@nurse_pris: The viral cedar garlands from last year are BACK 👀 These always sell out, and they make your home look instantly cozy + expensive. 🌲🤎 #ChristmasDecor #ChristmasHomeDecor #CedarGarland #HolidayDecor #HomeDecor cedar garland, faux cedar garland, Christmas garland, Christmas home decor, viral Christmas decor, Christmas decorating ideas, cozy Christmas decor, aesthetic Christmas decor, mantel garland, staircase garland, holiday home decor, farmhouse Christmas decor

pris
pris
Open In TikTok:
Region: US
Tuesday 22 September 2026 20:32:15 GMT
8662
15
0
3

Music

Download

Comments

There are no more comments for this video.
To see more videos from user @nurse_pris, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Satu kalimat Rumi tentang kesepian ini mungkin akan mengubah cara kita memandang waktu sendirian yang selama ini terasa menakutkan. Tetapi kalimat itu bukan tentang bagaimana menemukan seseorang agar kita tidak lagi kesepian. Justru sebaliknya. Rumi mengajak kita melihat kesendirian dari arah yang jauh lebih dalam: sebagai pengalaman keterpisahan yang mungkin sedang menunjukkan kepada kita sesuatu tentang asal-usul kerinduan di dalam diri. Dalam pembukaan *Masnavi*, Rumi menghadirkan metafora yang sangat kuat: seruling buluh yang telah dipisahkan dari rumpunnya. Ia menangis, mengeluh, dan menyanyikan kisah tentang keterpisahan. Bagi Rumi, tangisan seruling bukan sekadar kesedihan karena kehilangan tempat. Ia menjadi simbol manusia yang merasakan adanya sesuatu yang hilang jauh di dalam dirinya, sesuatu yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh keramaian dunia. Rumi menulis bahwa siapa pun yang jauh dari asalnya akan terus merindukan saat ketika ia kembali bersatu dengannya. Di sinilah kesepian memperoleh makna yang berbeda. Selama ini kita menganggap kesepian sebagai keadaan ketika tidak ada orang di sekitar kita. Kita menyebut diri kesepian ketika tidak ada pesan yang masuk, ketika tidak ada seseorang yang bertanya bagaimana keadaan kita, ketika tidak ada bahu untuk bersandar, atau ketika malam terasa terlalu panjang karena kita harus melewatinya seorang diri. Tetapi Rumi seakan bertanya lebih jauh: Bagaimana jika yang sebenarnya kita rindukan bukan sekadar seseorang? Bagaimana jika ada kerinduan yang lebih tua daripada semua hubungan manusia? Sebab ada orang yang dikelilingi banyak manusia tetapi tetap merasa kosong. Ada seseorang yang memiliki pasangan tetapi tetap merasa tidak dipahami. Ada yang memiliki ribuan pengikut tetapi diam-diam merasa tidak dikenal oleh siapa pun. Dan ada pula seseorang yang duduk sendirian di sebuah kamar, tetapi justru untuk pertama kalinya merasa dekat dengan sesuatu yang selama ini hilang dari hidupnya. Maka kesepian tidak selalu berarti kekurangan manusia. Kadang-kadang ia adalah tanda bahwa hati kita sedang mencari sesuatu yang tidak dapat diberikan sepenuhnya oleh manusia. Inilah salah satu kedalaman metafora seruling Rumi. Seruling menghasilkan suara karena ia telah mengalami keterpisahan. Kesedihannya justru menjadi musik. Luka keterpisahannya berubah menjadi bahasa. Bukankah manusia juga demikian? Sering kali kita baru mulai memahami diri sendiri setelah kehilangan seseorang. Kita baru memahami nilai kehadiran setelah mengalami ketidakhadiran. Kita baru belajar melepaskan setelah sesuatu yang kita cintai tidak dapat lagi kita genggam. Dan kita baru bertanya tentang Tuhan ketika semua hal yang selama ini kita jadikan tempat bersandar ternyata tidak mampu menyelamatkan kita dari kesunyian. Karena itu, mungkin tidak semua kesendirian harus segera diobati. Ada kesunyian yang perlu didengarkan. Ada ruang kosong yang tidak harus buru-buru diisi. Ada malam ketika kita tidak perlu mencari siapa pun, melainkan cukup duduk bersama diri sendiri dan membiarkan pertanyaan-pertanyaan yang selama ini kita hindari muncul ke permukaan. Siapa aku ketika tidak ada seorang pun yang sedang melihat? Apa yang sebenarnya kucari dari semua perhatian manusia? Mengapa aku begitu takut tidak dibutuhkan? Mengapa kepergian seseorang membuatku merasa seolah-olah seluruh hidupku kehilangan makna? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu memang menyakitkan. Tetapi mungkin justru karena itulah ia penting. Sebab sebagian besar hidup kita dihabiskan untuk melarikan diri dari pertanyaan yang paling penting. Kita mengisi setiap jeda dengan suara. Kita membuka ponsel ketika sunyi. Kita mencari percakapan ketika hati gelisah. Kita mengejar perhatian ketika merasa tidak berharga. Kita mencari seseorang untuk mengisi ruang kosong yang bahkan kita sendiri tidak mengerti bentuknya. Padahal bisa jadi, ruang kosong itu bukan kesalahan. Bisa jadi ia adalah pintu. #ribath💫 #ustadzgaul
Satu kalimat Rumi tentang kesepian ini mungkin akan mengubah cara kita memandang waktu sendirian yang selama ini terasa menakutkan. Tetapi kalimat itu bukan tentang bagaimana menemukan seseorang agar kita tidak lagi kesepian. Justru sebaliknya. Rumi mengajak kita melihat kesendirian dari arah yang jauh lebih dalam: sebagai pengalaman keterpisahan yang mungkin sedang menunjukkan kepada kita sesuatu tentang asal-usul kerinduan di dalam diri. Dalam pembukaan *Masnavi*, Rumi menghadirkan metafora yang sangat kuat: seruling buluh yang telah dipisahkan dari rumpunnya. Ia menangis, mengeluh, dan menyanyikan kisah tentang keterpisahan. Bagi Rumi, tangisan seruling bukan sekadar kesedihan karena kehilangan tempat. Ia menjadi simbol manusia yang merasakan adanya sesuatu yang hilang jauh di dalam dirinya, sesuatu yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh keramaian dunia. Rumi menulis bahwa siapa pun yang jauh dari asalnya akan terus merindukan saat ketika ia kembali bersatu dengannya. Di sinilah kesepian memperoleh makna yang berbeda. Selama ini kita menganggap kesepian sebagai keadaan ketika tidak ada orang di sekitar kita. Kita menyebut diri kesepian ketika tidak ada pesan yang masuk, ketika tidak ada seseorang yang bertanya bagaimana keadaan kita, ketika tidak ada bahu untuk bersandar, atau ketika malam terasa terlalu panjang karena kita harus melewatinya seorang diri. Tetapi Rumi seakan bertanya lebih jauh: Bagaimana jika yang sebenarnya kita rindukan bukan sekadar seseorang? Bagaimana jika ada kerinduan yang lebih tua daripada semua hubungan manusia? Sebab ada orang yang dikelilingi banyak manusia tetapi tetap merasa kosong. Ada seseorang yang memiliki pasangan tetapi tetap merasa tidak dipahami. Ada yang memiliki ribuan pengikut tetapi diam-diam merasa tidak dikenal oleh siapa pun. Dan ada pula seseorang yang duduk sendirian di sebuah kamar, tetapi justru untuk pertama kalinya merasa dekat dengan sesuatu yang selama ini hilang dari hidupnya. Maka kesepian tidak selalu berarti kekurangan manusia. Kadang-kadang ia adalah tanda bahwa hati kita sedang mencari sesuatu yang tidak dapat diberikan sepenuhnya oleh manusia. Inilah salah satu kedalaman metafora seruling Rumi. Seruling menghasilkan suara karena ia telah mengalami keterpisahan. Kesedihannya justru menjadi musik. Luka keterpisahannya berubah menjadi bahasa. Bukankah manusia juga demikian? Sering kali kita baru mulai memahami diri sendiri setelah kehilangan seseorang. Kita baru memahami nilai kehadiran setelah mengalami ketidakhadiran. Kita baru belajar melepaskan setelah sesuatu yang kita cintai tidak dapat lagi kita genggam. Dan kita baru bertanya tentang Tuhan ketika semua hal yang selama ini kita jadikan tempat bersandar ternyata tidak mampu menyelamatkan kita dari kesunyian. Karena itu, mungkin tidak semua kesendirian harus segera diobati. Ada kesunyian yang perlu didengarkan. Ada ruang kosong yang tidak harus buru-buru diisi. Ada malam ketika kita tidak perlu mencari siapa pun, melainkan cukup duduk bersama diri sendiri dan membiarkan pertanyaan-pertanyaan yang selama ini kita hindari muncul ke permukaan. Siapa aku ketika tidak ada seorang pun yang sedang melihat? Apa yang sebenarnya kucari dari semua perhatian manusia? Mengapa aku begitu takut tidak dibutuhkan? Mengapa kepergian seseorang membuatku merasa seolah-olah seluruh hidupku kehilangan makna? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu memang menyakitkan. Tetapi mungkin justru karena itulah ia penting. Sebab sebagian besar hidup kita dihabiskan untuk melarikan diri dari pertanyaan yang paling penting. Kita mengisi setiap jeda dengan suara. Kita membuka ponsel ketika sunyi. Kita mencari percakapan ketika hati gelisah. Kita mengejar perhatian ketika merasa tidak berharga. Kita mencari seseorang untuk mengisi ruang kosong yang bahkan kita sendiri tidak mengerti bentuknya. Padahal bisa jadi, ruang kosong itu bukan kesalahan. Bisa jadi ia adalah pintu. #ribath💫 #ustadzgaul

About