiah di Kota Sabang, Provinsi Aceh, menjadi salah satu tempat bersejarah bagi umat muslim khususnya karena menjadi pusat karantina jemaah haji pertama di Indonesia sejak era kolonial. Kini tempat karantina tersebut hanya menjadi saksi sejarah, bangunan tua yang begitu mewah pada masanya kini terbengkalai tanpa ada perhatian. Gedung ini terletak di tengah pulau Rubiah, Sabang. Lokasinya tidak jauh dari dermaga pulau Rubiah yang merupakan surga snorkeling bagi wisatawan. Bangunan haji di ujung barat Indonesia ini telah berdiri sejak masa kolonial pada tahun 1920 silam. Pada saat itu ada beberapa gedung yang dibangun di atas lahan seluas 10 hektar pada pulau tersebut. Namun, saat ini hanya tersisa dua bangunan tua yang sudah tidak terawat, sedangkan bangunan lainnya telah lapuk oleh usia serta telah melewati berbagai fenomena. Di masa Hindia Belanda, jemaah haji yang akan berangkat dan pulang dari Makkah akan menetap dulu di pusat karantina selama lebih kurang 1 bulan. Berdasarkan berbagai rujukan, ada dua lokasi karantina haji di masa itu, yaitu Rubiah dan Pulau Onrust, Kepulauan Seribu yang saat ini masuk dalam wilayah Provinsi DKI Jakarta. Pulau Rubiah menjadi pusat karantina bagi jamaah haji Aceh dan daerah lainnya di Sumatera. Sedangkan Onrust, menampung jamaah haji di pulau Jawa. Pendiri Sabang Heritage Society (SHS), Albina Ar Rahman mengatakan,  pemerintah kolonial Belanda mendirikan pusat karantina haji untuk kepentingan ekonomi dan politik. Gedung karantina haji dibangun untuk menarik simpati masyarakat Aceh. Ia menuturkan, Belanda tidak mau ambil pusing, seluruh jamaah haji yang baru pulang diwajibkan karantina hingga ditetapkan statusnya terbebas dari wabah penyakit. Sebab pada masa itu belum ada vaksin. Seiring berjalannya waktu, saat Jepang datang, Belanda terpaksa angkat kaki dari Sabang. Gedung karantina haji berubah menjadi barak tentara dan karantina haji di Aceh akhirnya terhenti. Baru pada tahun 1944, Belanda kembali dan terjadi pertempuran dengan tentara Jepang sehingga beberapa bangunan pusat karantina haji hancur dihantam peluru Belanda. Sejak saat itu, pulau Rubiah tidak lagi menjadi pusat karantina haji. Namun kota Sabang masih menjadi jalur pemberangkatan jamaah haji ke tanah suci hingga tahun 70-an melalui kampung haji. [] . Sumber Teks : Kanwil Kemenag Aceh

About