@square.bar.hl: Tối thứ 5 #squarebar #barhalong #baichay #anchoihalong #xuhuong

Square Bar Hạ long
Square Bar Hạ long
Open In TikTok:
Region: VN
Friday 04 September 2026 12:31:54 GMT
1331
24
1
5

Music

Download

Comments

square.bar.hl
Square Bar Hạ long :
2026-09-04 13:18:22
0
To see more videos from user @square.bar.hl, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

“Semakin banyak berdzikir, mengapa gejolak nafsu justru terasa semakin kuat?” Mungkin bukan dzikirmu yang salah… tetapi cahaya mulai menyingkap apa yang selama ini tersembunyi di dalam hati. Murid: Guru… mengapa sejak aku memperbanyak dzikir, justru gejolak dalam diriku terasa semakin kuat? Guru: Apa yang paling kau rasakan, Anakku? Murid: Nafsu… terutama gejolak syahwat. Aku takut dzikirku salah. Bukankah seharusnya semakin dekat kepada Allah, hati semakin tenang? Guru: Dengarkan baik-baik. Ketika cahaya masuk ke sebuah ruangan yang lama gelap, apakah yang pertama kali terlihat hanya keindahan? Murid: Tidak, Guru. Debu, kotoran, dan segala yang selama ini tersembunyi… akan terlihat. Guru: Begitulah hati. Dzikir bukan selalu membuatmu langsung melihat cahaya. Kadang, dzikir justru membuatmu melihat gelap yang selama ini tidak kau sadari. Murid: Jadi gejolak itu bukan tanda dzikirku salah? Guru: Belum tentu itu kesalahan dzikirmu. Bisa jadi cahaya sedang menyingkap sesuatu yang selama ini bersembunyi di dalam dirimu. Jangan buru-buru mengikuti gejolak itu. Jangan pula membencinya. Murid: Lalu apa yang harus kulakukan, Guru? Guru: Sadari. Jangan menjadi budak dari apa yang muncul di dalam dirimu. Syahwat adalah energi. Jika engkau biarkan nafsu memimpin, ia akan menyeretmu ke bawah. Tetapi jika engkau belajar mengendalikannya dengan kesadaran, menjaga pandangan, menjaga pikiran, memperbanyak dzikir, dan mengarahkannya kepada Allah… energi itu dapat berubah menjadi syauq—kerinduan. Murid: Dari syahwat menjadi syauq? Guru: Ya. Dari dorongan jasad menuju kerinduan ruh. Dari keinginan untuk memiliki… menjadi kerinduan untuk mendekat. Dari sibuk mencari kenikmatan dunia… menjadi rindu kepada Sang Pemilik segala kenikmatan. Murid: Jadi yang harus kuhancurkan bukan gejolak itu? Guru: Bukan. Yang harus kau taklukkan adalah perbudakanmu kepadanya. Karena seorang salik bukan orang yang tidak memiliki nafsu. Seorang salik adalah orang yang belajar agar nafsunya tidak menjadi tuan. Murid: Lalu bagaimana aku tahu bahwa cahaya itu benar-benar mulai bekerja? Guru: Ketika sesuatu yang dahulu langsung kau ikuti… kini mampu kau lihat tanpa harus menurutinya. Saat gejolak datang, kau tidak panik. Kau tidak tenggelam. Kau hanya berkata dalam hati:
“Semakin banyak berdzikir, mengapa gejolak nafsu justru terasa semakin kuat?” Mungkin bukan dzikirmu yang salah… tetapi cahaya mulai menyingkap apa yang selama ini tersembunyi di dalam hati. Murid: Guru… mengapa sejak aku memperbanyak dzikir, justru gejolak dalam diriku terasa semakin kuat? Guru: Apa yang paling kau rasakan, Anakku? Murid: Nafsu… terutama gejolak syahwat. Aku takut dzikirku salah. Bukankah seharusnya semakin dekat kepada Allah, hati semakin tenang? Guru: Dengarkan baik-baik. Ketika cahaya masuk ke sebuah ruangan yang lama gelap, apakah yang pertama kali terlihat hanya keindahan? Murid: Tidak, Guru. Debu, kotoran, dan segala yang selama ini tersembunyi… akan terlihat. Guru: Begitulah hati. Dzikir bukan selalu membuatmu langsung melihat cahaya. Kadang, dzikir justru membuatmu melihat gelap yang selama ini tidak kau sadari. Murid: Jadi gejolak itu bukan tanda dzikirku salah? Guru: Belum tentu itu kesalahan dzikirmu. Bisa jadi cahaya sedang menyingkap sesuatu yang selama ini bersembunyi di dalam dirimu. Jangan buru-buru mengikuti gejolak itu. Jangan pula membencinya. Murid: Lalu apa yang harus kulakukan, Guru? Guru: Sadari. Jangan menjadi budak dari apa yang muncul di dalam dirimu. Syahwat adalah energi. Jika engkau biarkan nafsu memimpin, ia akan menyeretmu ke bawah. Tetapi jika engkau belajar mengendalikannya dengan kesadaran, menjaga pandangan, menjaga pikiran, memperbanyak dzikir, dan mengarahkannya kepada Allah… energi itu dapat berubah menjadi syauq—kerinduan. Murid: Dari syahwat menjadi syauq? Guru: Ya. Dari dorongan jasad menuju kerinduan ruh. Dari keinginan untuk memiliki… menjadi kerinduan untuk mendekat. Dari sibuk mencari kenikmatan dunia… menjadi rindu kepada Sang Pemilik segala kenikmatan. Murid: Jadi yang harus kuhancurkan bukan gejolak itu? Guru: Bukan. Yang harus kau taklukkan adalah perbudakanmu kepadanya. Karena seorang salik bukan orang yang tidak memiliki nafsu. Seorang salik adalah orang yang belajar agar nafsunya tidak menjadi tuan. Murid: Lalu bagaimana aku tahu bahwa cahaya itu benar-benar mulai bekerja? Guru: Ketika sesuatu yang dahulu langsung kau ikuti… kini mampu kau lihat tanpa harus menurutinya. Saat gejolak datang, kau tidak panik. Kau tidak tenggelam. Kau hanya berkata dalam hati: "Aku melihatmu… tetapi aku tidak harus mengikutimu." Saat itulah kesadaran mulai mengambil tempat. Dan perlahan… yang dahulu menjadi api nafsu, dapat berubah menjadi cahaya kerinduan. Murid: Guru… berarti jalan menuju Allah bukan berarti tidak ada badai? Guru: Justru terkadang, cahaya membuatmu untuk pertama kalinya melihat badai yang selama ini ada di dalam dirimu. Jangan takut ketika gelap itu terlihat. Teruslah menyalakan dzikir. Sebab ketika cahaya semakin terang, yang tersembunyi akan semakin jelas. Dan ketika nafsu tidak lagi menjadi tuan… kerinduan kepada Allah mulai mengambil alih tempatnya. Murid: Aku mengerti, Guru… Guru: Kalau begitu, jangan hanya mencari cahaya. Belajarlah menjadi tempat di mana cahaya itu menetap. **Temukan kitab tasawuf pilihanmu di Showcase. #Tasawuf #Dzikir #Nafsu #TazkiyatunNafs #kikotasawuf

About